Skip to main content

Kata Orang ...

 Segala hal yang terjadi di dunia ini seolah sudah ada waktu dan ketetapannya. Sejak lahir, bahkan perkiraan usia meninggal pun orang-orang sibuk mengkritik ketetapannya.

Kata orang, usia dua tahun itu seharusnya anak bayi sudah tumbuh gigi, sudah bisa berjalan walau perlahan. Kata orang, usia lima tahun sepatutnya  pandai membaca. Kata orang, usia tujuh tahun mesti masuk sekolah dasar. Hingga dewasa, orang-orang sibuk berkata. 

Orang-orang sibuk mematokkan batasan usia sebagaimana mestinya manusia pada umumnya. Usia 25 tahun menjadi usia keramat seorang perempuan agar segera menikah. Kata orang, 30 tahun untuk laki-laki, begitu kata orang-orang. 

Ketika usia 25 tahun bahkan lebih, seorang perempuan belum menikah, orang-orang sibuk berkomentar. "Sudah tua, kok belum menikah?"

Namun ketika ada yang berusia 25 tahun sudah meninggal. Lagi-lagi orang-orang berkomentar, "Kasihan yaa, masih muda, sudah meninggal."

Lantas, sampai kapan kita harus memenuhi ekspektasi orang-orang?

Segala hal yang terjadi di dunia ini memang sudah ada waktu dan ketetapannya. Tapi mereka lupa, waktu dan ketetapannya sesuai garis kehidupannya masing-masing. Sudah Allah aturkan prosesnya.

Ada yang bahkan belum bisa belajar merangkak di usia tiga tahun. Ada yang bahkan belum bisa disekolahkan di usia tujuh tahun. Ada yang bahkan tak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang sarjana. Itu semua bukan suatu hal keanehan. Hanya prosesnya saja yang berbeda. Kesuksesan yang dicapai, diproses dengan cara dan waktu yang berbeda. Bukanlah suatu kehinaan jika terlihat tak sama dengan kebanyakan orang. Mengapa orang-orang sibuk berkata?

Jalanilah proses yang ada. Tak perlu tergesa. Usia meninggal saja bisa berbeda, lantas mengapa pencapaian manusia dituntut sama?

Berjalanlah sebagaimana mestinya berjalan. Tak perlu memaksa berlari, apalagi tengok kanan kiri, yang hanya akan memperlambat diri. 

Berdoalah senantiasa Allah mudahkan selalu. Allah kuatkan selalu. Allah temani selalu. Setiap langkah. Setiap proses. Setiap pencapaian. 

Semoga semakin bertakwa.

Comments

Popular posts from this blog

Semua Serba Gantian 2

Di era gen z ini, banyak yang pada nikah. Yang belom jemput takdirnya sedikit mencemaskan diri. "Jodoh gue ada gak yaaa?"  Sebenernya topik ini sama aja kayak di part pertama. Tapi akhir-akhir ini, feel-nya tuh lagi mikirin kayak gini mulu. Selain banyak yang nikah, tentunya yang meninggal juga banyak kan. Sama kayak judulnya, 'Semua Serba Gantian'. Sadar gak sadar, tiba-tiba udah menuju 25 tahun.  Katanya, dengan menikah seseorang udah berada di tahap selanjutnya. Nyatanya. Ya kita tetep jalan di tempat. Masih sama di dunia. Bedanya cuma ngejalanin kehidupan bareng orang baru aja.  Karna kenyataannya, yang satu langkah ke depan itu orang-orang yang telah mendahului.  Dari bocil beranjak dewasa. Menikah jadi orang tua. Jadi tua dan tinggal nunggu panggilan aja. Syukur-syukur meninggalnya pas tua, coba kalo pas bocil. Ya jelas. Mereka jadi selangkah lebih maju dari kita.  Tiba-tiba punya keponakan. Banyak. Udah pada gede semua. Sepupu udah pada nikah semua. Gak s...

Tasmik Al-Qur'an di Era Kepenulisan

 Jum'at, 8 Agustus 2 025. Salat Zuhur terakhir di kamar lima. Bertepatan dengan khataman rutinan terakhir pula di kamar lima. Ya. Pagi tadi kamar lima diketuk oleh seseorang. Ustazah ternyata. Bilang kalau kamarnya suruh dirapihin. Mau dipake. seperti biasa aku nyengir, ngangguk sambil bilang iya. Rasa-rasanya sedih sekali (lebay dikit). Sejak pindah ke lantai satu tahun lalu, lorong-lorong jadi tempat persinggahan awal gue buat ngaji ataupun ngelakuin segala hal di atas meja belajar. Sampai akhirnya ngisi kamar-kamar yang kosong, dan sering juga diusir ustazah buat keluar. Gak boleh dipake. Bukan hak kita, katanya. Bukan gue namanya kalo gak nakal dikit, Ya gue gatel lah, tetep masukin kamar kosong yang beloman dikunci. Sampe akhirnya, istikamah-lah kamar lima yang emang gak dikunci kayak kamar-kamar kosong sebelumnya. Walau ujung-ujungnya tiap kali ustazah ke lantai satu pasti selalu di notice, "Mbak, keluar mbak. Gak boleh dipake kamarnya..." bla.. bla.. bla.. Pertama,...

Favorites

Tiap-tiap dari kita (terkhusus penghafal quran) pasti punya ayat favorit. Ayat kesukaan. Punya ayat andalan yang dijadiin penguat dalam kehidupan. Gue juga punya. Tapi pasti penghafal quran lainnya, punya ayat di surah tertentu, yang lafaznya mungkin panjang-panjang. Gue enggak. Mungkin dari anak kecil sampe orang tua hafal ayat favorit gue. Dari penghafal quran bahkan yang awam agama sekalipun, mereka juga hafal ayat kesukaan gue. Ayat yang senantiasa kita ulang tujuh belas kali dalam setiap kali salat wajib. Ditambah kalo ngerjain salat sunah. Ditambah kalo dibaca juga diluar waktu salat. Dua ayat surah Al-Fatihah. اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ “Tunjukilah kami ke jalan yang lurus.” Menurut gue, dua ayat ini sangat mencakup atas segala apa yang kita butuhkan. Sudah jelas, Al-Fatihah induk Al-Qur’an. Dan segala apa yang...