Skip to main content

Salahkah Memilih Teman? 2

Salahkah kita memilih teman?

Dipenjelasan sebelumnya, aku sedikit menuturkan pendapat kalau kita bebas berteman dengan siapa saja, namun tahu aturan.

Di sini aku ingin menambahkan.
Pernahkah kita merasa pada diri sendiri, bahwa sifat dan akhlak kita berubah menjadi buruk?

Apakah ada unsur karena pergaulan, atau kita memang tidak membenahi diri untuk menjadi lebih baik?

Namun sejatinya, menurutku, pergaulan memang sangat berperan penting dalam kehidupan kita. Karena, dengan siapa kita bergaul, di situlah letak sifat dan akhlak kita berada.

Di sini bukan seolah bilang kalau, "lo main sama preman, akhlak lo juga buruk." Atau, "lo main sama si kutu buku, sifat lo juga jadi suka baca buku." Tidak. Tapi seolah, "apa kita akan terpengaruh dengan si preman atau si kutu buku?"

Karena itu, pernahkah kita merasa bahwa ada salah satu dari sifat dan akhlak kita yang terbawa arus? Positif? Atau negatif?

Dengan bertambahnya nilai positif yang ada di diri kita, balik lagi ke pertanyaan, "dengan pengaruh siapa sifat positif ini datang?" Atau kalau akhlak kita justru jadi buruk, "karena siapa pengaruh negatif ini datang?"

Sebagai contoh, aku dulu punya teman yang sempat kupantau kesehariannya. Semacam memperhatikan apa yang ada di diri orang itu. Pertama kenal, orang itu baik, pintar, penurut, nggak nakal.
Finally, saat beberapa bulan kita berteman dengan teman-temanku yang lain, cara pandang berpikir dia jadi beda. Dulunya dia cuma berpikir begini, "nggak berani bolos, ah! Kasian orang tua udah biayain sekolah." Namun sekarang responnya begini, "nggak apalah bolos sekali. Selama ini mereka fine fine aja kalau bolos. Kenapa gue harus takut? Toh, dihukumnya bareng-bareng." Walhasil anak itu kini jadi nakal dan malas belajar. Masih tetap rajin, namun jadi sedikit menyepelekan ilmu.

Jujur, aku pun buat salah satu contoh ini, karena aku juga pernah merasakan hal seperti itu. Cerita di mana saat aku merasa menjadi 'naughty girl'. Pernah juga aku merasa ada salah satu temanku yang membawa pengaruh positif buat aku. Aku jadi merasa lebih dekat dengan-Nya karena dia.

Begitulah teman. Bagaimana caranya agar kita dapat mengambil positifnya dan membuang negatifnya. Bagaimana caranya agar kita menolak dan menentang keras keburukan supaya nggak mempengaruhi kehidupan kita. Bagaimana caranya agar kita bisa mempertahankan sifat positif yang ada dalam diri kita.

Karena menurutku, pergaulan sangat menentukan bagaimana sifat kita kepada sesama. Apakah kita menjadi baik karena pergaulan kita yang baik? Atau justru kita terlihat nakal karena pergaulan yang buruk?

Namun tetaplah ingat, kita boleh main dengan siapa saja. Bahkan dengan pemulung sekalipun.

Karena kita nggak pernah tahu, energi positif dari mana yang dapat kita ambil manfaat kebaikannya.

Pertanyaannya, "apakah sifat kita sama baiknya seperti dulu?"
"Apakah sifat kita lebih baik dari yang dulu?"
"Apakah sifat kita justru lebih buruk dari yang dulu?"

Bagaimana cara kita menyikapi pergaulan yang negatif. Kita harus pintar-pintar membedakan. Bukan pintar memilih. Pintarlah menasihati serta intropeksi diri. Bukan asal menghakimi serta menggurui. Pintarnya mencontohkan kebaikan. Bukan pandai meniru keburukan.

Berpikirlah sebelum bertindak. Jangan sampai ada orang sekitar yang menilai kita lebih buruk dari sebelumnya karena kita tak pandai bergaul.

Semoga kita selalu dalam lindungan Allah ❤️🤲🏻

Comments

Popular posts from this blog

Semua Serba Gantian 2

Di era gen z ini, banyak yang pada nikah. Yang belom jemput takdirnya sedikit mencemaskan diri. "Jodoh gue ada gak yaaa?"  Sebenernya topik ini sama aja kayak di part pertama. Tapi akhir-akhir ini, feel-nya tuh lagi mikirin kayak gini mulu. Selain banyak yang nikah, tentunya yang meninggal juga banyak kan. Sama kayak judulnya, 'Semua Serba Gantian'. Sadar gak sadar, tiba-tiba udah menuju 25 tahun.  Katanya, dengan menikah seseorang udah berada di tahap selanjutnya. Nyatanya. Ya kita tetep jalan di tempat. Masih sama di dunia. Bedanya cuma ngejalanin kehidupan bareng orang baru aja.  Karna kenyataannya, yang satu langkah ke depan itu orang-orang yang telah mendahului.  Dari bocil beranjak dewasa. Menikah jadi orang tua. Jadi tua dan tinggal nunggu panggilan aja. Syukur-syukur meninggalnya pas tua, coba kalo pas bocil. Ya jelas. Mereka jadi selangkah lebih maju dari kita.  Tiba-tiba punya keponakan. Banyak. Udah pada gede semua. Sepupu udah pada nikah semua. Gak s...

Tasmik Al-Qur'an di Era Kepenulisan

 Jum'at, 8 Agustus 2 025. Salat Zuhur terakhir di kamar lima. Bertepatan dengan khataman rutinan terakhir pula di kamar lima. Ya. Pagi tadi kamar lima diketuk oleh seseorang. Ustazah ternyata. Bilang kalau kamarnya suruh dirapihin. Mau dipake. seperti biasa aku nyengir, ngangguk sambil bilang iya. Rasa-rasanya sedih sekali (lebay dikit). Sejak pindah ke lantai satu tahun lalu, lorong-lorong jadi tempat persinggahan awal gue buat ngaji ataupun ngelakuin segala hal di atas meja belajar. Sampai akhirnya ngisi kamar-kamar yang kosong, dan sering juga diusir ustazah buat keluar. Gak boleh dipake. Bukan hak kita, katanya. Bukan gue namanya kalo gak nakal dikit, Ya gue gatel lah, tetep masukin kamar kosong yang beloman dikunci. Sampe akhirnya, istikamah-lah kamar lima yang emang gak dikunci kayak kamar-kamar kosong sebelumnya. Walau ujung-ujungnya tiap kali ustazah ke lantai satu pasti selalu di notice, "Mbak, keluar mbak. Gak boleh dipake kamarnya..." bla.. bla.. bla.. Pertama,...

Favorites

Tiap-tiap dari kita (terkhusus penghafal quran) pasti punya ayat favorit. Ayat kesukaan. Punya ayat andalan yang dijadiin penguat dalam kehidupan. Gue juga punya. Tapi pasti penghafal quran lainnya, punya ayat di surah tertentu, yang lafaznya mungkin panjang-panjang. Gue enggak. Mungkin dari anak kecil sampe orang tua hafal ayat favorit gue. Dari penghafal quran bahkan yang awam agama sekalipun, mereka juga hafal ayat kesukaan gue. Ayat yang senantiasa kita ulang tujuh belas kali dalam setiap kali salat wajib. Ditambah kalo ngerjain salat sunah. Ditambah kalo dibaca juga diluar waktu salat. Dua ayat surah Al-Fatihah. اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ “Tunjukilah kami ke jalan yang lurus.” Menurut gue, dua ayat ini sangat mencakup atas segala apa yang kita butuhkan. Sudah jelas, Al-Fatihah induk Al-Qur’an. Dan segala apa yang...