Skip to main content

(IN)SECURE

Teruntuk seseorang yang (selalu) tidak percaya diri.

Sering kali kita merasa tidak sesempurna orang lain. Merasa diri sendiri tidak aman. Ya. Insecure namanya.

Insecure adalah perasaan ragu, cemas dan kurang percaya diri yang salah satunya dapat menyebabkan seseorang menjadi tidak berkembang.

Setiap orang pasti pernah merasa insecure. Bahkan aku sendiri pun sering merasa tidak layak berada di lingkungan banyak orang. Merasa tidak memenuhi standar bagi kebanyakan orang. Merasa tidak memiliki finansial yang bagus. Merasa bukan siapa-siapa. Merasa tidak berguna bagi siapa pun.

Sering kali aku merasa tidak layak untuk dicintai. Sering kali pula aku merasa tidak pantas, merasa malu karena tidak ada yang bisa dibanggakan terhadap diriku.

Teruntuk seseorang yang selalu tidak percaya diri.

Hadirnya rasa tidak pantas ialah karena kita melihat sisi kekurangan yang ada pada diri. Sibuk membandingkan apa yang tidak kita miliki seperti kebanyakan orang. Cemas merutuk diri akan segala kekurangan yang ada. Merasa tak mampu, tak bisa, dan tak pantas.

Perlu diketahui sebelumnya, bahwa Allah menjadikan manusia sebagai makhluk yang paling sempurna. Pada dasarnya tentu Nabi Muhammad saw-lah yang menjadi paling sempurnanya manusia. Namun, hal ini tentu dapat dijadikan motivasi bahwa tidak ada yang sia-sia atas terciptanya diri kita di muka bumi ini.

Ketika ribuan bahkan jutaan sel sperma berusaha untuk bertemu sel telur, hanya satu sel-lah yang menjadi pemenangnya dan kitalah yang menjadi pemenang tersebut. Allah memantaskan dan yakin terhadap kita untuk lahir di dunia.

Teruntuk seseorang yang tidak percaya diri.

Mari kita kembali bersyukur. Merenungi dari segala hal kecil yang telah Allah berikan terhadap diri ini. Mulai sejak lahir, bersyukur karena terlahir sebagai manusia yang selamat, menjadi seorang muslim. Bersyukur jika kita terlahir dari kedua orang tua yang paham agama, mendidik serta menyayangi dengan sepenuh hati.

Mari kita kembali bersyukur. Masih banyak yang mencintai kita. Bersyukur atas kehadiran sosok kita. Ketika kita merasa tak layak dicintai, pasti akan ada yang mencintai dengan tulus. Memiliki keluarga yang mencintai kita, sahabat dekat yang mencintai kita, orang-orang disekeliling yang mencintai kita. Kita berhak dan layak dicintai atas apa yang kita miliki.

Teruntuk seseorang yang merasa tidak aman.

Kita adalah berharga. Tak perlu merasa tak pantas dan butuh penerimaan terhadap orang lain. Lakukanlah segala hal yang terbaik. Berbenah diri. Memperbaiki perilaku agar menjadi lebih baik lagi. Mari kita niatkan segala hal baik yang kita lakukan hanya untuk Allah. Karena apa yang kita lakukan di dunia ini akan berdampak kembali untuk diri sendiri. Ketika kita berbuat baik, senantiasa kebaikan pula yang akan kita terima 

Teruntuk seseorang yang merasa tak pantas.

Janganlah berkecil hati atas kekurangan yang kita miliki. Belajarlah untuk melihat ke sekitar, bahwa banyak orang yang kondisinya tidak lebih baik dari kita. Bersyukur jika kita masih memiliki kelebihan.

“Tapi aku gak cantik.”

Akan ada banyak standar kecantikan setiap mata manusia yang memandang. Ingin menjadi cantik seperti apakah kita? Walau kategori cantik identik dengan berkulit putih, namun percayalah bahwa cantik itu relatif. Tak melulu semua orang menyukai kecantikan, karena nyatanya nilainya berbeda bagi setiap kalangan.

“Tapi aku nggak terlahir dari keluarga keren atau bangsawan.”

Bersyukurlah kalau kita terlahir dengan kedua orang tua yang amat sangat menyayangi kita. Kedudukan seorang hamba bukanlah dilihat dari keluarga mana ia dilahirkan, bukan? Percayalah bahwa kita terlahir dari keluarga yang tak kalah hebatnya.

“Tapi aku nggak punya apa-apa.”

Cukuplah Allah yang kita punya. Cukuplah amal ibadah yang mengiringi kita. Cukup akhlak terpujilah yang menjadikan perangai kita indah. Apa jadinya ketika punya banyak harta namun tidak bahagia?

“Tapi aku nggak bisa apa-apa.”

Setiap manusia pasti Allah berikan sisi kelebihannya masing-masing. Jangan terlalu fokus dengan segala potensi dan kehebatan yang orang lain miliki. Kita juga punya bakat. Kenali kesukaan dan bakat kita. Gali dan pelajari lebih tekun, agar kita mempunyai ciri khas tersendiri perihal ‘kelebihan’ yang kita miliki. Karena tidak semua orang sempurna dan tidak semua orang memiliki bakat yang sama.

Kita adalah berharga.

Jadikanlah Allah sebagai tujuan untuk setiap urusan. Ketika kita terlahir karena Allah, maka segala hal yang dilakukan sudah sepatutnya kita persembahkan ke Allah pula.

Usai mempersembahkan segala hal baik untuk Allah, tentu Allah akan mempertemukan kita dengan seseorang yang menyayangi kita dengan tulus, setulus kita mencintai Allah.

Allah akan hadirkan sosok yang pantas menjadi teman baik, keluarga yang senantiasa mencintai kita, lingkungan-lingkungan yang berenergi positif, serta seseorang yang pantas menemani sisa usia kita di dunia ini.

Seseorang yang mencintai kita karena Allah. Seseorang yang mencintai kita bukan karena keindahan fisik yang kita miliki, namun murni Allah takdirkan kita untuk dipertemukan.

Percayalah, bukankah Allah telah menciptakan semua makhluk-Nya berpasang-pasangan? Maka, kita akan berharga di mata orang yang tepat. Kita akan dianggap sempurna dengan orang yang telah Allah persiapkan untuk kita. Tidak memandang kekurangan kita sebagai suatu hal yang buruk bahkan hina. Seseorang yang nantinya akan sangat bersyukur telah memiliki kita, apapun keadaannya.

Apa yang menjadi takdir kita akan Allah pertemukan.

Kita adalah berharga.

Mari kita jauhi rasa tidak aman terhadap diri. Merasa tidak percaya akan kelebihan dan kemampuan yang kita miliki. Tak perlu risau atas tidak diterimanya kita oleh orang-orang di sekitar, cukuplah Allah sebaik-baiknya tempat penerimaan.

Kita adalah berharga. Kita pantas bahagia. Kita mampu menghadapi dunia. Kita adalah makhluk yang sempurna.

Jangan sampai, kecemasan kita karena takut tidak diterima oleh satu orang, membuat kita lupa akan seseorang yang selalu mencintai kita. Melupakan keluarga, teman, sahabat yang telah mencintai kita dengan tulus, apa adanya.

Kita adalah berharga.

Mari kita berkembang bersama. Saling menguatkan kala duka dan turut berbahagia kala suka. Saling menyemangati akan setiap potensi yang kita miliki.

Di depan sana, masa depan menunggu. Segala rintangan yang telah kita lalui, usai kita jalani. Kebahagiaan menanti, semoga ikhlas dan sabar senantiasa mengiringi.

Dear, insecurity.

Semoga hadirmu menggerakkan kita untuk dapat melangkah ke arah yang lebih baik lagi, menjadikan pribadi kita agar rendah hati dan mawas diri.

Tulisan ini kukhususkan untuk diriku sendiri yang sering kali merasa insecure. Tentu tulisan ini dibuat ketika aku sedang percaya diri. Dengan harapan, ketika jiwa ini sedang kembali merasa tidak aman, semoga tulisan ini dapat kembali membangkitkan.

Comments

Popular posts from this blog

Semua Serba Gantian 2

Di era gen z ini, banyak yang pada nikah. Yang belom jemput takdirnya sedikit mencemaskan diri. "Jodoh gue ada gak yaaa?"  Sebenernya topik ini sama aja kayak di part pertama. Tapi akhir-akhir ini, feel-nya tuh lagi mikirin kayak gini mulu. Selain banyak yang nikah, tentunya yang meninggal juga banyak kan. Sama kayak judulnya, 'Semua Serba Gantian'. Sadar gak sadar, tiba-tiba udah menuju 25 tahun.  Katanya, dengan menikah seseorang udah berada di tahap selanjutnya. Nyatanya. Ya kita tetep jalan di tempat. Masih sama di dunia. Bedanya cuma ngejalanin kehidupan bareng orang baru aja.  Karna kenyataannya, yang satu langkah ke depan itu orang-orang yang telah mendahului.  Dari bocil beranjak dewasa. Menikah jadi orang tua. Jadi tua dan tinggal nunggu panggilan aja. Syukur-syukur meninggalnya pas tua, coba kalo pas bocil. Ya jelas. Mereka jadi selangkah lebih maju dari kita.  Tiba-tiba punya keponakan. Banyak. Udah pada gede semua. Sepupu udah pada nikah semua. Gak s...

Tasmik Al-Qur'an di Era Kepenulisan

 Jum'at, 8 Agustus 2 025. Salat Zuhur terakhir di kamar lima. Bertepatan dengan khataman rutinan terakhir pula di kamar lima. Ya. Pagi tadi kamar lima diketuk oleh seseorang. Ustazah ternyata. Bilang kalau kamarnya suruh dirapihin. Mau dipake. seperti biasa aku nyengir, ngangguk sambil bilang iya. Rasa-rasanya sedih sekali (lebay dikit). Sejak pindah ke lantai satu tahun lalu, lorong-lorong jadi tempat persinggahan awal gue buat ngaji ataupun ngelakuin segala hal di atas meja belajar. Sampai akhirnya ngisi kamar-kamar yang kosong, dan sering juga diusir ustazah buat keluar. Gak boleh dipake. Bukan hak kita, katanya. Bukan gue namanya kalo gak nakal dikit, Ya gue gatel lah, tetep masukin kamar kosong yang beloman dikunci. Sampe akhirnya, istikamah-lah kamar lima yang emang gak dikunci kayak kamar-kamar kosong sebelumnya. Walau ujung-ujungnya tiap kali ustazah ke lantai satu pasti selalu di notice, "Mbak, keluar mbak. Gak boleh dipake kamarnya..." bla.. bla.. bla.. Pertama,...

Favorites

Tiap-tiap dari kita (terkhusus penghafal quran) pasti punya ayat favorit. Ayat kesukaan. Punya ayat andalan yang dijadiin penguat dalam kehidupan. Gue juga punya. Tapi pasti penghafal quran lainnya, punya ayat di surah tertentu, yang lafaznya mungkin panjang-panjang. Gue enggak. Mungkin dari anak kecil sampe orang tua hafal ayat favorit gue. Dari penghafal quran bahkan yang awam agama sekalipun, mereka juga hafal ayat kesukaan gue. Ayat yang senantiasa kita ulang tujuh belas kali dalam setiap kali salat wajib. Ditambah kalo ngerjain salat sunah. Ditambah kalo dibaca juga diluar waktu salat. Dua ayat surah Al-Fatihah. اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ “Tunjukilah kami ke jalan yang lurus.” Menurut gue, dua ayat ini sangat mencakup atas segala apa yang kita butuhkan. Sudah jelas, Al-Fatihah induk Al-Qur’an. Dan segala apa yang...