Skip to main content

Mengingat Kematian 2

Mengingat umur bertambah.
Sama pula dengan mengingat semakin dekatnya kematian.
Berhitung mundur atas usia yang semakin berkurang.
Seperti sedang menjemput kematian.
Menunggu, kapan waktu itu tiba.

Sudahkah kita mengingat kematian?

Kalau belum, mari kita merenung.

Andai suatu hari tiba diujung penantian. Tugasnya kini ingin dilaksanakan. Dengan jubah besar. Tampak seram bagi yang sedikit amalnya. Namun tampak teduh bagi yang banyak amal kebaikannya.

Ya. Malaikat itu datang.
Satu di antara sepuluh malaikat yang tugasnya kita hafalkan sedari kecil.
Satu di antara sepuluh malaikat yang sepertinya tak ingin di jumpa.

Namun kejadian itu pasti. Setiap manusia akan mengalaminya.

Dan ketika sudah tiba saatnya, sosok itu mendekat. Seolah menunggu lama, hingga akhirnya menjemput pada waktunya.

Tak ada yang bisa mengelak. Bahkan memperlambat waktu. Semua seolah sudah menjadi bagian dari takdir.

Dan ketika sudah tiba saatnya; malaikat Izrail, mencabut nyawa.

"Laa ilaa ha illa Allah..."

Terputus sudah tugas di dunia. Tak ada yang perlu dicemaskan lagi perihal dunia. Saat itu, malaikat sudah menyelesaikan tugasnya. Dan kembali melakukan tugasnya pada orang lain.

Kepada yang bertaqwa.

Semuanya seolah nikmat. Tak perlu ada yang dirisaukan dari dunia. Ada kehidupan yang abadi setelahnya.

Semua butuh waktu. Menunggu hari itu, ketika semua akan dibangkitkan dari alam kuburnya.

Sembari menunggu, yang bertaqwa dapat tidur dengan tenang di alam kubur. Tanpa takut akan siksaan. Dengan percaya diri ada Allah sebagai teman.

Kepada sang pengingkar.

Semua seolah keburukan sedang menimpa. Rasa takut yang sangat dahsyat menyelimuti. Merisaukan segala apa yang telah diperbuat di dunia.

Semua butuh waktu. Menunggu hari itu, ketika semua akan dibangkitkan dari alam kuburnya.

Sembari menunggu, sang pengingkar janji Allah tak dapat tidur tenang di alam kubur. Bersedih akan siksaan yang terus ditimpakan. Berharap ada sang penolong. Namun nyatanya tak pernah ada.

Rasa penyesalan menghampiri. Berharap dapat kembali, untuk memperbaiki. Namun, itu semua hanyalah ilusi. Karena itulah akibat pengingkaranmu sendiri.

Sudahkah kita mengingat kematian?

Sudikah kita mengingat kematian?

Takutkah kita mengingat kematian?

Kenapa?

Bukankah kematian itu nikmat?

Tanpa perlu memikirkan urusan dunia yang memusingkan. Karena ada surga-Nya yang lebih menyenangkan.

Pernahkah kita merindukan kematian?

Dengan mengingat kematian, seolah kita terus mengingat kuasa Allah. Percaya akan takdir Allah. Terima akan rencana Allah.

Dengan mengingat kematian, senantiasa kita akan terus beristighfar. Mengingat betapa banyaknya dosa, perbuatan maksiat yang disengaja maupun tidak disengaja.

Dengan mengingat kematian, seolah kita meyakini, bahwa tak ada yang abadi dalam dunia ini. Bahwa tak ada yang perlu kita banggakan, kita cintai secara berlebih. Bahwa di dunia hanyalah sementara.

Karena, akan selalu ada yang datang, dan pergi.

Semua tak pernah abadi.

Apa yang kita rasakan saat mengingat kematian?

Rasa takut menghampiri. Rasa gelisah menyelimuti. Namun, maksiat tetap dijalani. Ada rasa tak berani membayangi, membuang rasa, seolah kematian tak pernah terjadi.

Mengapa?

Karena hati belum sepenuhnya bertaqwa. Merasa takut, tapi tak membenahi diri. Merasa gelisah, tapi tak mengambil pelajaran dari kisah sebelumnya.

Karena hati belum sepenuhnya bertaqwa. Merasa takut, bukankah janji Allah itu pasti? Lantas, apa gunanya tetap berbahagia sementara kematian pasti menghampiri?

Karena hati belum sepenuhnya bertaqwa. Apa tak ada sedikit pun rasa merindukan surga?
Apa tak ada sedikit pun rasa merindukan Sang Pencipta?

Apa yang kita rasakan saat mengingat kematian?

Rasa takut menghampiri. Sembari menangisi kesalahan pribadi. Berharap Allah Maha Mengasihi. Berharap Allah meridhai.

Rasa rindu itu selalu ada. Rindu ingin berjumpa, kepada Sang Pencipta.

Tak inginkah bertemu dengan Allah?

Kalau pengin, meninggal dulu, hehe.
Kalau pengin, bertaqwa dulu. Maka, kita akan berbahagia dalam menjemput kematian. Merasa yakin dengan janji Allah akan surga-Nya.

Dengan bertaqwa, kita akan merasa siap ketika tiba saatnya ajal menjemput.

اللّٰهُمَّ انِّي اسْأَلُكَ حُسْنُ الْخَاتِمَة 🤲🏻🙏🏻❤️

Comments

Popular posts from this blog

Semua Serba Gantian 2

Di era gen z ini, banyak yang pada nikah. Yang belom jemput takdirnya sedikit mencemaskan diri. "Jodoh gue ada gak yaaa?"  Sebenernya topik ini sama aja kayak di part pertama. Tapi akhir-akhir ini, feel-nya tuh lagi mikirin kayak gini mulu. Selain banyak yang nikah, tentunya yang meninggal juga banyak kan. Sama kayak judulnya, 'Semua Serba Gantian'. Sadar gak sadar, tiba-tiba udah menuju 25 tahun.  Katanya, dengan menikah seseorang udah berada di tahap selanjutnya. Nyatanya. Ya kita tetep jalan di tempat. Masih sama di dunia. Bedanya cuma ngejalanin kehidupan bareng orang baru aja.  Karna kenyataannya, yang satu langkah ke depan itu orang-orang yang telah mendahului.  Dari bocil beranjak dewasa. Menikah jadi orang tua. Jadi tua dan tinggal nunggu panggilan aja. Syukur-syukur meninggalnya pas tua, coba kalo pas bocil. Ya jelas. Mereka jadi selangkah lebih maju dari kita.  Tiba-tiba punya keponakan. Banyak. Udah pada gede semua. Sepupu udah pada nikah semua. Gak s...

Tasmik Al-Qur'an di Era Kepenulisan

 Jum'at, 8 Agustus 2 025. Salat Zuhur terakhir di kamar lima. Bertepatan dengan khataman rutinan terakhir pula di kamar lima. Ya. Pagi tadi kamar lima diketuk oleh seseorang. Ustazah ternyata. Bilang kalau kamarnya suruh dirapihin. Mau dipake. seperti biasa aku nyengir, ngangguk sambil bilang iya. Rasa-rasanya sedih sekali (lebay dikit). Sejak pindah ke lantai satu tahun lalu, lorong-lorong jadi tempat persinggahan awal gue buat ngaji ataupun ngelakuin segala hal di atas meja belajar. Sampai akhirnya ngisi kamar-kamar yang kosong, dan sering juga diusir ustazah buat keluar. Gak boleh dipake. Bukan hak kita, katanya. Bukan gue namanya kalo gak nakal dikit, Ya gue gatel lah, tetep masukin kamar kosong yang beloman dikunci. Sampe akhirnya, istikamah-lah kamar lima yang emang gak dikunci kayak kamar-kamar kosong sebelumnya. Walau ujung-ujungnya tiap kali ustazah ke lantai satu pasti selalu di notice, "Mbak, keluar mbak. Gak boleh dipake kamarnya..." bla.. bla.. bla.. Pertama,...

Favorites

Tiap-tiap dari kita (terkhusus penghafal quran) pasti punya ayat favorit. Ayat kesukaan. Punya ayat andalan yang dijadiin penguat dalam kehidupan. Gue juga punya. Tapi pasti penghafal quran lainnya, punya ayat di surah tertentu, yang lafaznya mungkin panjang-panjang. Gue enggak. Mungkin dari anak kecil sampe orang tua hafal ayat favorit gue. Dari penghafal quran bahkan yang awam agama sekalipun, mereka juga hafal ayat kesukaan gue. Ayat yang senantiasa kita ulang tujuh belas kali dalam setiap kali salat wajib. Ditambah kalo ngerjain salat sunah. Ditambah kalo dibaca juga diluar waktu salat. Dua ayat surah Al-Fatihah. اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ “Tunjukilah kami ke jalan yang lurus.” Menurut gue, dua ayat ini sangat mencakup atas segala apa yang kita butuhkan. Sudah jelas, Al-Fatihah induk Al-Qur’an. Dan segala apa yang...