Skip to main content

Jomblo Kesepian 2

Kepada hati yang pernah terluka.
Kepada seseorang yang janji untuk setia.
Apakah hati ini masih ada?
Atau sudah biasa tanpa rasa?

Kali ini, aku ingin kembali menjelaskan, bagaimana cara menyikapi laki-laki caper dan menghindari sifat perempuan baper.

Sesuai pengalamanku sendiri. Hehe.

Aku nonton film, yang salah satu pemerannya ngomong gini, "sebenarnya yang salah itu siapa? Laki-laki yang memberikan harapan palsu atau perempuannya yang baperan?"

Penjelasannya ada di judul 'Penerima Harapan Palsu'.

Jadi, bagaimana cara menyikapi teman kita yang memiliki sifat seperti itu? Atau bahkan kita yang mempunyai sifat caper atau baper itu.

Aku pernah baca di salah satu akun sosial mediaku. Ada quotes yang kira-kira, tuh, pengertiannya kayak gini, "yang cewek mancing. Cowok sibuk stalking."

Cewek mancing.

Istilah ini bukan perempuan yang suka memancing ikan. Wkkw.

Tetapi, memang kebanyakan perempuan, secara sadar ataupun enggak, memang kitalah yang 'kode' lebih dulu ke lawan jenis. Kita yang lebih dulu 'kasih cela' ke mereka. Misal, update status, upload foto dengan caption yang, hm, bikin laki-laki jadi jatuh cinta, misalnya.

Secara sadar nggak sadar, kita yang membuka peluang dengan menjadi 'mudah'-nya kita untuk didekati.

Kalau sudah didekati, nanti laki-lakinya yang dituduh PHP. Laki-lakinya yang dituduh nggak punya hati. Padahal, kitanya yang 'memudahkan' jalannya setan dalam bermaksiat.

Cowok stalking.

Nah, usai lihat-lihat update dan upload-nya si perempuan, mulailah laki-laki mencari tahu. Dan ajak PDKT.

Setalah bosan, tinggalkan. Bersikap seolah, "lah, lu duluan yang mulai."

Memang benar.

Jadi, kita sebagai perempuan, harus paham banget sama yang namanya 'ngejaga'.

Soalnya gini, aku pernah ngerasain sama yang namanya kayak iri sama yang pacaran. Enak, yah. Bahkan, yang nggak pacaran pun juga bisa bahagia sama yang katanya 'calon' dengan landasan, "nggak pacaran, kok." Tapi tingkah lakunya sama kayak orang pacaran.

Aku pernah ngerasa kesepian. Handphone yang jarang ada notification-nya.

And, setelah dipikir-pikir, apa gunanya?

Pernah waktu itu, ada laki-laki yang deketin aku. Ya, aku respon seadanya (salah aku yang nge-respon, seharusnya jangan direspon sama sekali). Walhasil, chat-nya melenceng, "sudah makan belum?" "Sudah salat belum?"

Terus aku berdoa sama Allah. "Kalau dia baik, jadikanlah aku sama dia teman yang baik. Kalau dia buruk, jauhkanlah aku sama dia dengan cara-Mu."

Suddenly, dia nembak. Hm, Astaghfirullah.

Alhamdulillah, nggak kegoda. Karena aku tolak, perlahan dia menjauh.

Emang dasar, cowok!

Tapi, semua itu salah aku.

Karena, aku pernah baca juga quotes yang intinya tuh, "kalau ada yang caper, jangan kita tanggepin. Jangan sekali-kali kita balas, walau hanya singkat. Seperti 'Y', 'Oh'. Karena, dengan peluang dibalas singkat itu, laki-laki jadi penasaran, dan semakin cari-cari perhatian kita. Tanpa kita sadari, kita jadi menanggapinya dan terbawa rasa 'nyaman'. Padahal, awalnya kita cuek-bebek. Jadi, lebih baik nggak perlu dibalas sama sekali.

Gimana kalau ada yang nge-chat ucap salam, kan dosa kalau nggak dijawab?

Nah, seinget aku di dalam kitab Riyadus Shalihin. Kan ada, haram hukumnya menjawab salam, salah satunya kalau salam itu dipergunakan untuk iseng menggoda. Jadi, kita jawab saja salam itu dalam hati, nggak perlu dibalas secara langsung. Karena itu membuka peluangnya setan. Percayalah.

Ada satu cerita lagi.

Aku pernah suka sama orang. Umurnya dua tahun lebih tua dari aku. Dia 'baik'. Awalnya kita chatan. Cuma kalau sekarang, sudah biasa aja. Kayak orang nggak kenal.

Percaya nggak, kalau aku save nomor dia, tapi kita nggak pernah chatting-an sama sekali?

Awalnya emang aku yang nge-chat, untuk di save. Dia juga nanya kabar dan sedikit basa-basi. Dan chat pun berakhir di hari itu aja. Kenapa? Karena aku tahu, dia orang 'baik'. Jadi aku ngerasa nggak pantas untuk mengganggu kehidupannya lagi. Aku merasa akhlaknya dia masih jauh di atas aku. Nggak berani kalau aku yang nekat cari perhatian duluan. Karena aku tahu, dia orang 'baik'. Masya Allah.

Jadinya, kita hanya sebatas satu kontak dan saling melihat snap saja.

Karena, pernah salah satu kakak kelas aku bilang begini, "kalau kita benar-benar 'menjaga diri', maka Allah akan berikan kita pasangan yang sama baiknya dalam menjaga diri. Karena kita berlian."

Kita sebagai perempuan adalah mahal. Jangan mudah menaruh perasaan pada laki-laki yang suka cari perhatian.

Dan aku pengin membuktikan salah satu janji Allah itu. Dengan betul-betul 'menjaga harga diri'. Menjaga kemuliaan kita sebagai perempuan.

Sebagai laki-laki pun, jangan menodai perempuan. Kalau misalnya kamu yakin ingin menikahinya, itu bagus. Tapi kalau cuma untuk kesenangan saat itu, kasihan si calon jodoh perempuan itu. Dapat yang bekas punya kamu. Memangnya kamu mau, punya istri yang juga bekas laki-laki lain? Enggak, kan? Jadi, muliakanlah perempuan.

Untuk kita semua, laki-laki ataupun perempuan. Jadilah seseorang yang sulit untuk dimiliki, namun beruntung ketika didapatkan.

Kalaupun 'maut' lebih dulu menjemput kita, setidaknya, kita sudah menjadi 'baik' di mata Allah. Kita kembali dalam keadaan yang insya Allah, baik.

Allahummaghfirlanaa 😭

Comments

Popular posts from this blog

Semua Serba Gantian 2

Di era gen z ini, banyak yang pada nikah. Yang belom jemput takdirnya sedikit mencemaskan diri. "Jodoh gue ada gak yaaa?"  Sebenernya topik ini sama aja kayak di part pertama. Tapi akhir-akhir ini, feel-nya tuh lagi mikirin kayak gini mulu. Selain banyak yang nikah, tentunya yang meninggal juga banyak kan. Sama kayak judulnya, 'Semua Serba Gantian'. Sadar gak sadar, tiba-tiba udah menuju 25 tahun.  Katanya, dengan menikah seseorang udah berada di tahap selanjutnya. Nyatanya. Ya kita tetep jalan di tempat. Masih sama di dunia. Bedanya cuma ngejalanin kehidupan bareng orang baru aja.  Karna kenyataannya, yang satu langkah ke depan itu orang-orang yang telah mendahului.  Dari bocil beranjak dewasa. Menikah jadi orang tua. Jadi tua dan tinggal nunggu panggilan aja. Syukur-syukur meninggalnya pas tua, coba kalo pas bocil. Ya jelas. Mereka jadi selangkah lebih maju dari kita.  Tiba-tiba punya keponakan. Banyak. Udah pada gede semua. Sepupu udah pada nikah semua. Gak s...

Tasmik Al-Qur'an di Era Kepenulisan

 Jum'at, 8 Agustus 2 025. Salat Zuhur terakhir di kamar lima. Bertepatan dengan khataman rutinan terakhir pula di kamar lima. Ya. Pagi tadi kamar lima diketuk oleh seseorang. Ustazah ternyata. Bilang kalau kamarnya suruh dirapihin. Mau dipake. seperti biasa aku nyengir, ngangguk sambil bilang iya. Rasa-rasanya sedih sekali (lebay dikit). Sejak pindah ke lantai satu tahun lalu, lorong-lorong jadi tempat persinggahan awal gue buat ngaji ataupun ngelakuin segala hal di atas meja belajar. Sampai akhirnya ngisi kamar-kamar yang kosong, dan sering juga diusir ustazah buat keluar. Gak boleh dipake. Bukan hak kita, katanya. Bukan gue namanya kalo gak nakal dikit, Ya gue gatel lah, tetep masukin kamar kosong yang beloman dikunci. Sampe akhirnya, istikamah-lah kamar lima yang emang gak dikunci kayak kamar-kamar kosong sebelumnya. Walau ujung-ujungnya tiap kali ustazah ke lantai satu pasti selalu di notice, "Mbak, keluar mbak. Gak boleh dipake kamarnya..." bla.. bla.. bla.. Pertama,...

Favorites

Tiap-tiap dari kita (terkhusus penghafal quran) pasti punya ayat favorit. Ayat kesukaan. Punya ayat andalan yang dijadiin penguat dalam kehidupan. Gue juga punya. Tapi pasti penghafal quran lainnya, punya ayat di surah tertentu, yang lafaznya mungkin panjang-panjang. Gue enggak. Mungkin dari anak kecil sampe orang tua hafal ayat favorit gue. Dari penghafal quran bahkan yang awam agama sekalipun, mereka juga hafal ayat kesukaan gue. Ayat yang senantiasa kita ulang tujuh belas kali dalam setiap kali salat wajib. Ditambah kalo ngerjain salat sunah. Ditambah kalo dibaca juga diluar waktu salat. Dua ayat surah Al-Fatihah. اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ “Tunjukilah kami ke jalan yang lurus.” Menurut gue, dua ayat ini sangat mencakup atas segala apa yang kita butuhkan. Sudah jelas, Al-Fatihah induk Al-Qur’an. Dan segala apa yang...