Bulan Agustus terasa banget lamanya. Di bulan ini juga ngerasa banyak pelajaran dan dibuat mikir tentang masa depan. Sebenernya gak banyak momen yang terjadi di bulan ini sih, cuma kayak bener-bener dibuat mikir, ‘Sebentar lagi gue selesai S1, nih’. Liburan selama dua bulan, sebelum masuk ke semester baru, semester tujuh. Tahun terakhir di Al-Hikam.
Di bulan ini, juga bulan
kelahiran mama. 12 Agustus. Alhamdulillah, tahun ini bisa ikut ngerayain ulang
tahun mama di rumah. Tahun-tahun sebelumnya bukan waktu liburan.
Selalu bersyukur masih ada mama
sekarang. Karena ada momen sedih di mana jadi buat kita wanti-wanti perkara
umur mama. Semoga mama bisa jadi saksi aku menikah nanti. Ketemu sama cucu dari
anak-anakku.
Mama, 12 Agustus 1971. Mama. Yang
bisa segalanya. Walau mama suka ngomong dengan nada tinggi, tapi sebenernya itu
gak lagi marah. Kadang aku yang suka jawabin omongan mama aja ngiranya mama
marahin aku. Emang dasar akunya aja yang kurang ajar. Itu emang cirinya mama. Walau
agak emosian, tapi itu semua demi kebaikan anak-anaknya.
Mama. Ibu Rumah Tangga. Kerjaannya
dari pagi sampe malem yang ngurus rumah aja. Inget dulu bangunin aku buat berangkat
sekolah. Aku yang susah dan gamau bangun, mama yang selalu ngomel buat bangun. Nyiapin
sarapan buat berangkat sekolah.
Masa kecil ternyata bikin kita
kangen sama momen-momen kayak gitu. Momen di mana orang tua kita pun masih
muda. Huhu. Sehatkanlah aba dan mama, berkah umurnya.
Mama. Istri dari aba yang
seorang ustaz. Ngeliatnya tuh kayak capekkkkk banget. Aba yang gak terkenal aja
tamunya banyak ya. Mama yang ngurus perdapuran sendiri, sempet bikin gue mikir
buat gamau punya suami ustaz, karena capek, haha. Tapi ternyata, pas mondok di
banyak tempat, gak semua istri ustaz ikut terjun langsung ngurus kebutuhan
suaminya. Malah banyak yang kayak ratu, diam aja duduk di singgasananya, segala
urusan perdapuran diurus yang lain. Ada plus minus nya sih. Kadang pengin ngabdi
banget sama suami. Ngelakuin semuanya sendiri buat suami. Tapi kadang takut ngerasa
capek dan bosen dengan segala aktifitas sebagai ‘istri’.
Ditambah, di bulan Agustus ini
dikasih kesempatan buat ikutan jaga day care. Hari Jum’at dan Rabu. Waktu pertama
kali, antusias karena merasa sudah berpengalaman ngurus anak melalui keponakan.
Ada tiga anak laki-laki yang harus dijaga dari jam delapan sampai menjelang isya.
Gue ikut main pas mereka lagi main. Berlagak jadi anak kecil, nyeimbangin usia
mereka. Agak bete karena gak bawa HP. Tapi kalo gue bawa HP, yang ada anak-anak
malah dikacangin, hehe.
Hari Rabu, kali kedua gue
mengiyakan ajakan temen buat jaga, anak-anak ada lima. Personil lengkap. Empat laki-laki,
satu perempuan. Gue pahamin pola sikap mereka. Sampe akhirnya ada momen di mana
mereka semua tidur siang, gue bangun duluan, buat salat zuhur dan makan siang. Gue
pandangin mereka.
Lu tau gak, entah kenapa saat
itu di otak gue bilang, “Belum siap buat nikah rasanyaaaaaa.”
Pernyataan yang gue juga kurang
tau atas dasar apa. Tapi, gue merasa belum siap buat nerima kalau gue bakalan ngurus
anak selama sisa hidup gue nantinya.
Gak ada kata yang bisa
mendeskripsikan gimana rasanya ngurus anak. Capek, lelah, bosen, kesel, dan
lainnya, menurut gue, kata-kata itu terlalu kasar buat dilontarkan dari mulut
seseorang yang fitrahnya sudah ditakdirkan untuk menjadi ibu. Serius, menurut
gue itu terlalu kasar dan gak pantes buat dikeluhkan.
Karena, ketika kita sebagai
seorang perempuan, memutuskan untuk menikah, seharusnya dengan sangat sadar,
keputusan yang kita ambil itu berdampak pada jalan kehidupan kita ke depannya. Gak
cuma jadi seorang istri, tapi (jika Allah kehendaki) tentu akan jadi seorang
ibu.
Makanya kenapa, banyak ibu yang
gak siap dengan fase barunya. Bahkan sampai stress; baby blues dan postpartum.
Mereka belum siap untuk menjadi ibu. Yang biasanya hanya mengurus diri sendiri,
sibuk mengembangkan diri. Dengan lahirnya anak kita, kita harus membagi diri
dan waktu kita. Untuk suami dan mengurus anak. Gue yang kemarin cuma ngurus anak
dua hari aja kayak dibuat mikir, ‘Ini gue bakalan dan harus kayak gini
selamanya lho!’
Apalagi juga ketemu orang-orang
yang menceritakan perjalanan karirnya. Bercerita seolah mengajak kita, ‘Ayo,
lanjut lagi belajarnya. Lanjut S2, lanjut S3’. Haha. Gak salah sih. Menyemangati
seseorang supaya gak berhenti cuma di S1 aja. Lingkungan emang sangat mempengaruhi,
guys.
Balik lagi ke topik awal. Di sini,
gue menyimpulkan (anjay gaya banget, padahal belom nikah) bahwa, ketika kita mau
menikah, kita harus bener-bener menyadari kalau nikah itu gak cuma menjadi
seorang istri dari laki-laki yang kita cintai dan mencintai kita. Gak cuma
bucin bucinnya aja. Gak cuma punya pasangan aja. Di lubuk hati terdalam, kita
harus sadar dan menerima dengan lapang dada, beneran harus nerima secara sadar,
kalo kita nantinya juga akan ganti fase menjadi seorang ibu.
Ibu yang mengurus anak; dari mengandung,
melahirkan, menyusui, mengasuh dan membesarkan. Menurut gue, semua itu gak akan
terasa beban kalo diri kita menerima seutuhnya fase yang telah terjadi. Ikhlas.
Dan bersyukur. Anjay. Kedengerannya emang bosen banget ya nasihatnya. Tapi
kunci dasarnya ya emang itu. Kalo kita merasa itu semua beban, bawaannya jadi
ngeluh dan gak ikhlas, kan kasian juga suaminya.
Juga yang terpenting: SUPPORT
SUAMI!!!
Jalanin, nikmatin. Nanti bakalan
beneran jadi nikmat. Itulah kenapa jadi ibu itu banyak banget pahalanya.
Hal-hal lain seperti masih mau
belajar, kerja, atau melakukan aktifitas lain, perlu banget komunikasi sama
suami. Kalo dapet izin dari suami, dan urusan rumah aman, insya Allah semua berjalan
lancar. Huaaa. Gaya banget eug.
Oh ya, untuk orang yang gampang
bingung kayak gue ini, ada momen di mana pengin jadi IRT aja, ada juga momen di
mana juga ingin melakukan hal lain. Menurut gue pribadi, pentingnya punya
motivasi dan role model. Tokoh baik yang bisa jadi panutan. Menjadi istri yang
salihah dan menyenangkan. Karena kalo gak punya panutan untuk sebagai cerminan,
kayaknya gue bakalan sering terombang-ambing dengan hal yang gak semestinya
terjadi.
Apapun profesinya, full jadi IRT di rumah, atau kerja di luar, fokus ke dunia karir, perlu ada role model, untuk jadi panutan. Panutan yang mencontohkan bagaimana jadi istri yang baik. Istri yang mampu manage pekerjaannya dengan tetap mampu mengurus anak.
Gimana caranya supaya tetep jadi istri yang ikhlas, sabar, bersyukur, berani dan juga bisa tetap berkarya. Sosok suami juga bisa banyak mengenalkan pada orang-orang yang bisa dijadikan motivasi. Supaya suami bersyukur punya kita, dan kita bersyukur punya suami kayak dia. Uhuy. Siapa dia?
Kok isinya jadi kayak gini yaaaa?
Jadi pada intinya, lu udah siap
nikah belum, Fa?
“Insya Allah siap. Cuma harus
lebih disadarkan lagi nantinya, kalau fase kehidupannya akan berubah dan harus
bisa menerima. Menyiapkan ruang ikhlas, sabar dan bersyukur yang sangat dalam. Dan
harapannya, semoga suaminya juga mau dan bisa diajak kompromi buat ngurus anak bareng-bareng, yaaa.” Kata Ufa di dalam hati.
Comments
Post a Comment