Berbicara tentang rasa syukur, tampak tidak asing lagi dalam pendengaran kita. Ketika kita, seorang muslim, sudah sepatutnya mensyukuri segala apa yang ada.
Seringkali pula kita membaca banyak quotes perihal bersyukur. Seperti sesingkat, ‘Jangan lupa bersyukur’, bahkan sampai sepanjang membawa dalil Al-Qur’an yang membahas tentang rasa syukur itu. Namun ternyata, pengamalannya tak semudah membaca quotes-nya. Bilangnya mengaku sudah bersyukur.
Nyatanya, hujan deras saja dikeluhkan. Bilangnya mengaku sudah bersyukur, harapan tidak sesuai kenyataan saja galaunya tidak karuan.
Pada dasarnya, membiasakan diri untuk selalu bersyukur memanglah tidak mudah. Namun, tidaklah kita mengingat janji-Nya dalam Al-Qur’an, yang berbunyi:
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
“(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.”"
Dalam terjemah tafsir Al-Mishbah karya M. Quraish Shihab, di jilid ketujuh halaman 22-23 menjelaskan bahwa, hakikat syukur adalah menampakkan nikmat antara lain menggunakannya pada tempatnya dan sesuai dengan yang dikehendaki oleh pemberinya, juga menyebut-nyebut pemberinya dengan baik. Ini berarti setiap nikmat yang dianugerahkan Allah, menuntut perenungan, untuk apa ia dianugerahkan-Nya, lalu menggunakan nikmat tersebut sesuai dengan tujuan penganugerahannya.
Maksud dari ‘Menuntut perenungan’ tersebut mengartikan jika apa-apa yang telah dianugerahkan Allah terhadap kita perlu disyukuri. Jangan sampai, ketika kita diberikan kelebihan nikmat berupa sepeda motor, kita iri dengan seseorang yang memiliki mobil mewah. Sudah sepatutnya kita mensyukuri sepeda motor yang telah kita miliki. Tidakkah kita memikirkan, ada seseorang yang tidak memiliki kaki untuk berjalan. Pengharapannya ada pada kita yang memiliki sepasang kaki, lantas bisa dengan mudahnya mengendarai sepeda motor. Boleh jadi, orang yang tidak memiliki sepasang kaki tersebut lebih mensyukuri segala nikmat yang diberikan oleh Allah, seperti bersyukur masih diberikan umur yang panjang, lantas dapat beribadah dengan khusuk.
Ketika makan terong balado dengan sambal yang dibersamai dengan rasa syukur akan terasa lebih nikmat, dibanding makan daging rendang dengan tanpa rasa syukur. Begitupula, seorang penuntut ilmu yang sepatutnya mensyukuri nikmatnya menimba ilmu dengan belajar, walau uang saku sedang menipis. Karena di luar sana, banyak anak-anak yang tidak mampu mengenyam dunia pendidikan dengan mudah.
Pernahkah kita menyadari, seberapa bersyukurnya atas apa yang telah kita miliki? Apakah kita termasuk orang yang senantiasa bersyukur dalam setiap keadaan, atau orang yang baru bersyukur dikala diberikan nikmat.
Jangan sampai Allah mencabut nikmat yang kita miliki, lalu kita baru menyadari betapa pentingnya mensyukuri segala hal dari yang terkecil. Bukankah setiap nafas yang kita hembuskan adalah suatu kenikmatan yang tidak ada harganya? Bagaimana mungkin jika Allah meminta ganti atas setiap karunia-Nya. Nyatanya Allah tak butuh itu. Allah Maha Kaya. Kitalah yang perlu mensyukurinya. Kitalah yang butuh Allah.
Sebagai contoh, mungkin sebagian dari kita tak asing lagi dengan sosok yang melambung ketenarannya saat Piala Dunia FIFA Qatar 2022 kemarin. Dari Ghanim Al-Muftah kita dapat belajar, jika memiliki keterbatasan fisik bukan berarti menyerah dengan keadaan. Bahkan dengan kondisi yang tidak memiliki kaki tersebut, dia tidak memilih berjalan dengan bantuan kursi roda. Ia fokus dengan apa yang dimilikinya dan bersyukur atas tangan yang masih ia miliki.
Ada pula Kholidin, sosok atlet panahan di ASEAN Para Games 2022. Seseorang yang telah menyumbangkan medali emas untuk Indonesia di acara tersebut. Dalam kisahnya, bang Udin –sapaan akrabnya, bercerita kalau ia kehilangan lengan kanannya sejak 2017 lalu akibat jatuh dari pohon kelapa. Menariknya, ia tetap optimis dengan apa yang telah menimpanya. “Apapun yang Allah kasih ke saya, ini saya anggap sebagai ujian melatih kesabaran.” Begitu katanya.
Dari kisah Kholidin mengajarkan kita bahwa apa yang kita terima, hadapi, miliki, tetaplah harus disyukuri. Akan menjadi berbeda kisahnya, jika bang Udin ini tidak menerima kehendak Allah atas musibah yang menimpanya. Banyak mengeluh, dan tidak berbuat sesuatu, membuat namanya tidak akan pernah kita dengar di ASEAN Para Games. Hobinya dalam memanah hanya sekedar masa lalu yang tak akan pernah mengukir sejarah.
Masih terdapat banyak lagi contoh-contoh menginspirasi yang dapat diambil pelajarannya perihal rasa syukur. Jangan menunggu terkabulkan segala keinginan lantas bersyukur. Syukurilah apa yang telah ada, niscaya Allah akan menambah kenikmatannya.
Sebagai penutup, beberapa hari yang lalu saya sempat berkunjung ke salah satu mall. Di sana, terdapat dua penyanyi di atas panggung acara, di mana yang ketika saya melihatnya lebih dekat adalah seorang disabilitas, tuna netra. Namun, yang lebih mengejutkannya lagi, kedua penyanyi itu tuna netra, dan semua pemain musik dibelakangnya pun dengan kekurangan yang sama. Pemandangan yang seharusnya membuat kita semakin mensyukuri segala nikmat yang ada. Sepanjang perjalanan pulang pun dapat di ambil pelajarannya ketika kita bertafakkur. Seorang pengemis, kakek tua yang begitu menikmati nasi bungkusnya di pinggir jalan. Seorang ibu yang sedang mengamen dengan anak lelakinya. Pedagang seblak yang sibuk melayani pembeli, ditemani anak perempuannya yang tidur tergeletak di lantai.
Jadikanlah segala apa yang kita lihat sebagai bentuk rasa syukur atas apa yang telah Allah berikan. Bukan iri terhadap apa yang belum kita miliki. Semoga kita semua selalu bertakwa, menerima, dan bersyukur atas ketetapan-Nya. Amin.
Wallahu A’lam bissahawaab.
Comments
Post a Comment