Skip to main content

Kita adalah Pemimpin!

Dari Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam., beliau bersabda. "Ketahuilah! Masing-masing kamu adalah pemimpin, dan masing-masing kamu akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpin. Seorang raja yang memimpin rakyat adalah pemimpin, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin anggota keluarganya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap mereka. Sang istri juga pemimpin bagu rumah tangga serta anak-suaminya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya. Seorang budak juga pemimpin atas tuannya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpinnya. Ingatlah! Masing-masing kamu adalah pemimpin dan masing-masing kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya."
(HR. Ibnu Umar)

Tiap-tiap dari kita adalah pemimpin.

Kenapa begitu?

Memang begitu.

Seorang ibu menjadi pemimpin yang harus bertanggungjawab atas anak-anaknya. Bagaimana sang ibu harus mendidik anaknya dengan baik, menjadikan anaknya sebagai anak yang cerdas untuk nusa dan bangsa.

Seorang suami menjadi pemimpin yang harus bertanggungjawab atas istri dan anak-anaknya. Bagaimana seorang suani harus mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sendiri, serta membahagiakan istri dan anaknya.

Seorang guru menjadi pemimpin yang harus bertanggungjawab pada murid-muridnya. Bagaimana para guru harus mengajarkan dan mencerdaskan para murid untuk menjadikannya sebagai murid yang memiliki budi pekerti luhur.

Seorang dokter menjadi pemimpin yang harus bertanggungjawab dengan pasiennya. Bagaimana dokter harus bekerja menyembuhkan penyakit yang di derita para pasien.

Begitu juga dengan yang lainnya.

Bahkan supir kendaraan pun menjadi pemimpin yang harus bertanggungjawab atas penumpangnya. Bagaimana jika tidak peduli akan penumpangnya, sudah pasti supir itu akan mengendarai kendaraan dengan ugal-ugalan lantas tak peduli nasib penumpangnya akan selamat sampai tujuan atau tidak.

Ya.

Tiap-tiap dari kita adalah pemimpin!

Tiap-tiap dari kita memiliki tanggung jawabnya.

Tiap-tiap dari kita memiliki tugas yang harus diemban.

Apakah kita; yang seorang diri, juga memiliki tugas dan tanggung jawab.

Tentu, iya.

Karena sejak kita terlahir di bumi, Allah sudah menjadikan kita memiliki tanggung jawabnya masing-masing. Terlahir dari orang tua yang beragama apa kita, laki-laki atau perempuankah kita.

Ketika kita sudah ditakdirkan Allah untuk hidup di bumi. Sudah sepatutnya kita merasa bertanggungjawab dengan apa yang sudah Allah berikan.

Berbakti pada kedua orang tua, misalnya. Itu adalah salah satu tugas kita yang harus dijalani. Sebagai pemimpin yang baik, tentu sudah semestinya turut berbakti pada kedua orang tua.

Tidak ada manusia yang terlahir tidak menjadi pemimpin. Dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya.

Sama halnya dengan pemimpin negara yang mengatur urusan negara dan rakyatnya. Sudah semestinya bertanggungjawab akan kemakmuran rakyat, serta berlaku adil pada semua kalangan.

Apa jadinya jika banyak para pemimpin yang dzalim, berlaku curang, tidak adil, jahat, tetap tegak memimpin urusan negara? Apa rakyatnya akan hidup damai? Apa rakyatnya akan hidup tenang?

Seperti yang terdapat pada kisah salah satu Khalifah di bumi, yang membuatku kagum akan tanggungjawabnya ketika menjadi pemimpin.

Suatu hari, ada seorang anak yang ingin berbicara pada ayahnya. Lantas anaknya itu mengetuk pintu.

”Untuk urusan apa putraku datang ke sini; urusan negarakah atau keluargakah?” tanya Umar.

”Urusan keluarga, ayahanda,” jawab si anak.

Tiba-tiba Umar mematikan lampu penerang di atas mejanya. Seketika suasana menjadi gelap.

”Kenapa ayah memadamkan lampu itu?” tanya putranya merasa heran.

”Putraku, lampu yang sedang ayah pakai bekerja ini milik negara. Minyak yang digunakan juga dibeli dengan uang negara. Sementara perkara yang akan kita bahas adalah urusan keluarga,” jelas Umar.

Umar kemudian meminta pembantunya mengambil lampu dari ruang dalam.

"Nah, sekarang lampu yang kita nyalakan ini adalah milik keluarga kita. Minyaknya pun dibeli dengan uang kita sendiri. Silakan putraku memulai pembicaraan dengan ayah."

Begitulah perangai pejabat sejati. Ternyata, puncak kejayaan di berbagai bidang tak lantas membuat Umar bin Abdul Aziz terperdaya. Meski prestasinya banyak dipuji, pemimpin berjuluk ”khalifah kelima” ini tetap bersahaja, amanah, dan sangat hati-hati mengelola aset negara.

Masya Allah.

Kalau mengingat pemerintahan di negara kita ini, jujur, rasanya aku pengin nangis.

Betapa kotor dan hinanya sistem politik kita ini. Semua orang rela berebutan mendapatkan jabatan. Kebanyakan dari mereka hanya ingin mendapatkan gaji yang besar, lantas tidak bekerja dengan baik untuk rakyatnya.

Padahal yang kutahu dari buku, yang mengisahkan di mana ketika Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam meninggal, semua sahabat saling menunjuk siapa yang ingin menggantikan menjadi pemimpin. Abu Bakar bahkan menolak, merasa tak pantas jika dirinya menjadi khalifah.

Bagaimana dengan manusia di zaman ini, rela menghabiskan uang agar dapat terpilih menjadi pemimpin. Rela berbuat curang, berkata dusta dengan janji-janji manis, dan bahkan berlagak akan amanah.

Apakah kita nggak takut, akan jawab apa nanti dihadapan Allah ketika dimintai pertanggungjawaban?

Astaghfirullah.

Mari kita sama-sama berdoa, siapa pun pemimpin negara kita nanti, semoga menjadi pemimpin yang senantiasa bertakwa pada Allah, pemimpin yang amanah, pemimpin yang adil, pemimpin yang bijaksana, pemimpin yang tidak dzalim, pemimpin yang tidak korupsi, pemimpin yang tidak gila harta dan jabatan, pemimpin yang tidak hanya mementingkan dirinya sendiri saja. Somoga menjadi pemimpin yang hanya takut kepada Allah saja, agar senantiasa Alquran-lah yang menjadi panduan kehidupannya.

Ya Allah, jagalah negeri dan agama ini. Semoga senantiasa selalu dalam lindungan-Mu. Terlindungi dari orang-orang yang berniat jahat pada negeri dan agama ini.

Aamiin Allahumma Aamiin ...

Comments

Popular posts from this blog

Semua Serba Gantian 2

Di era gen z ini, banyak yang pada nikah. Yang belom jemput takdirnya sedikit mencemaskan diri. "Jodoh gue ada gak yaaa?"  Sebenernya topik ini sama aja kayak di part pertama. Tapi akhir-akhir ini, feel-nya tuh lagi mikirin kayak gini mulu. Selain banyak yang nikah, tentunya yang meninggal juga banyak kan. Sama kayak judulnya, 'Semua Serba Gantian'. Sadar gak sadar, tiba-tiba udah menuju 25 tahun.  Katanya, dengan menikah seseorang udah berada di tahap selanjutnya. Nyatanya. Ya kita tetep jalan di tempat. Masih sama di dunia. Bedanya cuma ngejalanin kehidupan bareng orang baru aja.  Karna kenyataannya, yang satu langkah ke depan itu orang-orang yang telah mendahului.  Dari bocil beranjak dewasa. Menikah jadi orang tua. Jadi tua dan tinggal nunggu panggilan aja. Syukur-syukur meninggalnya pas tua, coba kalo pas bocil. Ya jelas. Mereka jadi selangkah lebih maju dari kita.  Tiba-tiba punya keponakan. Banyak. Udah pada gede semua. Sepupu udah pada nikah semua. Gak s...

Tasmik Al-Qur'an di Era Kepenulisan

 Jum'at, 8 Agustus 2 025. Salat Zuhur terakhir di kamar lima. Bertepatan dengan khataman rutinan terakhir pula di kamar lima. Ya. Pagi tadi kamar lima diketuk oleh seseorang. Ustazah ternyata. Bilang kalau kamarnya suruh dirapihin. Mau dipake. seperti biasa aku nyengir, ngangguk sambil bilang iya. Rasa-rasanya sedih sekali (lebay dikit). Sejak pindah ke lantai satu tahun lalu, lorong-lorong jadi tempat persinggahan awal gue buat ngaji ataupun ngelakuin segala hal di atas meja belajar. Sampai akhirnya ngisi kamar-kamar yang kosong, dan sering juga diusir ustazah buat keluar. Gak boleh dipake. Bukan hak kita, katanya. Bukan gue namanya kalo gak nakal dikit, Ya gue gatel lah, tetep masukin kamar kosong yang beloman dikunci. Sampe akhirnya, istikamah-lah kamar lima yang emang gak dikunci kayak kamar-kamar kosong sebelumnya. Walau ujung-ujungnya tiap kali ustazah ke lantai satu pasti selalu di notice, "Mbak, keluar mbak. Gak boleh dipake kamarnya..." bla.. bla.. bla.. Pertama,...

Favorites

Tiap-tiap dari kita (terkhusus penghafal quran) pasti punya ayat favorit. Ayat kesukaan. Punya ayat andalan yang dijadiin penguat dalam kehidupan. Gue juga punya. Tapi pasti penghafal quran lainnya, punya ayat di surah tertentu, yang lafaznya mungkin panjang-panjang. Gue enggak. Mungkin dari anak kecil sampe orang tua hafal ayat favorit gue. Dari penghafal quran bahkan yang awam agama sekalipun, mereka juga hafal ayat kesukaan gue. Ayat yang senantiasa kita ulang tujuh belas kali dalam setiap kali salat wajib. Ditambah kalo ngerjain salat sunah. Ditambah kalo dibaca juga diluar waktu salat. Dua ayat surah Al-Fatihah. اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ “Tunjukilah kami ke jalan yang lurus.” Menurut gue, dua ayat ini sangat mencakup atas segala apa yang kita butuhkan. Sudah jelas, Al-Fatihah induk Al-Qur’an. Dan segala apa yang...