Keresahan gue atas, “Harus banget nikah
ya?”
Sering kali berbagai kenyataan jadi seorang
wanita bikin gue merinding. Bikin gue gak mau dan takut nikah haha.
If you know you know.
Jujur, otak gue agak belum bisa menerima
kenyataan kalo kita sebagai perempuan itu harus punya anak.
No.
Bukan di bagian punya anaknya.
Tapi….
Di bagian harus bikin anaknya. Haha. Iya.
Jujur, gue merinding kalo mengingat setelah nikah itu sudah selayaknya harus
berhubungan intim. Suami istri.
Jujur. Gue. Takut.
Pertama, malu. Karena kita harus membuka
segala pakaian kita di hadapan orang baru. Dan itu laki-laki. walau kita suka
sama laki-laki itu, ya kan tetep aja bayangan gue pasti malu nanti.
Kedua, (katanya) sakit. Dan walau (katanya)
sakit di awal-awal aja, tapi kan tetep aja, buat yang masih perawan kan sakit.
Dan gue takut buat ngelewatin fase pertama-tama itu.
Ketiga, gue amat sangat menolak tua. Masih
mau dipanggil kakak, bukan menjadi seorang ibu-ibu hehe.
Ditambah, di Instagram, gue nge-follow
influencer non-Islam. Entah kenapa kayak suka aja. Lebih suka ngeliatin daily
activities non-Islam, daripada orang-orang Islam. Dan yang gue liat itu
pasutri.
Banyak pasutri dari golongan mereka bilang
buat jangan punya anak kalo belum siap. Statement-nya bener sih. Karna
banyak dari kita yang sebenernya belum siap segalanya, tapi karna dorongan hawa
nafsu aja, langsung punya anak. Bahkan banyak. Padahal gak ada pemasukan yang
stabil. Malahan, serba kekurangan. Jadinya membangun rumah tangga yang
ekonominya kurang. Hidup susah.
Ada salah satu suku yang gue liat,
kebanyakan dari suku itu tuh kek doyan banget bikin anak. Banyak anaknya. Kek,
“Woi, gila. Anak masih pada kecil-kecil, bikin baru mulu.” Huhu takut.
Ngebayangin gue yang ada diposisi itu. Di gas terus sama suami. Huaaa.
Mereka juga berpendapat bahwa menikah gak
cuma berhubungan badan aja. Cinta gak melulu tentang nafsu. Sembari menunjukkan
keseharian mereka yang amat sangat ambis dengan pekerjaannya, seperti bisnis,
dll.
Dan hal itu bikin gue banyak mengiyakan statement
mereka.
“Iya yaaa. Menikah gak cuma hubungan badan
aja. Dengan saling memberi dukungan, kasih sayang, dll, itu juga bentuk dari
cinta untuk pasangan suami istri.” Pikir gue.
Gue jadi sering membandingkan pemikiran
orang-orang non-Islam dengan kenyataan-kenyataan yang banyak terjadi pada umat
Islam, terutama sekeliling gue.
Sampai suatu ketika, berhubung skripsi gue
tentang pernikahan, tentu menyebabkan gue buat banyak cari dan baca buku
tentang pernikahan. Buku, jurnal, pdf, artikel, kitab, dll, tentang nikah.
Walau gak bener-bener gue baca semua, karna gue cuma cari apa yang gue butuh
aja.
Salah satu yang jadi bahan skripsi gue
adalah hikmah dan atau tujuan menikah. Yap. Dari semua yang gue baca, tentu
isinya sebelas dua belas samanya.
Dan itu bener-bener bikin gue setuju dalam
versi yang berbeda. Kalo sebelumnya menyetujui pernyataan orang-orang
non-Islam, kalo sekarang gue kek pasrah dan mengiyakan pernyataan agama gue
sendiri, hehe.
Ini full copy paste ya wkwk. Pertama, menikah
merupakan sunnah para nabi dan petunjuk para rasul yang mesti dijadikan sebagai
teladan. Kedua, pernikahan merupakan bagian dari karunia Allah swt. Ketiga, menikah
merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah swt. Keempat, menikah merupakan
ibadah yang dapat menyempurnakan agama seorang Muslim dan dia dapat menghadap
Allah swt. dengan kondisi yang paling baik dan suci.
Syariat Islam memberitahukan bahwa Allah
swt. akan memberi kemudahan dan kecukupan bagi orang yang menikah. Allah swt.
juga akan memberi kemampuan dan kekuatan baginya untuk menanggung beban
tanggung jawab. Pernyataan ini bertujuan untuk memberi motivasi kepada orang-orang
yang enggan dan takut menikah karena beban tanggung jawab pada keluarganya.
Perempuan merupakan sesuatu yang terbaik
yang ada di sisi seorang lelaki. Imam Tirmidzi dan Ibnu Majah meriwayatkan
hadits dari Tsauban ra. bahwasanya pada saat Allah swt. menurunkan ayat,
"Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya
pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan
mendapat) siksa yang pedih,” (At-Taubah (9): 34), kami bersama Rasulullah saw.
Kemudian di antara sahabat ada yang berkata, "Ayat ini diturunkan
berkaitan dengan emas dan perak. Beritahukan kepada kami, apa perkara yang
paling baik yang seharusnya kami cari?” Rasulullah saw bersabda, “Lisan yang
selalu berdzikir, hati yang selalu bersyukur, serta seorang istri yang beriman
dan membantunya (meningkatkan) keimanannya.”
Dah. Sampe sini gue mikir, betapa Allah
emang sangat memuliakan ibadah terpanjang itu. Sebagai penyempurna separuh
agama. Ditambah, tugasnya seorang suami yang membantu meningkatkan keimanan
istri. Betapa pentingnya cari suami yang emang mau nuntun kita agar lebih deket
sama Allah.
Hikmah Pernikahannya. (copy paste lagi
wkwk).
Islam menganjurkan umatnya untuk menikah
karena terdapat banyak hikmah yang dapat dirasakan oleh yang bersangkutan,
masyarakat luas, dan kehidupan manusia. Di antara hikmah pernikahan adalah:
Pertama, sesungguhnya naluri seksual
merupakan naluri yang sangat kuat yang selalu mengarahkan manusia untuk
berusaha mencari sarana untuk menyalurkannya. Jika tidak terpenuhi, dia akan
dihinggapi rasa gelisah yang berkelanjutan bahkan bisa terjerumus pada hal-hal
yang tidak baik. Pernikahan merupakan sarana terbaik untuk menyalurkan naluri
seksual manusia. Pernikahan dapat menjauhkan manusia dari rasa gelisah, dapat
menjaga pandangan mata dari sesuatu yang dilarang, dan beralih pada sesuatu
yang dihalalkan Allah swt.
Dari hikmah pertama ini bikin gue
ngangguk-ngangguk sambil mikir dalem hati. Berarti ya emang fitrahnya laki-laki
dan perempuan punya naluri syahwat dan harus ada tempat yang bener buat
disalurkan. Yaitu dengan menikah. Dari pada zina, ya kan?
Walau jujur, di otak gue kek masih gak
nerima karna seolah kita jadi objeknya laki-laki banget gitu. Yang apa-apa
pikirannya sex dan bikin anak terus.
Tapi emang udah fitrah lu jadi perempuan, dilahirkan dengan fungsi itu, Fa! Tempatnya perempuan untuk berkembang biak,
dan lu harus terima itu. Karna kalo fitrahnya laki-laki untuk mencari nafkah.
Kedua, pernikahan merupakan sarana terbaik
untuk mendapatkan keturunan, menjaga keberlangsungan hidup dan dapat
menghindari terputusnya nasab yang mendapatkan perhatian tersendiri dalam
Islam. Dalam hadits sebelumnya Rasulullah saw.
Nah, kayak yang gue pikirin sebelumnya.
Tertuju pada salah satu suku yang demen banget bikin anak. Batin gue, “Kalo
bukan kita, mau dilanjut sama siapa agama Allah ini, Fa? Lu rela umat Islam
habis dan diteruskan sama yang bukan umat Islam? Jadi lu jangan merasa risih
dengan hal kayak gitu. Urusan ke depannya setelah nikah, banyak rezeki atau
enggak ya itu urusan Allah. Lu gausah ngerasa aneh. Malah orang-orang yang
non-Islam pun banyak yang sengaja anaknya banyak juga, dan mereka gak KB. Kalo
kita, ditakut-takutin dengan pemikiran takut gabisa nguruslah, takut
nyusahinlah, dll. Itu yang bikin umat Islam jaman sekarang cuma milih punya dua
anak aja, bahkan gamau punya anak. Inget, Fa, niatin buat melanjutkan
perjuanganya Allah!” Begitu batin gue bergemuruh.
"Kawinilah perempuan yang penuh kasih
sayang dan dapat memberikan keturunan (subur) karena sesungguhnya aku akan
membanggakan banyaknya diri kalian kepada para nabi pada hari kiamat.” Kata
nabi.
Ketiga, rasa tanggung jawab untuk menafkahi
keluarga dan mengayomi anak-anak dapat menumbuhkan semangat untuk bekerja dan
menampakkan kreatifitasnya. Semua itu dilakukan sebagai rasa tanggung jawab
untuk memenuhi kebutuhan rumah-tangganya.
Ya betul. Karna kalo gak gitu, kita gabakal
ada rasa semangat buat kerja dan berjuang. Karna ngerasa gak punya tanggung
jawab.
Keempat, pembagian tugas kerja, baik yang
di dalam (istri) maupun yang di luar (suami) dengan tetap mengacu pada
tanggungjawab bersama antara suami istri. Istri bertanggungjawab untuk mengurus
rumah tangga, mendidik anak, dan menciptakan suasana yang baik yang dapat
menghilangkan penat suami setelah bekerja dan mengembalikan semangatnya untuk
selalu berusaha dan bekerja. Sementara itu, suami bekerja untuk memenuhi
kebutuhan finansial rumah tangganya dan memberi nafkah kepada keluarganya.
Dengan pembagian tugas yang seimbang seperti ini, semuanya akan melaksanakannya
dengan tetap mengharap rida Allah swt. dan mendapatkan hasil yang
diberkahi-Nya.
Betul banget. Dengan menikah, semua jadi
saling ada keterkaitan. Setelah suami capek kerja diluar, udah jadi fitrahnya
kita sebagai perempuan buat selalu nyemangatin dan ngelayanin. Inget, Fa, udah
jadi fitrahnya elu nanti buat melayani. Jangan merasa terbebani, pokoknya
jalani!
Sebenernya ada
banyak yakan, cuma hal di atas ini yang emang sangat memenuhi pemikiran gue
perihal pernikahan. Lagi-lagi gue harus menyadari bahwa itu emang udah
fitrahnya gue sebagai perempuan.
Lu harus
nerima dan menjalani fase itu nantinya.
Nasihat Umamah binti al-Harits kepada
putrinya menjelang pernikahannya, yang di dalamnya dia menjelaskan dasar-dasar
kehidupan suami istri yang penuh kebahagiaan.
Langsung ke pesan yang kesekian, yang emang
amat sangat gue bold dalam otak gue.
“Wahai putriku, engkau akan berpisah dengan
rumah yang pernah menyatu denganmu dan meninggalkan sarang yang pernah
memberkanmu, menuju sarang yang belum engkau kenali dan pendamping yang belum
pernah dekat denganmu. Dengan kekuasaannya dia akan menjadi pengawas atas
dirimu dan orang yang menguasaimu. Maka jadilah diri sebagai budaknya, niscaya
dia akan menjadi hamba yang patuh bagimu. Jagalah sepuluh perkara, niscaya akan
menjadi simpanan bagimu, yaitu:
Pertama dan kedua, tunduk kepadanya dengan
penuh kerelaan, mendengar dan taat kepadanya dengan cara yang baik.
Dah itu aja. Haha. Karena emang itu yang
harus selalu gue inget.
Dari tulisan ini, bukan berarti sebelumnya
gue gamau nikah, gamau taat sama suami, dan gamau punya anak. Cuma emang otak
guenya aja yang masih belum nerima dan takut ada di fase itu. Ditambah, di IG gue malah suka ngeliatin kontennya pasutri non-Islam. Malah jadi ke distrak dengan pemikiran mereka huhu.
Di 2026 ini, kalo emang gue ditakdirkan
buat nikah di tahun ini, Insya Allah gue siap.
Semoga (entah siapa) calon suami gue
nantinya, seseorang yang nikahin gue bukan karna ngebet nikah bahkan cuma
mandang fisik gue. Gue amat sangat sering doa ke Allah. Semoga niatnya emang
bener-bener menikah yang karna Allah, niat ibadah bareng, mau nuntun gue, dan
yang pastinya mau ngurus anak bareng. Bukan cuma sekadar mau banyak bikin anak
aja, tapi emang bertanggungjawab atas segala tugasnya, karna rida Allah,
melanjutkan dakwah pertahanin agama Allah.
Karna hasil survey orang-orang yang gue
temuin yang udah nikah, mereka ngasih pernyataan yang sama perkara pernikahan.
“Intinya kalo suaminya enak, kita juga enak.”
Dari sini bikin gue sering berdoa, semoga
suami gue enak. Sama-sama saling dukung dan bantu. Kita layanin suami dan suami
memperlakukan kita dan anak kita juga dengan baik. Āmīn paling serius pokoknya.
Teruntuk suamiku,
Dari istri bocilmu yang menolak tua.
Comments
Post a Comment