Baitii jannatii..
Apa yang terlintas dibenak kalian ketika mendengar kata rumah?
Berisik atau menenangkan?
Ya. Apapun, dimana pun dan bagaimana pun kondisi rumah kita, rumah adalah tempat kembali untuk pulang.
Rumah gak melulu tentang di mana tempat tinggal kita. Karna gak sedikit orang yang bahkan benci untuk pulang. Tapi, di mana ada tempat untuk kembali, disitulah kita menganggap itu adalah rumah. Ya. Sosok yang ingin kita temui saat usainya menjalani aktifitas hiruk pikuk dunia luar.
Walaupun jelek, kecil dan berantakan, jika ada seseorang yang kita tunggu-tunggu perjumpaannya, rumah itu tetaplah indah. Tetap menenangkan dan membahagiakan.
Selain menjadi tempat rindu untuk kembali pulang, menurut gue, 'rumah' menjadi satu-satunya tempat penerimaan yang paling tulus. Di 'rumah', gue gak perlu jaga image baik dengan sekitar. Orang-orang di dalam rumah, yang paling paham gue, tau keburukan gue. Tentu gue pun gak perlu takut di judge dengan adanya kekurangan gue selama ini. Ya jujur aja, saat keluar rumah, pasti kita selalu ingin menampilkan yang terbaik buat orang sekita bukan? Apalagi sosial media.
Gue bisa jadi diri gue sendiri di 'rumah'.
Itulah kenapa, untuk orang-orang yang mau menikah, selalu ada pesan agar jangan salah memilih pasangan. Carilah yang membuat kita nyaman. Mencari tempat untuk kembali pulang ke rumah yang menenangkan. Karna, seperti di rumah sendiri, tentu gak perlu adanya pencitraan lagi. Ketika kita memutuskan untuk menikah, kata-kata 'terbukanya sifat asli pasangan' jadi gak ada (bukan gada sih, jadi gak terlalu berekspektasi tinggi sama pasangan). Karna kita sejak awal telah benar-benar memastikan tempat untuk kembali pulang yang tepat. Tanpa pencitraan, tanpa menutupi dengan keindahan-keindahan yang fana. Ngerti gak? Gue bingung nyampein-nya gimana lagi heuheu.
Jadi intinya, kalo kita banyak kagetnya setelah menikah, dan kita gak saling nerima kekurangan pasangan kita, apakah kita tetep bisa mempertahankan dia sebagai rumah untuk kembali pulang? Uhuy. Begitulah ~
Tampil apa adanya-lah sejak awal. Dan benar-benar memilih seseorang yang tepat. Seseorang yang kita yakini kalau dia adalah tempat terbaik untuk kembali pulang ke rumah. Menjadi tempat bercerita segala hal, meluapkan keluh kesah. Rumah yang menenangkan, menentramkan dan membahagiakan. Rumah di mana kita gak perlu merasa takut akan penolakan. Agar setelah menikah nanti sama-sama mengusahakan yang terbaik, menjadi pribadi yang lebih baik lagi, dan sama-sama berjuang untuk menciptakan rumah sebagai tempat untuk pulang yang terindah, disisi-Nya.
Gimana, udah nemu rumah yang tepat buat lo pulang?
Comments
Post a Comment