Skip to main content

Eid Day Two

 Kamis, 11 April 2024 menjadi hari kedua merayakan Idul Fitri. 

Seperti biasanya, hari kedua ikut keliling ke keluarga aba, yang bahkan sampe sekarang pun aku gapernah tau silsilah keluarga besar sendiri, baik dari aba maupun mama huhu parah banget. Maklum, orang Betawi kebanyakan personil, semuanya kesebut sodara.

Kita pergi ke enam tempat. Lupa urutannya apa aja; Tebet, Kebun Jeruk, Cibubur, Cijantung, Condet, lupa satu lagi ke mana. 

Kita mengunjungi dua rumah yang pemiliknya sedang sakit. Pertama, sempat stroke kalau gak salah. Kita kirim Fatihah dan turut sedih. Semoga Allah gugurkan segala dosanya dan diangkat penyakitnya serta diberikan kesabaran yang luas.

Kedua, kita berniat tujuan akhir itu ke Condet, memang si pemilik rumah belum lama selesai masa operasi, Baru setengah perjalanan menuju Condet, WA tanteku berbunyi, notifikasi grup isinya. Mengabarkan si pemilik rumah yang ingin kita kunjungi di Condet ini telah meninggal dunia. Innalillahi wa Innaa Ilaihi Raaji'uun.

Lagi-lagi aku turut sedih, dan berduka. 

Sesampainya di rumah duka, aba langsung pimpin tahlil dan kita semua turut mengikuti. 

Usai tahlil, aba dan tante tanteku mendengarkan sedikit cerita yang disampaikan oleh suami almarhumah ini. Menyampaikan wasiatnya yang ingin dikuburkan di mana, dan bahkan sempat request berandai ingin meninggal pada hari Jum'at. 

Masya Allah, Allah kabulkan hajatnya.

Di saat orang-orang sibuk bergembira merayakan hari raya, tak sedikit pula ada yang berduka karena ditinggalkan oleh orang tercinta.

Perkara hari raya, apakah kita yang sibuk berbahagia sedang sungguhan merayakan kemenangan, ataukah mereka yang telah kembali ke hadapan-Nya dengan perasaan gembira?

Sungguh indah hari rayanya. Bertemu Tuhan Sang Maha Pencipta. Dengan rindu Tuhan menyapa. Menyambut hangat penuh rasa cinta.

Sedangkan kita, sungguh masih berselimut dosa. Lantas, apa yang telah kita rayakan? Sudah maksimalkah menjalani ibadah di bulan Ramadan?

Semoga amal ibadah kita semua senantiasa diterima oleh Allah subhana wa ta'ala, Amin.

Comments

Popular posts from this blog

Semua Serba Gantian 2

Di era gen z ini, banyak yang pada nikah. Yang belom jemput takdirnya sedikit mencemaskan diri. "Jodoh gue ada gak yaaa?"  Sebenernya topik ini sama aja kayak di part pertama. Tapi akhir-akhir ini, feel-nya tuh lagi mikirin kayak gini mulu. Selain banyak yang nikah, tentunya yang meninggal juga banyak kan. Sama kayak judulnya, 'Semua Serba Gantian'. Sadar gak sadar, tiba-tiba udah menuju 25 tahun.  Katanya, dengan menikah seseorang udah berada di tahap selanjutnya. Nyatanya. Ya kita tetep jalan di tempat. Masih sama di dunia. Bedanya cuma ngejalanin kehidupan bareng orang baru aja.  Karna kenyataannya, yang satu langkah ke depan itu orang-orang yang telah mendahului.  Dari bocil beranjak dewasa. Menikah jadi orang tua. Jadi tua dan tinggal nunggu panggilan aja. Syukur-syukur meninggalnya pas tua, coba kalo pas bocil. Ya jelas. Mereka jadi selangkah lebih maju dari kita.  Tiba-tiba punya keponakan. Banyak. Udah pada gede semua. Sepupu udah pada nikah semua. Gak s...

Tasmik Al-Qur'an di Era Kepenulisan

 Jum'at, 8 Agustus 2 025. Salat Zuhur terakhir di kamar lima. Bertepatan dengan khataman rutinan terakhir pula di kamar lima. Ya. Pagi tadi kamar lima diketuk oleh seseorang. Ustazah ternyata. Bilang kalau kamarnya suruh dirapihin. Mau dipake. seperti biasa aku nyengir, ngangguk sambil bilang iya. Rasa-rasanya sedih sekali (lebay dikit). Sejak pindah ke lantai satu tahun lalu, lorong-lorong jadi tempat persinggahan awal gue buat ngaji ataupun ngelakuin segala hal di atas meja belajar. Sampai akhirnya ngisi kamar-kamar yang kosong, dan sering juga diusir ustazah buat keluar. Gak boleh dipake. Bukan hak kita, katanya. Bukan gue namanya kalo gak nakal dikit, Ya gue gatel lah, tetep masukin kamar kosong yang beloman dikunci. Sampe akhirnya, istikamah-lah kamar lima yang emang gak dikunci kayak kamar-kamar kosong sebelumnya. Walau ujung-ujungnya tiap kali ustazah ke lantai satu pasti selalu di notice, "Mbak, keluar mbak. Gak boleh dipake kamarnya..." bla.. bla.. bla.. Pertama,...

Favorites

Tiap-tiap dari kita (terkhusus penghafal quran) pasti punya ayat favorit. Ayat kesukaan. Punya ayat andalan yang dijadiin penguat dalam kehidupan. Gue juga punya. Tapi pasti penghafal quran lainnya, punya ayat di surah tertentu, yang lafaznya mungkin panjang-panjang. Gue enggak. Mungkin dari anak kecil sampe orang tua hafal ayat favorit gue. Dari penghafal quran bahkan yang awam agama sekalipun, mereka juga hafal ayat kesukaan gue. Ayat yang senantiasa kita ulang tujuh belas kali dalam setiap kali salat wajib. Ditambah kalo ngerjain salat sunah. Ditambah kalo dibaca juga diluar waktu salat. Dua ayat surah Al-Fatihah. اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ “Tunjukilah kami ke jalan yang lurus.” Menurut gue, dua ayat ini sangat mencakup atas segala apa yang kita butuhkan. Sudah jelas, Al-Fatihah induk Al-Qur’an. Dan segala apa yang...