Skip to main content

Apa itu Hijrah?

Hijrah pada zaman nabi Muhammad berartikan bahwa untuk menyelamatkan akidah Islam para pengikutnya. Nabi Muhammad hijrah dari Mekkah ke Madinah. Kala itu, di Mekkah banyak manusia yang memiliki sifat jahiliyah. Zamannya kebodohan.

Lantas Allah memerintahkan nabi Muhammad untuk hijrah; berpindah tempat, dari Mekkah ke Madinah. Saat itu nabi Muhammad telah memiliki beberapa pengikut setia yang memeluk agama Islam di kota Madinah.

Setelah berhijrah, nabi Muhammad berhasil dengan sukses membangun kota Madinah sebagai pusat pemerintahan dan penyebaran Islam.

Begitulah makna dan tujuan hijrah pada zaman nabi Muhammad. Berpindah tempat, dari yang awalnya memang sudah baik, berpindah untuk menjadi lebih baik lagi. Menyesuaikan lingkungan sosial yang turut menerima dakwah nabi Muhammad.

Di zaman sekarang ini, apa yang terlintas dibenak kalian, saat mendengar kata "hijrah"?

"Sok alim banget, sih."

"Sok bener banget, sih."

"Nggak usah sok, deh. Dulu juga kayak gini, kan."

"Ngaca, dong. Emang lu udah bener?"

"Gausah urusin hidup gue, urusin aja diri lu sendiri."

Dan cibiran-cibiran lainnya mengenai hijrahnya seseorang.

Memangnya, menurut kalian hijrah itu apa?

Suatu hal yang baik-kah?

Memang baik adanya.

Seperti dipenjelasan pertama, hijrah dalam zamannya nabi pun berartikan baik maksudnya. Berpindah dari kota jahiliyah di Mekkah ke Madinah.

Sama halnya dengan hijrah di zaman sekarang ini.

Hijrah.

Merubah diri, yang tadinya sering melakukan keburukan, perlahan menerapkan kebaikan pada akhlaknya. Memperbaiki perangai agar menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Memperbanyak kawan yang turut membimbing ke jalan yang lebih baik lagi.

Mungkin yang dulunya suka melawan orang tua. Kita niatkan hati untuk hijrah. Perlahan merubah diri agar tidak melawan lagi pada orang tua.

Mungkin yang dulunya suka mengumbar aurat. Kita niatkan hati untuk hijrah. Perlahan merubah diri dengan mengganti pakaian yang sesuai dengan syariat Islam.

Mungkin dulunya suka bermaksiat. Kita niatkan hati untuk hijrah. Perlahan merubah diri agar tidak mudah terpengaruh dengan hawa nafsu untuk bermaksiat.

Mungkin dulunya pemalas. Kita niatkan hati untuk hijrah. Perlahan merubah diri untuk menjadi rajin dan lebih aktif dalam melakukan segala hal.

Dari sifat buruk, perlahan kita ubah diri membiasakan berbuat kebaikan, berakhlak salih maupun salihah.

Kenapa sedari tadi aku menyebutkannya perlahan?

Karena, dengan meniatkan diri untuk berhijrah, semua butuh proses. Tidak instan. Nabi Muhammad pun butuh waktu ketika ingin kembali lagi ke Mekkah.

Begitu pula dengan hijrah. Dengan diubahnya secara perlahan, semua terasa indah. Nggak kaget karena adanya perubahan. Perlahan-lahan, lama-lama menjadi terbiasa.

Aku punya cerita.

Waktu itu, aku lagi dekat dengan laki-laki (untuk yang ke sekian kalinya aku khilaf). Aku asik chatting-an hingga larut malam. Padahal jelas sekali aku tahu bahwa ini dilarang. Perkara yang kecil, memang. Namun dampaknya bisa besar.

Hingga suatu hari, salah satu teman dekatku menegurku. "Bukannya kamu lagi hijrah, ya? Kok chatting-an sama cowok, sih?"

Jleb!

Kaget aku dibuat pernyataan seperti itu sama temanku sendiri. Dalam hati aku mengumpat, kesal. "Emang kapan gue bilang kalau gue hijrah? Kalaupun emang gue hijrah, kenapa nggak boleh chat-an? Toh, gue juga lagi proses kali, nggak langsung bener-bener berubah. Namanya juga khilaf." Kataku dalam hati.

Namun, dari pernyataan temanku itu, aku banyak merenung.

Pertama, kenapa dia menyimpulkan kalau aku sedang hijrah? Padahal aku nggak pernah mengikrarkan diri di media sosial kalau aku pengin hijrah. Aku hanya suka update yang berbau ke-Islami-an.

Dari situ aku paham. Di zaman teknologi yang canggih ini, sepatutnya kita menggunakannya dengan baik. Salah satunya update-update yang baik pula.

Pernah aku membaca salah satu quotes, yang berbunyi, "buatlah status yang baik saja. Siapa tahu itu status terakhirmu. Karena sepeninggalmu, biasanya status terakhirmu jadi perbincangan."

Jadi, bisa saja kalau kita sedang update bermaksiat, lantas esok harinya meninggal dunia. Apa yang terkenang di mata orang-orang. "Dia meninggal? Eh dia kan suka tampilin hari-harinya yang suka maksiat." Begitulah kata orang-orang. Menjadi perbincangan.

Namun dengan ber-update baik pun tidak mengartikan seseorang itu sudah baik. Sejatinya manusia tak luput dari kesalahan. Kalaupun update kebaikan, kita berharap semoga yang membacanya pun mendapatkan energi positif dalam update-an itu. Pahalanya dapat. Bagi yang membuat dan yang melihat.

Bagaimana dengan update kemaksiatan. Sama juga ngalirnya, yang update dapat dosa, yang melihat juga dapat dosa. Maksiat, kok, diumbar?
Astaghfirullah. Maafkan hamba yang sempat khilaf.

Aku pernah menyimpan salah satu kontak seseorang. Setiap dia update status, kata-katanya selalu kasar. Seperti, "anj*ng, b*ng*at." Setiap dia update, malah aku yang mendengus, kesal. "Nih, orang bisa nggak, sih, jaga image sedikit kalau buat status? Walaupun nggak pernah update quotes, seenggaknya jangan selalu ngomong kasar di status." Karena kita hidup di zaman orang yang hanya memandang sebelah mata saja. Seharusnya, walaupun hanya di dunia maya, kita juga tetap harus bertutur baik, setidaknya nggak ngomong kasar.

Jadi, pandai-pandailah dalam ber-update. Apakah yang kita buat sudah baik atau malah memberi mudharat? Apakah yang ingin kita share akan memberi manfaat atau nggak penting sama sekali?

Karena walaupun kita belum menjadi baik, nggak ada salahnya saling mengingatkan kebaikan. Supaya kita sama-sama mengerjakan kebaikan itu. Sama-sama istiqamah. Sama-sama dapat pahala. Insya Allah.

Karena menurut perasaanku sendiri, aku merasa ada energi positif kalau sharing hal yang baik di media sosial. Aku merasa, "aku harus kasih tahu ke teman-teman." Bi idznillah, kita bisa sama-sama memperbaiki diri.

Kalau nggak percaya, buktikan saja sendiri. Quotes karya siapa yang biasa kalian lihat? Apa yang buat kalian suka sama quotes dari orang itu? Apa yang buat kalian ingin mengutip salah satu quotes-nya? Perasaan apa yang kalian rasakan setelah nge-share salah satu quotes itu?

Pasti ada rasa kebahagiaan tersendiri setelah update salah satu quotes tersebut.

Bisa jadi, update-an kebaikan yang kita share, tanpa kita ketahui dapat mengetuk hati seseorang. Perantara seseorang mendapatkan hidayah dari Allah, melalui update-an yang kita share. Tanpa kita ketahui, bisa membuat seseorang mengamalkan ilmu yang kita sebarkan. Tanpa kita ketahui, seseorang itu turut menyebarkan lagi ilmu yang kita berikan. Pahalanya ngalir, ke sumber yang pertama kali memberi ilmu, insya Allah.

Kedua, kalaupun aku hijrah, kenapa nggak boleh chatting-an sama laki-laki?

Awalnya kupikir begitu. Toh, kita nggak pacaran. Mungkin penjelasan ini bisa dibaca di blog yang berjudul, "Jomblo Kesepian."

Lantas akhirnya aku berpikir. "Ya. Aku salah. Nggak seharusnya aku chatting-an kayak gini sama laki-laki itu. Walaupun aku memang bilang nggak hijrah. Tapi aku ada niatan untuk berubah menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya."

Semenjak temanku bilang seperti itu, percayalah, aku langsung menghilang tanpa kabar dari laki-laki itu. Aku langsung lost contact sama dia. Seolah aku yang pergi meninggalkan. Padahal, aku nggak mau jatuh untuk yang kedua kalinya. Jadi lebih baik sudahi duluan.

Karena, "jatuh cinta sebelum pernikahan ialah cobaan."

Setelah itu, aku sadar bahwa hijrah itu nggak langsung benar-benar berubah jadi sempurna. Berubah seolah seperti malaikat yang nggak pernah berbuat dosa.

Salah besar.

Orang yang berhijrah pun tetap manusia biasa yang kadang suka berbuat salah. Baik disengaja ataupun tidak.

Hanya saja, orang yang meniatkan dirinya untuk hijrah, senantiasa akan mengingat kesalahan yang telah mereka perbuat, berjanji nggak akan mengulanginya lagi.

Kalau mereka tetap berbuat salah, mungkin saja sedang khilaf. Dan kita sebagai sesama umat muslim, saling mendoakan. Bukannya berdebat menghinakan.

"Katanya hijrah, kok kayak gitu, sih?"

"Katanya hijrah, tapi kok, masih berbuat kesalahan sih?"

"Kok, gitu sih? Bukannya sudah hijrah ya?"

GUYS, JANGAN DI-BULLY!!

Kita sama-sama mendoakan kebaikan. Kita sama-sama saling mengingatkan. Kita sama-sama menjauhi keburukan.

Kalau kita melihat ada orang yang sedang berhijrah namun berbuat kesalahan, tolong diingatkan. Tolong dinasihatkan. Tolong jangan mengumbar kesalahan. Mari kita sama-sama saling menasihati dalam kebenaran.

Hingga sekarang ini aku merasa nyaman. Merasa adanya perubahan-perubahan yang sedang aku lakukan. Kebaikan-kebaikan kecil yang sedang aku terapkan. Doakan, semoga tetap istiqamah di jalan-Nya.

Sudahkah kita mengetahui makna hijrah?

Jadi, setelah penjelasan tadi, maksud hijrah itu bukanlah sesuatu yang terlihat 'sok baik', 'sok benar'. Makna hijrah lebih dari itu. Artinya memang satu. Memperbaiki diri agar menjadi lebih baik lagi. Namun bukan seolah, "ah gue nggak mau hijrah. Malu, ah. Nanti gue malah dikatain sama temen-temen. Nanti dikira nggak pantaslah."

Lalu, siapa yang boleh berhijrah?

Siapa yang pantas berhijrah?

Kapan ingin berhijrah?

Semuanya boleh berhijrah. Nggak pandang usia, laki-laki maupun perempuan. Tua maupun muda. Kaya maupun miskin. Baik sang pendosa besar maupun bukan.

Saat kita meniatkan diri untuk menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya, itulah hijrah.

Hijrah bukan berarti hanya diperuntukan untuk orang yang alim, lembut, pintar, ketururan orang baik. Nggak, lho, ya!

Berhijrahlah, bagi siapa saja yang berniat untuk membenahi akhlak.

Kenapa harus malu?

Apa nggak malu kalau kamu stuck dalam kemaksiatan? Berbangga dengan keburukan? Bergelimang dosa?

Kalaupun malu, maka perbanyaklah teman-teman yang sama niatnya untuk berhijrah. Supaya sama-sama percaya diri, sama-sama yakin kalau jalan yang dipilih, sudah jalan baik menurut syariat-Nya. Supaya nggak perlu malu, karena takut di-bully.

"Nggak, ah. Nanti aja. Hidup kan, cuma sekali. Sekarang nikmatin aja dulu secara bebas. Hijrahnya nanti aja pas udah gede."

Lah, justru karena hidup hanya sekali, kita harus melakukan kebaikan semaksimal mungkin. Kita tabung dari sekarang, supaya mendapatkan amal kebaikan yang banyak untuk masuk ke surga.

Bebas? Ingin sebebas apa, sih?

Hijrahnya nanti kalau sudah besar? Memangnya ada yang bisa menjamin kalau kamu masih ada umur saat dewasa nanti? Bisa jadi, kamu meninggal tahun besok, bulan besok, atau hari esok. Lantas kamu belum sempat memperbaiki diri. Menyesal saat di alam kubur seorang diri. Hiiiiiii, seram sekali.

Jadi, mulailah membenahi diri. Memperbaiki diri agar menjadi lebih baik lagi. Jangan menunda-nuda kalau pengin berbuat kebaikan.

Karena, "Ibadah itu jangan ditinggalkan, kalau sudah ada niat. Kenapa? Kita perangi itu setan. Setan itu yang membuat kita was-was. Setan yang membuat kita ragu ketika pengin melakukan ibadah, melakukan kebaikan."

Niatnya?

Tetap karena Allah, pastinya.

Ingat, berhijrahlah karena Allah. Niatkan dalam memperbaiki diri untuk Allah. Karena, tujuan kita hidup pun memang untuk Allah. Maka, niatkan hijrahnya karena Allah. Supaya Allah memberikan kebahagiaan tersendiri bagi yang berhijrah.

Karena suatu perbuatan yang kita lakukan, tergantung pada niat. Sesuai dengan apa yang kita ingin tuju.

Dengan berniat hijrah karena Allah, insya Allah dimudahkannya segala urusan, baik dunia maupun akhirat.

Tapi kalau kita niatkan hanya untuk urusan dunia semata. Ya, kita hanya berhasil menggapai tujuan itu saja. Merasa bangga telah tercapainya tujuan di dunia itu. Tapi tidak dengan akhirat.

Maka, perhatikan niat awalmu. Sudah karena Allah atau belum?

Setelah diniatkan karena Allah, maka harus istiqamah.

Dengan istiqamah, semuanya akan jadi indah.

Ingat bukan, kalau, "istiqamah lebih baik dari seribu karamah."

Mengapa?

Karena, kalau sekali saja kita meninggalkan suatu pekerjaan baik itu tanpa istiqamah, pasti untuk memulai suatu pekerjaan baik itu akan sulit lagi.

Ibarat sedang membangun gedung bertingkat, berpondasi dengan sebuah keistiqamahan. Lantas ketika istiqamah itu tidak kita laksanakan lagi, bangunan itu akan hancur. Lalu bagaimana caranya untuk membuat gedung bertingkat itu lagi? Salah satu caranya dengan mengulang kembali dari awal. Dari nol. Kembali dibuat dengan pondasi istiqamah tersebut.

Jangan dengarkan kata orang. Biarlah kita terus membangun gedung termegah. Untuk diri kita sendiri. Dengan istiqamahnya usaha kita.

Hingga saatnya kita memetik apa yang sudah kita bangun. Menikmati betapa megahnya gedung mewah yang kita bangun dengan ikhlas, istiqamah, dan penuh kesabaran.

Begitu pula dengan melakukan amal kebaikan untuk di akhirat nanti.

Sama halnya dengan berhijrah. Semua butuh proses, istiqamah sebagai pondasi. Agar kita bisa mencapai titik maksimal. Menagih janji Allah akan surga-Nya.

Hijrah pun ada prosesnya. Nggak langsung terlihat sempurna. Semuanya berubah secara perlahan, berubah menjadi lebih baik lagi.

Kalau hari ini kita mendapat ujian dari proses hijrah kita, bersabarlah. Tetap istiqamah. Yakin ada hikmah dibalik ujian yang menimpa. Karena dengan bersabar, Allah akan meninggikan derajat hamba-Nya. Insya Allah.

Dan akan ada ujian-ujian lainnya silih berganti.

"Ketika anda berhijrah, anda akan merasakan ketenangan yang tidak pernah anda rasakan sebelumnya."

Pernah ada satu cerita, waktu itu aku lihat di salah satu acara televisi yang menyajikan kisah hijrahnya seseorang.

Ceritanya begini, awalnya orang itu banyak hutangnya. Ratusan juta. Dia bingung mau bayar pakai apa, harus bagaimana. Ditambah dengan keadaannya yang jauh dari Allah.

Hingga suati hari, dia diajak temannya untuk ikut ta'lim. Ikut pengajian. Awalnya dia merasa aneh dan nggak terbiasa. Lantas, pada akhirnya ia diberi saran oleh salah satu peserta pengajian itu juga.

"Coba kamu lebih mendekatkan diri ke Allah. Kamu kejar akhiratnya. Insya Allah, Allah memudahkan urusan duniamu."

Setelah itu, dia mencoba membuat target. Dia tahajud selama empat puluh hari tanpa putus. Dia coba berhijrah. Lebih mendekatkan dirinya ke Allah. Meminta pertolongan atas kesusahan yang sedang ia alami.

Bi idznillah, hutang yang ia kira akan lunas dalam waktu dua atau tiga tahun, sudah terbayarkan selama enam bulan saja. Ditambah lagi dia yang dapat umrah dan bisa membeli mobil pribadi. Masya Allah.

Sudah siapkah kita berhijrah?

Yuk, walaupun belum sepenuhnya baik, perlahan aja kita coba. Insya Allah, pasti dimudahkan.

Kalau banyak cibiran, jangan didengarkan. Karena hijrah karena Allah-lah yang sudah kita niatkan.

Kita sama-sama mengingatkan. Kita sama-sama memberitahukan. Sama-sama mengoreksi kesalahan.

Jangan sekali-kali mengatakan, "urus saja dirimu sendiri!"

Allah benci kata-kata itu.

Hey, kalian pikir bumi ini kalian sendiri saja yang tempati?

Bumi itu luas. Nggak cuma kalian saja yang tempati. Dan karena nggak tinggal sendiri, semua butuh aturan. Kita saling mengingatkan, saling mengambil pelajaran, saling bertukar pikiran untuk menebarkan kebaikan. Bukannya acuh dan merasa paling jagoan. Hingga nggak perlu ada urusan. Kalau masuk neraka, menyesalah kalian.

Dan untuk yang sudah berhijrah, hindari diri dari sifat seolah merasa sudah benar. Membicarakan keburukan orang lain yang belum ada niatan untuk  berhijrah. Namun kita doakan. Kita doakan agar Allah berikan hidayah. Karena suatu saat, bisa saja orang itu menjadi lebih baik dari yang kita kira sebelumnya.

Karena hijrah itu sampai mati.

I wrote these blog for self reminder first.

So, let's moving up with me!

Bertaqwalah, maka Allah akan terasa dekat💜🧡💛💚❤️💙🖤💖

Comments

Popular posts from this blog

Semua Serba Gantian 2

Di era gen z ini, banyak yang pada nikah. Yang belom jemput takdirnya sedikit mencemaskan diri. "Jodoh gue ada gak yaaa?"  Sebenernya topik ini sama aja kayak di part pertama. Tapi akhir-akhir ini, feel-nya tuh lagi mikirin kayak gini mulu. Selain banyak yang nikah, tentunya yang meninggal juga banyak kan. Sama kayak judulnya, 'Semua Serba Gantian'. Sadar gak sadar, tiba-tiba udah menuju 25 tahun.  Katanya, dengan menikah seseorang udah berada di tahap selanjutnya. Nyatanya. Ya kita tetep jalan di tempat. Masih sama di dunia. Bedanya cuma ngejalanin kehidupan bareng orang baru aja.  Karna kenyataannya, yang satu langkah ke depan itu orang-orang yang telah mendahului.  Dari bocil beranjak dewasa. Menikah jadi orang tua. Jadi tua dan tinggal nunggu panggilan aja. Syukur-syukur meninggalnya pas tua, coba kalo pas bocil. Ya jelas. Mereka jadi selangkah lebih maju dari kita.  Tiba-tiba punya keponakan. Banyak. Udah pada gede semua. Sepupu udah pada nikah semua. Gak s...

Tasmik Al-Qur'an di Era Kepenulisan

 Jum'at, 8 Agustus 2 025. Salat Zuhur terakhir di kamar lima. Bertepatan dengan khataman rutinan terakhir pula di kamar lima. Ya. Pagi tadi kamar lima diketuk oleh seseorang. Ustazah ternyata. Bilang kalau kamarnya suruh dirapihin. Mau dipake. seperti biasa aku nyengir, ngangguk sambil bilang iya. Rasa-rasanya sedih sekali (lebay dikit). Sejak pindah ke lantai satu tahun lalu, lorong-lorong jadi tempat persinggahan awal gue buat ngaji ataupun ngelakuin segala hal di atas meja belajar. Sampai akhirnya ngisi kamar-kamar yang kosong, dan sering juga diusir ustazah buat keluar. Gak boleh dipake. Bukan hak kita, katanya. Bukan gue namanya kalo gak nakal dikit, Ya gue gatel lah, tetep masukin kamar kosong yang beloman dikunci. Sampe akhirnya, istikamah-lah kamar lima yang emang gak dikunci kayak kamar-kamar kosong sebelumnya. Walau ujung-ujungnya tiap kali ustazah ke lantai satu pasti selalu di notice, "Mbak, keluar mbak. Gak boleh dipake kamarnya..." bla.. bla.. bla.. Pertama,...

Favorites

Tiap-tiap dari kita (terkhusus penghafal quran) pasti punya ayat favorit. Ayat kesukaan. Punya ayat andalan yang dijadiin penguat dalam kehidupan. Gue juga punya. Tapi pasti penghafal quran lainnya, punya ayat di surah tertentu, yang lafaznya mungkin panjang-panjang. Gue enggak. Mungkin dari anak kecil sampe orang tua hafal ayat favorit gue. Dari penghafal quran bahkan yang awam agama sekalipun, mereka juga hafal ayat kesukaan gue. Ayat yang senantiasa kita ulang tujuh belas kali dalam setiap kali salat wajib. Ditambah kalo ngerjain salat sunah. Ditambah kalo dibaca juga diluar waktu salat. Dua ayat surah Al-Fatihah. اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ “Tunjukilah kami ke jalan yang lurus.” Menurut gue, dua ayat ini sangat mencakup atas segala apa yang kita butuhkan. Sudah jelas, Al-Fatihah induk Al-Qur’an. Dan segala apa yang...