Perihal seseorang bertanya tentang jumlah hafalan kepada para penghafal Alquran, dengan jawaban yang bisa ditebak, "Masih sedikit," bukan bermaksud pelit nggak mau kasih tahu, atau kalian menyebutnya, "Tawaduk banget, sih. Kan cuma pengin tau, siapa tau saya termotivasi buat ngafal Alquran juga."
Namun sebenarnya, maksud mereka (penghafal Alquran) tidak memberitahu jumlah hafalannya bukan karena rendah diri. Namun, emang tidak perlu dijawab berapa nominalnya. Karena mungkin kalian (yang suka bertanya) hanya sekedar ingin tahu berapa jumlah juz yang mereka hafal, tanpa tahu maksud dengan detailnya.
Misal, kalau kalian bertanya dan langsung mereka jawab :
"Sudah hafal berapa juz?"
"Alhamdulillah sudah 30 juz,"
Banyak yang merespon, "Masya Allah. Itu beneran sudah hafal, ya, tiga puluh juz. Bisa baca Alquran nggak perlu ngeliat Alquran lagi?"
Dalam hati mereka bergemuruh, "Dikira gampang kali, yak." Wkkw.
Pandangan orang-orang terlihat takjub dengan jumlah juz yang mereka dengar. Seolah itu suatu hal yang hebat.
Nyatanya, tiga puluh juz hanyalah sebuah simbolis saja. Mereka belum benar-benar ada ditahap 'Masya Allah' yang orang-orang lihat. Karena bagi mereka, penghafal Alquran yang mungkin bisa dibanggakan adalah ketika dirinya bisa disimak dihadapan Allah Subhaana wa ta'āla.
Jadi tidak ada spesial-spesialnya kalau kalian banyak memuji penghafal Alquran, yang bahkan isinya saja tidak diamalkan.
Lain halnya dengan percakapan sesama penghafal Alquran. Mereka akan percaya diri mengungkapkan berapa juz yang dihafal. Baginya, tau jumlah juz temannya adalah penting, untuk saling memotivasi.
Untuk kalian yang banyak bertanya ingin tahu, lebih baik mendoakan saja agar istikamah murajaah. Terlebih lagi mengamalkan setiap ayatnya dalam kehidupan sehari-hari.
Comments
Post a Comment