Skip to main content

Menjadi Lebih Baik di Hari Ini

Pernahkah berkata, "hari ini harus lebih baik dari hari kemarin." Atau, "hari esok harus lebih baik dari hari ini."

Aku pun pernah. Bahkan sering. Hampir setiap hari.

Pernahkah kamu merenungkan, pekerjaan apa saja yang sudah dilakukan pada hari ini? Kalau belum, renungkanlah sekarang. Walau hanya lima menit.

Adakah kegiatan yang bermanfaat yang sudah kamu lakukan pada hari ini?
Kalau belum, kenapa?

Bukankah kita selalu mengucap doa, "semoga hari ini lebih baik dari hari kemarin." Lantas, apa yang membuatmu stuck dipekerjaan yang itu-itu saja, bahkan nggak pernah ada perubahan?

Begitu pula dengan ibadah, aktifitas, belajar, dan kegiatan bermanfaat lainnya. Sudahkah, "hari ini lebih baik dari hari kemarin?"

Kuberi satu contoh. Pada hari Senin, aku mengerjakan salat lima waktu dengan tepat waktu. Esok harinya, aku menyertakan salat qabliyah sebelum salat fardhu. Esok di hari Rabu, dengan landasan, "hari ini lebih baik dari hari kemarin." Aku menyertakan salat ba'diyah usai salat fardu. Jadi pada hari rabu, aku sertakan salat sebelum dan sesudah salat fardhu. Esoknya di hari Kamis, kusertakan salat dhuha empat rakaat. Di hari jumat, kutambah dengan mengaji Alquran tiap usai salat ba'diyah. Saat hari Sabtu, kutambah dengan memulai untuk salat tahajud. Hingga genap sampai hari Minggu, kurutinkan semua ibadah wajib dan sunah. Bahkan lebih diperbaiki lagi agar, "menjadi lebih baik saat esok hari."

Paham, nggak?

Kuberi satu contoh lain lagi. Semisal, aku sedang coba membuat suatu resep makanan. Pada hari Senin, aku membuat resep termudah yang pernah ada. Pada hari Selasa, aku mencoba membuat resep yang lebih enak lagi. Begitu terus hingga dipenghujung hari Minggu, aku dapat membuat resep terenak, tersulit, dan terlezat.

Sudah paham, kan?

Jadi, ketika kita berkata, "semoga hari ini lebih baik dari hari kemarin," janganlah hanya sekedar ucapan belaka. Namun, buktikan! You must action it!

Ketika kita berani berucap seperti itu, lantas kita harus merenungkannya terlebih dahulu. "Apa kemarin aku sudah melakukan hal yang bermanfaat?" Atau, "apa kemarin aku nggak melakukan perubahan?" Bahkan yang lebih parahnya, "apa kemarin aku telah melakukan kesalahan?"

Kalau sudah merenungkan tentang kemarin. Berpikirlah bagaimana cara melakukan perubahan itu. Cara tetap mempertahankan bahkan menambah kegiatan positif untuk hari esok.

Dan hingga tiba esok hari, maka lakukanlah kegiatan positif itu.

Kerjakan, jangan menunda!
Kalau bisa, usahakan setiap hari untuk menuntut diri sendiri. "Apa hari ini kita sudah menjadi lebih baik dari hari kemarin?"

Sering kali aku bilang sama teman-temanku sebelumnya, "kalau kita ingin melakukan kegiatan positif, setan selalu membuat kita berkata, 'masih ada waktu esok hari.' seolah kita masih diberikan waktu oleh-Nya untuk melakukan kegiatan itu. Maka kita menunda kegiatan itu hingga esok hari. Dengan artian, kita lalai.

Akhirnya nggak ada satu pun perubahan yang kita buat untuk menjadi lebih baik."
Astaghfirullah.

Sejujurnya, aku pun masih lalai dalam segala urusan. Aku juga sedang berusaha agar, "esok hari lebih baik dari hari ini."

But how?

With action!

Kuatkan tekad kita dengan sungguh-sungguh dalam mengerjakan segala kegiatan positif pada hari ini. Jangan menunda. Jangan lalai.

Let's do the best today!!

Sama-sama saling menasihati, ya. 🙏

Comments

Popular posts from this blog

Semua Serba Gantian 2

Di era gen z ini, banyak yang pada nikah. Yang belom jemput takdirnya sedikit mencemaskan diri. "Jodoh gue ada gak yaaa?"  Sebenernya topik ini sama aja kayak di part pertama. Tapi akhir-akhir ini, feel-nya tuh lagi mikirin kayak gini mulu. Selain banyak yang nikah, tentunya yang meninggal juga banyak kan. Sama kayak judulnya, 'Semua Serba Gantian'. Sadar gak sadar, tiba-tiba udah menuju 25 tahun.  Katanya, dengan menikah seseorang udah berada di tahap selanjutnya. Nyatanya. Ya kita tetep jalan di tempat. Masih sama di dunia. Bedanya cuma ngejalanin kehidupan bareng orang baru aja.  Karna kenyataannya, yang satu langkah ke depan itu orang-orang yang telah mendahului.  Dari bocil beranjak dewasa. Menikah jadi orang tua. Jadi tua dan tinggal nunggu panggilan aja. Syukur-syukur meninggalnya pas tua, coba kalo pas bocil. Ya jelas. Mereka jadi selangkah lebih maju dari kita.  Tiba-tiba punya keponakan. Banyak. Udah pada gede semua. Sepupu udah pada nikah semua. Gak s...

Tasmik Al-Qur'an di Era Kepenulisan

 Jum'at, 8 Agustus 2 025. Salat Zuhur terakhir di kamar lima. Bertepatan dengan khataman rutinan terakhir pula di kamar lima. Ya. Pagi tadi kamar lima diketuk oleh seseorang. Ustazah ternyata. Bilang kalau kamarnya suruh dirapihin. Mau dipake. seperti biasa aku nyengir, ngangguk sambil bilang iya. Rasa-rasanya sedih sekali (lebay dikit). Sejak pindah ke lantai satu tahun lalu, lorong-lorong jadi tempat persinggahan awal gue buat ngaji ataupun ngelakuin segala hal di atas meja belajar. Sampai akhirnya ngisi kamar-kamar yang kosong, dan sering juga diusir ustazah buat keluar. Gak boleh dipake. Bukan hak kita, katanya. Bukan gue namanya kalo gak nakal dikit, Ya gue gatel lah, tetep masukin kamar kosong yang beloman dikunci. Sampe akhirnya, istikamah-lah kamar lima yang emang gak dikunci kayak kamar-kamar kosong sebelumnya. Walau ujung-ujungnya tiap kali ustazah ke lantai satu pasti selalu di notice, "Mbak, keluar mbak. Gak boleh dipake kamarnya..." bla.. bla.. bla.. Pertama,...

Favorites

Tiap-tiap dari kita (terkhusus penghafal quran) pasti punya ayat favorit. Ayat kesukaan. Punya ayat andalan yang dijadiin penguat dalam kehidupan. Gue juga punya. Tapi pasti penghafal quran lainnya, punya ayat di surah tertentu, yang lafaznya mungkin panjang-panjang. Gue enggak. Mungkin dari anak kecil sampe orang tua hafal ayat favorit gue. Dari penghafal quran bahkan yang awam agama sekalipun, mereka juga hafal ayat kesukaan gue. Ayat yang senantiasa kita ulang tujuh belas kali dalam setiap kali salat wajib. Ditambah kalo ngerjain salat sunah. Ditambah kalo dibaca juga diluar waktu salat. Dua ayat surah Al-Fatihah. اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ “Tunjukilah kami ke jalan yang lurus.” Menurut gue, dua ayat ini sangat mencakup atas segala apa yang kita butuhkan. Sudah jelas, Al-Fatihah induk Al-Qur’an. Dan segala apa yang...