Assalamu'alaikum, teman-teman.
Kali ini aku pengin kembali berbagi kisah. Sebenarnya aku nggak pengin bahas ini, tapi aku rasa semua orang wajib tau salah satu kisahku yang ini. Seperti biasa, buang yang buruk, amalkan jika bermanfaat.
Aku pengin cerita. Ketika aku menjemput takdirku sendiri.
Ya. Benar kata mamaku, kita itu menjemput takdir, bukan takdir yang menghampiri kita.
Sebagai contohnya, maut. Banyak orang yang bunuh diri di kereta, di jalan raya, dan di tempat lainnya yang nggak diinginkan. Tapi, percuma aja. Itu sudah bagian dari takdir yang kita jemput. Mau bagaimanapun kalau takdirnya meninggal di kasur pun, ya pasti akan meninggal di kasur. Suatu saat tiba-tiba pengin tidur di kasur, eh ternyata lagi menjemput takdir kematiannya di kasur.
Sama halnya dengan rezeki. Rezeki itu dijemput. Karena rezeki sebagian dari takdir. Menjemput rezekinya dengan cara berusaha, bekerja. Bukan leha-leha.
Sama halnya pula dengan jodoh. Jodoh perilal memperbaiki diri, serta mencari. Sebelumnya, kita perbaiki diri akhlak dulu. Sudahkah kita beribadah karena Allah? Lantas Allah akan memperbagus perangai kita, serta temukan kita dengan jodoh yang sebaya akhlaknya dengan kita, saat masa pencarian nanti.
Tapi di sini aku nggak mau cerita perihal jodoh. Nggak pengin cerita perihal cinta.
Sebut saja ujian.
Atau musibah.
Kuharap, kita selalu dalam kesabaran di segala kondisi yang menerpa.
Saat itu, usiaku bertambah satu tahun.
Ralat. Usiaku berkurang satu tahun mendekati kematian. Ya. Kini umurku sudah tujuh belas tahun. Sudah resmi jadi warga asli negara Indonesia merdeka, hehe.
Semua berjalan seperti biasanya. Nggak ada yang spesial. Karena nggak perlu ada yang di spesialkan saat ulang tahun. Menurutku begitu.
Esok harinya, tepat di hari minggu. Aku ikut ke acara keluarga. Sampai zuhur. Setelah itu kita pulang.
"Ma, beli donat dulu." aku merengek.
"Gak usah, ribet. Kapan-kapan aja. Masih bisa besok, kan?" ucap abaku menolak.
"Ih, nggak mau. Mumpung lagi di sini. Sekalian beli," aku tetap memaksa.
Akhirnya, aku, mama, kedua kakakku, dan suami dari kakakku serta anaknya turut pergi ke mall. Menemaniku yang pengin beli donat. Abaku pulang sendiri.
"Mampir dulu yuk, liat sepatu." kata salah satu kakakku, pada mama.
Mama mengiyakan. Lantas kami berenam mampir ke sebuah toko di salah satu mall tersebut sebelum membeli donat.
Nah, di sinilah aku menjemput salah satu takdirku.
Kakakku dengan anaknya serta suaminya, mencar ke toko sepatu laki-laki. Aku membuntuti mamaku di belakang. Diikuti kakakku yang satu lagi.
Semakin lama, mama jalan agak cepat. Aku memperlambat. Ikut memperhatikan sepatu sendal yang sama sekali nggak aku minati. Aku nggak suka shopping soalnya.
Aku sedikit berhenti di segerombolan ibu-ibu. Tiba-tiba, ada salah satu ibu-ibu menabrakku. Aku refleks kaget. Sungguh. Bukan karena ibu-ibu itu yang telah menabrakku. Tapi karena kantong baju gamisku yang langsung terasa janggal usai ditabrak ibu-ibu itu.
"Ya Allah!" aku cemas bukan main. Aku merogoh kantong.
"Hape gue?"
Sontak aku menoleh ke belakang, ke arah ibu-ibu yang sedang menggandeng tangan anaknya. Juga menatap bingung ke arahku. Aku menatapnya curiga, cemas, takut. Aku nggak bisa teriak apa-apa saat itu. Padahal, aku pengin banget nangis.
Aku langsung ke kakakku yang sedari tadi agak jauh di belakangku.
"Hape gue ilang," ungkapku tiba-tiba.
"Serius? Tadi lu taro mana?"
"Di kantong, tapi sekarang nggak ada."
"Sama mama kali, tadi kan lu titipin ke mama." kata kakakku memastikan.
"Enggak, sebelum ke sini, gue udah minta ke mama. Gue taro kantong hapenya."
"Jatoh, kali. Coba cari, ayo!" kakakku turut panik. Ikut membantuku mencari hape-ku.
Hasilnya nihil.
"Coba bilang mama." kata kakakku akhirnya.
Sebenarnya aku takut bilangnya. Cuma ya itu harus aku lakukan. Pasti mama bakalan marah.
Usai menjelaskan sama mama, awalnya mama marah, namun akhirnya ikut membantu mencarikan.
Kakakku dan suaminya baru datang menghampiri. Bertanya kenapa, lantas ikut cemas.
"Coba, minta liatin CCTV." pintaku tiba-tiba.
"Emang kita orang terhormat. Mana mau mereka menolong kita buat diliatin kamera CCTV-nya." respon salah satu kakakku.
"Coba dulu," aku tetap memaksa.
Akhirnya mama bertanya ke salah satu SPG. Katanya, coba pinta ke ruang pusat informasi di lantai dua.
Aku, kakakku, dan mama bergegas ke lantai dua menuju ruang pusat informasi.
Usai menjelaskan permasalahannya secara detail. Aku diminta menghadap ke arah CCTV, agar yang mengontrol kamera CCTV dapat mencari posisiku di kamera CCTV saat permasalahan tadi.
"Kira-kira satu atau dua jam-an, kami baru bisa memberitahu tayangan CCTV-nya." kata seorang staff pusat informasi.
Akhirnya kami izin pamit dan meninggalkan nomor hape kakakku agar bisa dihubungi nantinya.
Kakakku berusaha menolong. Dia mencari informasi, cara ketika hape di copet.
"Nih, Fa, kita ikutin GPS yang ada di hape lu." kakakku memberitahu. Usai aku mengetik alamat email yang tersimpan dihapeku itu.
"Masih bisa dikejar, ma. Masih di sekitar mall. Dia belum pergi jauh."
Mama refleks membantu. "Ayo, selagi masih bisa kejar dengan jalan kaki!"
Aku mengiyakan.
Nggak jadi beli sepatu hari itu. Bahkan aku nggak jadi beli donat yang kuinginkan saat itu. Kami mengejar pencopet.
Kita bingung. Pasti kalian tau kan, betapa kurang jelasnya lokasi maps di hape. Kita berjalan tergesa ke arah stasiun. Tapi ternyata kita salah arah. Kita kembali memutar arah. Berjalan kaki.
Satu pemikiranku saat itu. "Ya Allah, apa aku kurang taat pada-Mu? Mungkin aku kurang zikir padamu. Apa aku kurang sedekah? Aku kurang ibadah?" sepanjang jalan aku bersalawat. Berharap mendapat syafaat. Seandainya ibu-ibu itu berniat mengembalikan hapeku, nggak jadi mencopetnya.
Pernahkah kalian membayangkan, dihari yang bahagia, hari ulang tahun, lantas Allah memberi musibah yang nggak pernah kita duga sebelumnya? Musibah yang nggak pernah kita harapkan kedatangannya. Takdir yang nggak akan pernah kita jemput keberadaannya. Itulah yang kurasakan. Merasa menyesal karena merengek tadi.
Setan seolah membuat pertahanan iman kita runtuh, "seandainya tidak begini, pasti ini semua nggak bakal terjadi." begitulah bisik setan. Menolak datangnya takdir.
"Baca laa ilaa ha illa Allah. Supaya ibu-ibunya bisa ke kejar." kata mama disepanjang jalan.
Aku turut ber-tahlil. Serta bersalawat.
Kemungkinan buruk menghantuiku sepanjang jalan. Bagaimana kalau ibu-ibu itu lagi sama segerombolan preman teman-temannya. Lantas saat aku tiba di sana, kita dikeroyok massal karena menghampiri hape yang baru saja ia copet. Pikiranku mengada-ngada hingga situ.
"Ini namanya takdir. Seharusnya kita nggak usah ke mall." kata mama sembari berjalan beriringan di sampingku.
"Mama sih, lagian tadi segala liat sepatu sendal. Seharusnya langsung aja beli donat." aku membela diri.
"Udah-udah, jangan main salah-salahan. Sekarang kita kejar dulu ini. GPS-nya bikin aku bingung. Gak usah main salah-salahan." kata kakakku melerai.
Saat kakakku kebingungan arah, kami meminta tolong pada ojek online yang kebetulan ada dipinggir jalan.
"Bang, ini di jalan mana ya, arahnya?" tanya kakakku.
Mohon izin ojek online itu melihat hape kakakku untuk memastikan arahnya. "Oh, ini mah, di arah sana. Nyebrang dulu, dek."
Usai berterima kasih, kami kembali mengejar arah.
Alhamdulillah-nya, lokasi GPS yang ingin kita kejar diam di tempat. Masih di sekitaran mall. Semoga bisa kita temukan.
Sepanjang jalan aku nggak berhenti salawat. Aku percaya, Allah Maha Mempermudah segala urusan hamba-Nya. Saat itu aku merasa yakin kalau hape aku bisa ditemukan.
Setelah menyeberang dan kembali mencari, kami seolah kehilangan jejak. Kami kembali bertanya pada ojek online di dekat kami. Sembari menceritakan kejadian saat aku kecopetan di dalam mall.
"Oh, pasti hapenya udah dimatikan, dek. Soalnya, selagi baterai hape masih nyala, GPS masih bisa berfungsi di cari. Tapi, hapenya mungkin udah dimatiin dari tadi. Makanya, GPS-nya nggak gerak dari tadi. Dia matiin hape kamu di situ."
Jleb!
Pupus sudah harapanku mengejar pencopet itu.
Usai berterima kasih pada ojek online itu, mama memutuskan untuk pulang ke rumah. Aku menurut.
Sepanjang perjalanan mama terus menasihatiku. "Ikhlasin. Udah jadi takdir kamu buat keilangan hape. Padahal aba udah bilang buat nggak usah ke mall. Tapi kamu maksa buat tetep beli donat. Itu namanya kamu ngejemput takdir kamu sendiri. Berdoa aja, semoga diganti sama Allah lebih dari itu."
Aku diam, mendengarkan. Mencoba ikhlas.
"Kamu masih mending cuma kehilangan hape. Dulu mama pas abang kamu meninggal, sedihnya minta ampun. Mama nangis berhari-hari. Rasanya sakit banget ditinggal sama anak. Tapi untung ada aba kamu yang nasihatin mama terus. Karena memang di dunia ini nggak ada yang abadi. Semuanya pasti akan meninggal. Jadi kamu nggak perlu nangisin hape doang. Hape mah, bisa dibeli. Tapi kalau kehilangan nyawa nggak bisa diganti. Dan kita pasti bakalan meninggal juga, Fa."
Dan sangat kebetulan, kejadian yang aku alami bertepatan dengan adanya musibah tsunami. Memakan banyak korban. Kehilangan banyak orang kesayangan.
Lagi-lagi aku banyak mengambil pelajaran.
"Tuh, liat, yang tsunami banyak kehilangan nyawa. Kamu cuma hape, dia lebih sedih lagi karena kehilangan keluarganya."
Astaghfirullah.
Lagi-lagi aku mencoba mengikhlaskan.
Jujur, sebenarnya aku nggak sedih saat menerima kenyataan hapeku kecopetan. Tapi aku nyesek saat momen-momen ketika hape aku di ambil.
Untuk yang pertama kalinya, aku ngerasain rasanya kecopetan. Biasanya, selalu dengar kisah orang lain, sembari bergidik ngeri. Dan kini aku merasakannya sendiri. Bahkan di hari pertama aku menjalani usia kedewasaanku di umur tujuh belas tahun.
"Isi hape, gue?" aku kembali mengeluh. Teringat betapa pentingnya isi yang ada di dalam hapeku. Salah satunya aplikasi untuk aku ngetik di hape itu. Apa aku akan kehilangan semuanya?
"Oh iya, semua aplikasi masih bisa dibuka via email." sedetik kemudian aku bersyukur, lega.
Berkali-kali aku berusaha ikhlas. "Aku kurang sedekah. Aku kurang ibadah. Mungkin ibu-ibu itu lagi butuh uang untuk menghidupi keluarganya."
Ikhlas.
Sabar.
Tawakkal.
Sesampainya di rumah. Mama bercerita ke aba.
"Makanya, dengerin omongan orang tua."
Memang dari awal sudah jadi salahku. Seharusnya aku dengerin omongan aba yang nggak perlu ke mall saat itu. Dan nggak seharusnya pula aku nggak taruh hapeku di kantong. Seperti mengundang pencopet datang.
Ya. Kini aku telah menjemput takdirku. Allah sudah mentakdirkan aku untuk kehilangan.
Dan dari kehilangan ini, aku banyak mendapat pelajaran. Harus lebih banyak bersyukur dengan apa yang masih aku miliki. Dan pastinya harus lebih berhati-hati.
Dari kehilangan ini, aku belajar ikhlas. Semoga Allah ganti yang lebih baik. Semoga aku bisa umrah ataupun hal baik lainnya.
Dari kehilangan ini, aku hanya berharap agar Allah nggak mencopet hatiku.
Ya. Jangan Engkau palingkan hatiku dari mengingat-Mu. Jangan sampai aku dibuat terlena bahkan memiliki hati yang keras hingga sulit bertakwa.
Asal Allah tak mencabut nikmatnya iman di dalam hatiku.
Dari kehilangan ini, semoga aku semakin bertakwa.
Jangan lupa bersyukur, ikhlas, dan berpikir positif pada Allah. Karena Allah Maha Mengetahui yang terbaik untuk hamba-Nya❤
Comments
Post a Comment