Mungkin kita memang tidak pernah berutang seratus ribu, dua ratus ribu, atau bahkan satu juta.
Namun, pernahkah kita tersadar dengan kata-kata, "Pakai uang kamu dulu,", "Talangin dulu, nanti kuganti." Atau kata-kata lain yang sejenis itu. Baik nominalnya sepuluh ribu rupiah, atau bahkan hanya seribu rupiah.
Terpikirkah jika kita telah berutang banyak pada seseorang?
Mungkin niat kita memang akan diganti nanti, tapi sering kali lupa. Karena nominalnya 'cuma' lima ribu, 'cuma' seribu. Nah, dari ke-'cuma'-an itu, kita menyepelekannya. Menganggap, "Ah, palingan dia juga ikhlas. Toh, cuma seribu."
Jika kita ada diposisi yang meminjamkan, kita dilatih untuk ikhlas, karena besar juga pahalanya.
Jika kita ada diposisi yang meminjam, pernah berpikir nggak sih, yang meminjamkan uang itu lagi nggak ada uang, rasanya tuh, uang 5000 yang dipinjam kita itu sangat mereka butuhkan. Pengin nagih mikirnya berkali-kali, "Kalo gue tagih, takut dikira perhitungan. Masa lima ribu aja segala ditagih. Tapi kalo nggak gue tagih, gue butuh banget uangnya."
So, lebih berhati-hatilah dalam berucap. Walau kita bilang tidak utang, tapi secara nggak langsung, kita telah berutang. Baik dalam bentuk uang, benda, cerita, dan apa pun yang bermakna, "Nanti yaa..."
Terakhir, untuk teman-temanku yang membaca blog-ku kali ini, jika aku punya utang yang belum lunas, baik uang yang hanya nominalnya lima ratus perak, atau utang cerita, utang benda, tolong tagih saja, ya.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ
Comments
Post a Comment