Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2018

Mengingat Kematian 2

Mengingat umur bertambah. Sama pula dengan mengingat semakin dekatnya kematian. Berhitung mundur atas usia yang semakin berkurang. Seperti sedang menjemput kematian. Menunggu, kapan waktu itu tiba. Sudahkah kita mengingat kematian? Kalau belum, mari kita merenung. Andai suatu hari tiba diujung penantian. Tugasnya kini ingin dilaksanakan. Dengan jubah besar. Tampak seram bagi yang sedikit amalnya. Namun tampak teduh bagi yang banyak amal kebaikannya. Ya. Malaikat itu datang. Satu di antara sepuluh malaikat yang tugasnya kita hafalkan sedari kecil. Satu di antara sepuluh malaikat yang sepertinya tak ingin di jumpa. Namun kejadian itu pasti. Setiap manusia akan mengalaminya. Dan ketika sudah tiba saatnya, sosok itu mendekat. Seolah menunggu lama, hingga akhirnya menjemput pada waktunya. Tak ada yang bisa mengelak. Bahkan memperlambat waktu. Semua seolah sudah menjadi bagian dari takdir. Dan ketika sudah tiba saatnya; malaikat Izrail, mencabut nyawa. "Laa ilaa ha illa A...

Menjadi Lebih Baik di Hari Ini

Pernahkah berkata, "hari ini harus lebih baik dari hari kemarin." Atau, "hari esok harus lebih baik dari hari ini." Aku pun pernah. Bahkan sering. Hampir setiap hari. Pernahkah kamu merenungkan, pekerjaan apa saja yang sudah dilakukan pada hari ini? Kalau belum, renungkanlah sekarang. Walau hanya lima menit. Adakah kegiatan yang bermanfaat yang sudah kamu lakukan pada hari ini? Kalau belum, kenapa? Bukankah kita selalu mengucap doa, "semoga hari ini lebih baik dari hari kemarin." Lantas, apa yang membuatmu stuck dipekerjaan yang itu-itu saja, bahkan nggak pernah ada perubahan? Begitu pula dengan ibadah, aktifitas, belajar, dan kegiatan bermanfaat lainnya. Sudahkah, "hari ini lebih baik dari hari kemarin?" Kuberi satu contoh. Pada hari Senin, aku mengerjakan salat lima waktu dengan tepat waktu. Esok harinya, aku menyertakan salat qabliyah sebelum salat fardhu. Esok di hari Rabu, dengan landasan, "hari ini lebih baik dari...

Apa itu Hijrah?

Hijrah pada zaman nabi Muhammad berartikan bahwa untuk menyelamatkan akidah Islam para pengikutnya. Nabi Muhammad hijrah dari Mekkah ke Madinah. Kala itu, di Mekkah banyak manusia yang memiliki sifat jahiliyah . Zamannya kebodohan. Lantas Allah memerintahkan nabi Muhammad untuk hijrah; berpindah tempat, dari Mekkah ke Madinah. Saat itu nabi Muhammad telah memiliki beberapa pengikut setia yang memeluk agama Islam di kota Madinah. Setelah berhijrah, nabi Muhammad berhasil dengan sukses membangun kota Madinah sebagai pusat pemerintahan dan penyebaran Islam. Begitulah makna dan tujuan hijrah pada zaman nabi Muhammad. Berpindah tempat, dari yang awalnya memang sudah baik, berpindah untuk menjadi lebih baik lagi. Menyesuaikan lingkungan sosial yang turut menerima dakwah nabi Muhammad. Di zaman sekarang ini, apa yang terlintas dibenak kalian, saat mendengar kata "hijrah"? "Sok alim banget, sih." "Sok bener banget, sih." "Nggak usah sok, deh. Dulu juga...

Salahkah Memilih Teman? 2

Salahkah kita memilih teman? Dipenjelasan sebelumnya, aku sedikit menuturkan pendapat kalau kita bebas berteman dengan siapa saja, namun tahu aturan. Di sini aku ingin menambahkan. Pernahkah kita merasa pada diri sendiri, bahwa sifat dan akhlak kita berubah menjadi buruk? Apakah ada unsur karena pergaulan, atau kita memang tidak membenahi diri untuk menjadi lebih baik? Namun sejatinya, menurutku, pergaulan memang sangat berperan penting dalam kehidupan kita. Karena, dengan siapa kita bergaul, di situlah letak sifat dan akhlak kita berada. Di sini bukan seolah bilang kalau, "lo main sama preman, akhlak lo juga buruk." Atau, "lo main sama si kutu buku , sifat lo juga jadi suka baca buku." Tidak. Tapi seolah, "apa kita akan terpengaruh dengan si preman atau si kutu buku ?" Karena itu, pernahkah kita merasa bahwa ada salah satu dari sifat dan akhlak kita yang terbawa arus? Positif? Atau negatif? Dengan bertambahnya nilai positif yang ada di diri kita,...