Skip to main content

Makna 'Setara'

Sebagian dari kita pasti sudah tidak asing lagi dengan quote nasihat yang sering muncul di berbagai sosial media mengenai, "Carilah pasangan yang setara."


Dalam quote yang beredar menjelaskan bahwa memilih pasangan yang setara bermaksud agar:
1. Sikap perhatian kita nggak dianggap obsesi
2. Cemburunya kita nggak dianggap berlebihan
3. Sedihnya kita nggak dianggap beban, dan masih banyak hal-hal lain yang disetarakan.

Kalau dipikir-pikir, tahap-tahap yang harus dipersiapkan saat menjalani pernikahan nanti semakin banyak, bukan?

Kenapa?

Kini, maraknya prosentasi perceraian di Indonesia, menyebabkan seseorang harus semakin memilih calon pasangannya dengan amat sangat benar.

Ketika banyaknya berita perceraian, membuat seseorang yang belum menikah menjadi takut untuk membangun rumah tangga bersama. Akhirnya, banyak orang yang men-detailkan secara khusus, harus 'setara' yang seperti apa dalam menjalani hubungan pernikahan.

Seperti yang telah kita ketahui, ada empat kriteria dalam memilih pasangan yang telah Nabi sampaikan. Paras, keturunan, harta, dan agamanya.

Di zaman sekarang ini, empat kriteria di atas semakin di-detailkan pada sebagian adat-adat tertentu. Pernah kutemui, salah satu keluarga yang mengharuskan empat kriteria itu harus terpenuhi semuanya. Pertama, ketika definisi fisik yang semakin diperjelas, harus berkulit putih, berbadan ideal, bersuara bagus. Kedua, memiliki keturunan yang baik, harus yang setara kastanya. Ketiga, nominal jumlah kekayaan yang diperhitungkan. Keempat, harus paham dalam semua bidang ilmu.

Namun yang perlu diingat juga bahwa, padahal zaman orang tua kita dulu banyak yang umurnya selisih jauh dengan pasangannya, menikah karena perjodohan, dan berbagai jenis cara lainnya yang sebelumnya pun mereka tak pernah ada hubungan dengan calon pasangannya.

Hubungan pernikahan orang tua zaman dulu langgeng-langgeng. Tetap menjalani keseharian mereka sampai berhasil mendidik anak-anaknya menjadi orang yang sukses, banyak memiliki cucu yang baik-baik pula, walau dengan wajah pas-pasan, bukan keturunan bangsawan, harta gak sampai milyaran, serta agama yang hanya sekadar mengetahui, menjalani kewajiban dan larangan.

Bicara soal kriteria 'setara' di zaman sekarang ini, tentu nggak sama dengan kriteria 'setara' di zaman dulu, dan orang tua zaman dulu nggak ada yang mempermasalahkan itu.

Lagi-lagi, kenapa?

Karena mereka niat menjalani pernikahan yang gacuma modal cinta, tapi niat taat, menyempurnakan separuh agama.

Perkara cari yang rasa setianya sama, kadar rasa cemburu yang sama, dll, tentu gak pernah ada dalam kriteria 'setara' orang tua zaman dulu.

Trus, kalau misalnya apa yang dilakukan pasangan kita nggak sesuai apa yang diharapkan gimana?

Tentu, yang seperti itu nggak menjadikan hal itu suatu masalah yang besar, bahkan langsung ada niatan untuk, "Aku udah nggak kuat, cerai ajalah."

Padahal hal itu bisa mudah diatasi, bukan? Ketika kita nerima perlakuan gabaik dari pasangan, bukan berarti langsung kecewa merasa gak dihargai. Tentu yang pertama harus kita lakukan adalah dengan menerima kekurangan pasangan kita. Bukankah setiap orang yang ingin menjalin hubungan telah banyak mengucap janji seperti, "Aku terima kamu apa adanya."?

Mengutip perkataan Gus Baha yang beredar di sosial media. "Istri saya dididik oleh orang tuanya bahwa yang mencukupi (semua kebutuhan) adalah Allah, bukan suami. Saya pun dididik orang tua saya bahwa yang bisa membahagiakan saya itu Allah, bukan istri."

Kata-kata tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa memang gak ada yang sempurna di dunia ini. Untuk para istri, jangan kecewa kalau misalnya suami belum memenuhi segala kebutuhan. Begitu pula suami, gaperlu kecewa karena merasa istri gak membahagiakan suami.

Untuk mengantisipasi itu, makna cerminan diri dalam mencari jodoh pun benar adanya.

Kalau mau pasangan yang setia, jadilah setia. Pengin punya pasangan yang menjaga pandangan, berusahalah untuk menjaga pandangan terlebih dahulu, baik di sosial media maupun di dunia nyata.

Yang telah kita ketahui pula, di zaman sekarang ini banyak yang menjalin hubungan sebelum menikah, dengan alasan supaya saling kenal dulu.

Trus, kalau dalam proses pengenalan ternyata kita disakitin, jangan galau. Gaperlu merasa kehilangan. Itu sudah jadi bukti dari Allah kalau dia gabaik buat kita. Kalau kita telah berusaha menyetarakan calon pasangan kita dengan setia, maka kalau dia selingkuh, berarti kesetiaan kita gapantes didapatkan buat orang murahan seperti itu, dll.

Atau mungkin sikap perhatian kita yang diabaikan, janganlah kecewa. Karena hati kita itu milik Allah. Gak ada yang bisa cegah pasangan kita tetap perhatian atau enggak. Gak ada yang bisa cegah pasangan kita tetap mencintai kita atau enggak.

Kembali lagi dengan tujuan awal pernikahan, karena iman, menikah karena Allah. Jadi, apapun permasalahan yang dihadapi, baik mudah maupun sulit, jika niat kita menikah karena ibadah, maka respon kita dalam menghadapi sebuah permasalahan tentu dengan perbanyak taat.

Ditambah, zaman sekarang ini mudahnya rasa bosan yang menghampiri. Apa yang harus kita lakukan?

Adanya rasa bosan memang wajar, fitrah manusia yang selalu ingin merasakan hal baru. Namun, bukan dengan jalur perpisahan atau perceraianlah dalam menyikapi rasa bosan, baper karena kurang diperhatikan, gak suka karena cemburu yang berlebihan.

Percayalah, kalau Allah akan kasih kita yang sepadan dalam jenis visi misi, setara yang sebagaimana mestinya syari'at menghukumi.

Kuncinya ialah tulus saja mencintai. Ketika kita disakiti, ya jangan sedih. Sabar dan yakinlah bahwa Allah akan kasih balasan yang setimpal, cerminan yang sama, bahkan yang sangat lebih.

Karena kuncinya hanyalah 'saling'. Saling menerima, saling memahami, saling mengoreksi, saling menasihati.

Jadi pada intinya, untuk yang sedang menjalani sebuah hubungan, baik pertemanan, pernikahan, ataupun hubungan yang lainnya, jalani dengan iman, niat karena Allah, berikanlah ketulusan. Jika kita dikhianati, bukan kita yang nggak pantas untuk dia, tapi dialah yang nggak pantas mendapatkan cinta dari kita. Jangan galau. Nggak perlu merasa kehilangan.

Syaikh Mutawalli Asy-Sya'rawi juga bilang, "Jika anda mendapati cinta di antara dua orang perlahan berkurang dengan seiring berjalannya waktu, ketahuilah bahwa hal itu cinta yang bukan karena Allah. Dan jika anda dapati cinta yang bertambah setiap harinya, ketahuilah bahwa hal itu cinta karena Allah." Karena melalui perantara orang yang kita cintai, menjadikan kita lebih mendekat dan cinta kepada Allah.

Teruntuk yang sedang memantaskan makna 'setara', mari kita berjuang bersama.

Comments

Popular posts from this blog

Semua Serba Gantian 2

Di era gen z ini, banyak yang pada nikah. Yang belom jemput takdirnya sedikit mencemaskan diri. "Jodoh gue ada gak yaaa?"  Sebenernya topik ini sama aja kayak di part pertama. Tapi akhir-akhir ini, feel-nya tuh lagi mikirin kayak gini mulu. Selain banyak yang nikah, tentunya yang meninggal juga banyak kan. Sama kayak judulnya, 'Semua Serba Gantian'. Sadar gak sadar, tiba-tiba udah menuju 25 tahun.  Katanya, dengan menikah seseorang udah berada di tahap selanjutnya. Nyatanya. Ya kita tetep jalan di tempat. Masih sama di dunia. Bedanya cuma ngejalanin kehidupan bareng orang baru aja.  Karna kenyataannya, yang satu langkah ke depan itu orang-orang yang telah mendahului.  Dari bocil beranjak dewasa. Menikah jadi orang tua. Jadi tua dan tinggal nunggu panggilan aja. Syukur-syukur meninggalnya pas tua, coba kalo pas bocil. Ya jelas. Mereka jadi selangkah lebih maju dari kita.  Tiba-tiba punya keponakan. Banyak. Udah pada gede semua. Sepupu udah pada nikah semua. Gak s...

Tasmik Al-Qur'an di Era Kepenulisan

 Jum'at, 8 Agustus 2 025. Salat Zuhur terakhir di kamar lima. Bertepatan dengan khataman rutinan terakhir pula di kamar lima. Ya. Pagi tadi kamar lima diketuk oleh seseorang. Ustazah ternyata. Bilang kalau kamarnya suruh dirapihin. Mau dipake. seperti biasa aku nyengir, ngangguk sambil bilang iya. Rasa-rasanya sedih sekali (lebay dikit). Sejak pindah ke lantai satu tahun lalu, lorong-lorong jadi tempat persinggahan awal gue buat ngaji ataupun ngelakuin segala hal di atas meja belajar. Sampai akhirnya ngisi kamar-kamar yang kosong, dan sering juga diusir ustazah buat keluar. Gak boleh dipake. Bukan hak kita, katanya. Bukan gue namanya kalo gak nakal dikit, Ya gue gatel lah, tetep masukin kamar kosong yang beloman dikunci. Sampe akhirnya, istikamah-lah kamar lima yang emang gak dikunci kayak kamar-kamar kosong sebelumnya. Walau ujung-ujungnya tiap kali ustazah ke lantai satu pasti selalu di notice, "Mbak, keluar mbak. Gak boleh dipake kamarnya..." bla.. bla.. bla.. Pertama,...

Favorites

Tiap-tiap dari kita (terkhusus penghafal quran) pasti punya ayat favorit. Ayat kesukaan. Punya ayat andalan yang dijadiin penguat dalam kehidupan. Gue juga punya. Tapi pasti penghafal quran lainnya, punya ayat di surah tertentu, yang lafaznya mungkin panjang-panjang. Gue enggak. Mungkin dari anak kecil sampe orang tua hafal ayat favorit gue. Dari penghafal quran bahkan yang awam agama sekalipun, mereka juga hafal ayat kesukaan gue. Ayat yang senantiasa kita ulang tujuh belas kali dalam setiap kali salat wajib. Ditambah kalo ngerjain salat sunah. Ditambah kalo dibaca juga diluar waktu salat. Dua ayat surah Al-Fatihah. اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ “Tunjukilah kami ke jalan yang lurus.” Menurut gue, dua ayat ini sangat mencakup atas segala apa yang kita butuhkan. Sudah jelas, Al-Fatihah induk Al-Qur’an. Dan segala apa yang...