فلا يستأ خرون ساعة ولا يستقدمون
"Mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun."
"Ngomongin meninggal mulu, emang udah siap?"
Banyak di sekitar kita yang bicara seperti tadi, bukan?
Di saat kita sedih ingat kematian, teman kita malah menghancurhan momen sedih itu. Seolah kematian nggak perlu dipikirkan.
Sebenarnya jawabannya simpel saja. Dari banyaknya ayat Alquran yang menjelaskan tentang ajal menyatakan bahwa ajal nggak bisa diubah. Apa pun kondisinya kita. Nggak mandang kita lagi taat atau maksiat. Harus siap. Karena kita semua pasti bakalan meninggal.
Kayak mau ujian, nih. Apa yang biasanya harus kita persiapkan? Belajar sungguh-sungguh, bukan? Supaya saat ujian, dipermudah dan kita bisa ngerjainnya.
Sama halnya menyiapkan diri bertemu Allah. Akhirat adalah tempat kita kembali. Kita harus selalu sadar, menanamkan diri kita bahwa kita akan bertemu Allah. Apa yang akan kita persembahkan untuk Allah. Mau nggak mau, semua harus disiapkan dengan sebaik mungki. Meningkatkan amal ibadah dan menjauhi larangan-Nya.
Ajal nggak mandang bulan apa kita meninggal.
Pernah dengar doa ini,
اللّهمّ باركلنا في رجب وشعبان وبلّغنا رمضان
Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Alquran. Banyak orang yang selalu berharap datangnya bulan Ramadhan dan mempersiapkan diri sebaik-baiknya di bulan Ramadhan.
Dengan adanya doa di atas, menunjukkan bahwa sangat berharapnya kita agar bisa tersampaikan dibulan Ramadhan, dari dua bulan sebelumnya.
Namun, doa itu nggak menjamin kita benar-benar bisa sampai di bulan Ramadhan.
Di blog-ku kali ini ingin menceritakan cerita fakta tiga orang yang justru tidak sampai di bulan Ramadhan, karena ajalnya sudah lebih dulu menjemputnya.
Ini tentang aku di pesantren, hehe.
Jum'at, 9 April 2021
Dikabarin dari rumah, nenekku yang dari ibu meninggal dunia. Padahal sedang sehat-sehat saja.
Katanya, nenekku sudah sangat siap menyambut bulan Ramadhan dan Syawal nanti, dengan merapihkan rumah sedemikian rupa.
Sempat dikabarkan juga, nenek dari bapak sedang koma, sudah seminggu.
Sangat sedih memang.
Empat hari menjelang Ramadhan tiba.
Minggu, 11 April 2021
Paman dari umi di pondok pesantrenku dikabarkan meninggal.
Dua hari menjelang Ramadhan tiba.
Aku banyak merenung memikirkan. Rencana Allah yang sangat tidak bisa kita duga.
Sempat terlintas, begini, "serem ya kalau satu hari sebelum Ramadhan tiba, ada yang meninggal." Allah menakdirkan untuk tidak bertemu Ramadhan lagi.
Benar saja lamunanku terjawab.
Senin, 12 April 2021
Nenek dari bapakku yang sempat koma itu, meninggal di satu hari datangnya Ramadhan. Malam pertama salat tarawih.
Innalillahi wa innaa ilaihi raaji'uun.
Suasana Ramadhanku mellow banget kala itu.
Di sini menunjukkan bahwa dengan berdoanya kita agar diberkahi di bulan Rajab dan Sya'ban, belum menjamin kita dapat tersampaikan di bulan Ramadhan.
Bisa melalui bulan Rajab dan Sya'ban dengan sehat wal 'afiyat, belum menjamin kita bakalan bisa mengerjakan ibadah puasa di bulan Ramadhan.
Ya. Ajal bisa menjemput kapan saja dan di mana saja.
Di bulan Ramadhan ini juga banyak yang telah menjemput ajalnya. Dari kalangan mana saja.
Ada yang baru beberapa hari Ramadhan, meninggal. Bahkan ada yang meninggal di detik-detik terakhir Ramadhan, tak menjumpai bulan Syawal.
Semakin banyak sekeliling kita yang telah lebih dulu mendahului. Semakin nyata bahwa Allah bisa kapan saja mengambil nyawa kita. Dan kita harus semakin siap untuk menjemputnya.
Karena, ketika tiba saatnya kita menjemput ajal kita. Tanpa sadar ketika kita membuka mata, kita sudah berada di alam kubur. "Cepat sekali rasanya hidup. Aku banyak dosanya. Banyak lalainya."
Begitulah.
Oke, semoga bermanfaat. Semoga kita masih bisa dipertemukan di bulan Ramadhan selanjutnya dalam keadaan takwa.
Minal 'aidin wal faidzin.
Mantapp
ReplyDelete