Skip to main content

Temui, Sebelum Pergi

Pertemuan ialah suatu hal yang sangat menyenangkan. Apalagi ketika menyadari sosok yang ingin kita temui adalah orang yang sangat dicintai. 

Pada blog gue kali ini, gue cuma pengin cerita aja, semoga bisa diambil manfaatnya.

Gue sangat suka kalau berkunjung ke rumah saudara, tante, om, dan keluarga besar lainnya.

Sembari berkunjung, gue mengabadikan setiap momen, perjalanan, sekeliling yang gue lewatin dalam ingatan. Mengingat dulu waktu kecil gue pernah ke sini, pernah bermain di sini, gue mengenang semuanya. Terlebih gue yang sudah nggak tinggal di Jakarta lagi.

Gue amat sangat senang ketika ada acara kumpul keluarga seperti arisan atau kumpul-kumpul biasa. Karena kebanyakan dari kita, kalau sudah dewasa, sudah malas untuk ikut kumpul bareng keluarga besar. Mereka lebih memilih kumpul bersama teman ketimbang 'say hello' dengan keluarga besar sendiri. Menurut gue, mungkin mereka malas karena biasanya banyak dari keluarga besar yang bertanya, "Sudah bisa apa?", "Sudah kerja apa?", "Sudah punya pacar belum?", "Kapan nikah?" dan berbagai pertanyaan sensitif lainnya.

Menurut gue, pertanyaan-pertanyaan di atas hanyalah basa-basi saja. Sewajarnya sebagai keluarga besar tentu ingin tahu perkembangan apa yang sudah dicapai antar sesama keluarganya. Untuk seseorang yang gak mengambil pusing pertanyaan tersebut tentu dengan senang hati akan menjawab sejujurnya dan gak dimasukin ke hati. Namun, untuk orang-orang yang malas dan gak suka diberi pertanyaan tersebut, tentu lebih memilih untuk gak pernah datang ke acara keluarga besar.

Keantusiasan gue untuk bersilaturrahim ke setiap keluarga besar lebih dari itu. Gue mikir, gue sudah dewasa. Ditambah sepanjang gue nuntut ilmu, gue ada di pesantren. Selain gue yang menua, sudah pasti keluarga gue juga menua. Tante gue, om gue, saudara, sepupu dan berbagai jenis keluarga besar lainnya. 

Seperti yang blog gue sampein dengan judul, 'Semua Serba Gantian.' Ya. Mengingat masa-nya akan berganti, gue ingin menghabiskan momen-momen bersama bareng keluarga besar gue. Gue ingin memanfaatkan momen silaturrahim dengan menghabiskan sisa-sisa umur keluarga besar bersama gue. Mengingat semua keluarga besar gue yang baik sejak gue kecil sampai detik ini, sudah sepantasnya gue balas kebaikan mereka. Berhubung gue sendiri belum menghasilkan uang, gue bisa meluangkan waktu dengan bersilaturrahim.

Momen inilah yang orang tua inginkan. Mengambil dari contoh keluarga besar gue sendiri. Pernah gue main ke salah satu tante gue. Dengan sangat senang hati mereka menyambut kedatangan gue. Tante gue yang lain merespon, "Main juga dong, ke rumah aku." 

Karena yang dibutuhkan orang yang sudah lanjut usia hanyalah ditemani. Banyak dari kita yang sudah dewasa, malas menemani orang tua kita sendiri. Lebih memilih keluar rumah ketimbang menghabiskan waktu bersama di rumah.

Gue datang hanya sekadar silaturrahim, bertukar cerita.

Orang tua akan merasa dihargai ketika kita datang berkunjung ke rumahnya, menanyakan kabarnya.

Kembali lagi mengambil dari kisah keluarga besar gue. 

Waktu nenek gue masih hidup (ibu dari aba). Kelima saudara bergantian ngerawat. Nenek gue ini lebih suka tinggal di Jakarta. Cuma, kalau di Jakarta itu pada repot. Kakak-adik aba gue semuanya ngajar jadi guru, ada juga yang PNS. Tentu berangkat pagi pulang maghrib. Aba yang hanya di rumah saja, tentu dengan senang hati pengin ngerawat ibunya di rumah kita. Cuma, nenek gue itu gak nyaman tinggal di rumah aba. Karena merasa, "Ini bukan rumah gue," wkwk. Nenek gue ini sering banget gak betah kalau lagi tinggal di rumah gue. Padahal setiap hari di rumah gue ramai, dengan senang hati juga gue, kakak gue, anak-anak kakak gue ajak nenek gue berbicara, supaya gak ngerasa kesepian.

Sampai akhirnya, gantian giliran kakaknya aba gue yang ngerawat nenek gue ini. Namun ditinggal sendirian di rumah, hanya ditemani pembantu. Suatu hari kakak gue ini datang berkunjung ke Jakarta. Nenek gue nangis layaknya anak bayi, mengadu, mengeluh. "Gak ada apa yang sayang sama gue, gak ada apa yang mau nemuin gue? Kalau gue mati baru kali ya pada mau nemuin gue." 

Momen ini divideo-in kakak gue, untuk disampaikan ke tante dan omnya.

Dari kisah ini menekankan bahwa seseorang yang telah lanjut usia kembali membutuhkan kasih sayang dari orang-orang sekelilingnya. Nggak perlu dikasih uang banyak atau fasilitas mewah. Mereka hanya butuh ditemani. Makanya, suatu hal yang sangat menyedihkan kalau ada seorang anak yang mengirimkan orang tuanya yang sudah lanjut usia ke panti jompo. 

Alasan gue menulis blog ini agar kita lebih memanfaatkan pertemuan yang ada. Temui, sebelum pergi.

Di blog gue yang berjudul 'Mengingat Kematian 3', gue menceritakan betapa tiba-tibanya kematian datang menghampiri. Terdapat tiga keluarga gue yang meninggal sebelum Ramadhan.

Untuk tahun ini, gue mau menceritakan kisah yang sama pula.

Hari kedua lebaran, aba dan mama itu pisah tujuan halal bi halal. Biasanya gue ikut berkunjung ke rumah keluarga besar aba. Kalau mama, pergi ke Kp. Rambutan, ke rumah adik ibunya mama. 

Terakhir kali gue ke sana kalau nggak salah waktu MTs. Sampai akhirnya 2023, gue berinisiatif buat pengin ikut ke Kp. Rambutan, sudah lama gak pernah ke sana lagi.

Tahun 2024.
Kedua kakak gue update status mengumumkan berita duka cita. Ya. Adiknya nenek gue yang di Kp. Rambutan itu meninggal dunia. Di satu sisi gue sedih, turut berduka. Di sisi lain gue bersyukur. Gue bersyukur karena lebaran kemarin Allah mentakdirkan gue buat berkunjung bertemu beliau. Kita nggak akan tahu kalau ternyata itu adalah perkumpulan terakhir lebarannya bersama keluarga besar.

Terakhir, mari kita tetap menjalin tali silaturrahim, kepada siapapun, khususnya kepada keluarga besar kita sendiri. Menemani dan menghargai setiap momen bersama orang yang telah lanjut usia. Karena walau bagaimana pun, jika Allah mentakdirkan kita panjang umur, maka akan tiba gilirannya, kita hanya butuh ditemani.

Temui, sebelum pergi ~

Comments

Popular posts from this blog

Semua Serba Gantian 2

Di era gen z ini, banyak yang pada nikah. Yang belom jemput takdirnya sedikit mencemaskan diri. "Jodoh gue ada gak yaaa?"  Sebenernya topik ini sama aja kayak di part pertama. Tapi akhir-akhir ini, feel-nya tuh lagi mikirin kayak gini mulu. Selain banyak yang nikah, tentunya yang meninggal juga banyak kan. Sama kayak judulnya, 'Semua Serba Gantian'. Sadar gak sadar, tiba-tiba udah menuju 25 tahun.  Katanya, dengan menikah seseorang udah berada di tahap selanjutnya. Nyatanya. Ya kita tetep jalan di tempat. Masih sama di dunia. Bedanya cuma ngejalanin kehidupan bareng orang baru aja.  Karna kenyataannya, yang satu langkah ke depan itu orang-orang yang telah mendahului.  Dari bocil beranjak dewasa. Menikah jadi orang tua. Jadi tua dan tinggal nunggu panggilan aja. Syukur-syukur meninggalnya pas tua, coba kalo pas bocil. Ya jelas. Mereka jadi selangkah lebih maju dari kita.  Tiba-tiba punya keponakan. Banyak. Udah pada gede semua. Sepupu udah pada nikah semua. Gak s...

Tasmik Al-Qur'an di Era Kepenulisan

 Jum'at, 8 Agustus 2 025. Salat Zuhur terakhir di kamar lima. Bertepatan dengan khataman rutinan terakhir pula di kamar lima. Ya. Pagi tadi kamar lima diketuk oleh seseorang. Ustazah ternyata. Bilang kalau kamarnya suruh dirapihin. Mau dipake. seperti biasa aku nyengir, ngangguk sambil bilang iya. Rasa-rasanya sedih sekali (lebay dikit). Sejak pindah ke lantai satu tahun lalu, lorong-lorong jadi tempat persinggahan awal gue buat ngaji ataupun ngelakuin segala hal di atas meja belajar. Sampai akhirnya ngisi kamar-kamar yang kosong, dan sering juga diusir ustazah buat keluar. Gak boleh dipake. Bukan hak kita, katanya. Bukan gue namanya kalo gak nakal dikit, Ya gue gatel lah, tetep masukin kamar kosong yang beloman dikunci. Sampe akhirnya, istikamah-lah kamar lima yang emang gak dikunci kayak kamar-kamar kosong sebelumnya. Walau ujung-ujungnya tiap kali ustazah ke lantai satu pasti selalu di notice, "Mbak, keluar mbak. Gak boleh dipake kamarnya..." bla.. bla.. bla.. Pertama,...

Favorites

Tiap-tiap dari kita (terkhusus penghafal quran) pasti punya ayat favorit. Ayat kesukaan. Punya ayat andalan yang dijadiin penguat dalam kehidupan. Gue juga punya. Tapi pasti penghafal quran lainnya, punya ayat di surah tertentu, yang lafaznya mungkin panjang-panjang. Gue enggak. Mungkin dari anak kecil sampe orang tua hafal ayat favorit gue. Dari penghafal quran bahkan yang awam agama sekalipun, mereka juga hafal ayat kesukaan gue. Ayat yang senantiasa kita ulang tujuh belas kali dalam setiap kali salat wajib. Ditambah kalo ngerjain salat sunah. Ditambah kalo dibaca juga diluar waktu salat. Dua ayat surah Al-Fatihah. اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ “Tunjukilah kami ke jalan yang lurus.” Menurut gue, dua ayat ini sangat mencakup atas segala apa yang kita butuhkan. Sudah jelas, Al-Fatihah induk Al-Qur’an. Dan segala apa yang...