Skip to main content

Katanya Penguat(?)

Selain di tengah hiruk pikuk banyaknya pernikahan, persoalan kekerasan dalam rumah tangga pun gak kalah banyaknya. Yang pastinya, itu banyak buat kita yang belum menikah menjadi takut untuk menikah.

Jujur, sering kali aku mikir buat takut nikah. Bukan karena belum siap. Untuk perkara menikah, tak perlu menunggu siap atau belum siap. Karena menurutku, kalau memang sudah jodohnya, mau gak mau kita semua harus siap. Yang awalnya gabisa, seiring berjalannya waktu, kita semua akan di dewasa kan oleh keadaan. Gabisa masak sekali pun, kalau sudah menjadi adat kebiasaan dalam berumah tangga, tentu akan bisa nantinya. Gabisa urus anak, urus keuangan keluarga. Karena keadaan yang menuntut, semua akan berjalan, berproses menjadi bisa. Baik belajar menjadi suami, atau istri.

Bahkan aku sering berandai jika nantinya aku berumah tangga dalam kondisi yang tidak enak, seperti serba kekurangan, dll. Apakah aku mampu menjadi istri yang sabar, lapang dada menerima segala apa yang diberikan suami. Apakah aku bisa bantu suamiku dengan segala hal yang kupunya? Karena perkara harta, kekayaan itu bonus. Lagi-lagi kita sebagai istri harus siap dalam segala kondisi.

Namun, yang buat aku takut nikah adalah maraknya kisah-kisah yang tak meng-enak-an sering kali beredar. Entah itu suami yang lebih memilih ibunya daripada istrinya, suami yang melakukan KDRT, komunikasi yang kurang baik, suami yang acuh, suami yang selingkuh, dan lain sebagainya (walau gak menutup kemungkinan istri pun melakukan hal yang sama).

Tuhan, laki-laki mana yang harus kupercaya?

Jika niatnya menikah hanya untuk melampiaskan syahwatnya saja. Jika niatnya menikah hanya karena malu sudah berusia. Jika niatnya saja hanya asal yang penting sudah menikah? 

Dalam QS. An-Nisa': Ayat 34 sudah jelas menjelaskan:

اَلرِّجَالُ قَوَّامُوْنَ عَلَى النِّسَاۤءِ بِمَا فَضَّلَ اللّٰهُ بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍ وَّبِمَآ اَنْفَقُوْا مِنْ اَمْوَالِهِمْۗ فَالصّٰلِحٰتُ قٰنِتٰتٌ حٰفِظٰتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللّٰهُۗ وَالّٰتِيْ تَخَافُوْنَ نُشُوْزَهُنَّ فَعِظُوْهُنَّ وَاهْجُرُوْهُنَّ فِى الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوْهُنَّۚ فَاِنْ اَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوْا عَلَيْهِنَّ سَبِيْلًاۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيْرًا

"Laki-laki (suami) adalah penanggung jawab atas para perempuan (istri) karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari hartanya. Perempuan-perempuan saleh adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, berilah mereka nasihat, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu,) pukullah mereka (dengan cara yang tidak menyakitkan). Akan tetapi, jika mereka menaatimu, janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka. Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Mahabesar."

Dengan menikah, setiap perempuan menaruh harap pada calon pasangannya agar diperlakukan dengan baik. Mendapatkan hak dan kewajibannya sebagai istri. Seperti kasih sayang dan tuntunan. Sesederhana itu. Perempuan butuh dibimbing, dengan laki-laki yang ia anggap pantas menjadi pembimbing. Dengan berharap surga, setiap perempuan akan patuh pada yang ingin membimbingnya menuju surga (Ini niatku, bahkan aku pengin banget wiridan bareng, ngaji bareng, dll. Mungkin tiap orang berbeda harapan pada goals-nya yang ingin menikah, namun tetap pada tujuan yang sama, masuk surga bersama).

Dengan menikah, setiap perempuan berharap niatnya menikah ya memang untuk menyempurnakan separuh agama. Jalan menuju rida-Nya. Perbanyak amal ibadah bersama. Taat pada-Nya. 

Bagaimana jadinya jika perempuan sudah menjadi seorang yang penurut, namun ia tak mendapatkan haknya sebagai istri? 

Tuhan, pada siapa lagi perempuan harus menaruh kepercayaan dalam menyempurnakan separuh agamanya?

Jika tak ada rasa cinta, tak ada komunikasi yang baik, tak ada rasa saling percaya, tak ada saling menjaga satu sama lain.

Setiap perempuan pasti mengharapkan laki-laki yang sama baiknya seperti ayahnya. Yang memperlakukannya bak seorang ratu, yang (seenggaknya) berusaha tak pernah buat kecewa.

Apa jadinya jika perempuan yang sejak dulu kekurangan kasih sayang dari ayahnya (fatherless, broken home), lantas mendapatkan perlakuan yang sama dari suaminya?

Tuhan, pada siapa lagi perempuan harus bersandar mencari jembatan untuk mendapatkan rida-Mu?

Jika tiap orang takut menikah, lantas siapakah yang akan melanjutkan dakwah Nabi Muhammad saw dalam menyampaikan ajaran agama Islam?

Apa kita rela, mereka dari kalangan non-muslim-lah yang memiliki keluarga harmonis, yang menjalankan hak dan kewajiban sebagai suami istri dengan baik dan benar?

Tuhan, pada siapa lagi perempuan harus meminta petunjuk masa depannya selain pada-Mu?

Semoga kita semua bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Bisa menjadi laki-laki salih yang mampu menjadi kepala bagi keluarga kecilnya. Bisa menjadi perempuan yang mampu menjadi penyejuk mata suaminya. 

Ya Allah, kupercayakan masa depanku pada-Mu 🥹❣️

Comments

Popular posts from this blog

Semua Serba Gantian 2

Di era gen z ini, banyak yang pada nikah. Yang belom jemput takdirnya sedikit mencemaskan diri. "Jodoh gue ada gak yaaa?"  Sebenernya topik ini sama aja kayak di part pertama. Tapi akhir-akhir ini, feel-nya tuh lagi mikirin kayak gini mulu. Selain banyak yang nikah, tentunya yang meninggal juga banyak kan. Sama kayak judulnya, 'Semua Serba Gantian'. Sadar gak sadar, tiba-tiba udah menuju 25 tahun.  Katanya, dengan menikah seseorang udah berada di tahap selanjutnya. Nyatanya. Ya kita tetep jalan di tempat. Masih sama di dunia. Bedanya cuma ngejalanin kehidupan bareng orang baru aja.  Karna kenyataannya, yang satu langkah ke depan itu orang-orang yang telah mendahului.  Dari bocil beranjak dewasa. Menikah jadi orang tua. Jadi tua dan tinggal nunggu panggilan aja. Syukur-syukur meninggalnya pas tua, coba kalo pas bocil. Ya jelas. Mereka jadi selangkah lebih maju dari kita.  Tiba-tiba punya keponakan. Banyak. Udah pada gede semua. Sepupu udah pada nikah semua. Gak s...

Tasmik Al-Qur'an di Era Kepenulisan

 Jum'at, 8 Agustus 2 025. Salat Zuhur terakhir di kamar lima. Bertepatan dengan khataman rutinan terakhir pula di kamar lima. Ya. Pagi tadi kamar lima diketuk oleh seseorang. Ustazah ternyata. Bilang kalau kamarnya suruh dirapihin. Mau dipake. seperti biasa aku nyengir, ngangguk sambil bilang iya. Rasa-rasanya sedih sekali (lebay dikit). Sejak pindah ke lantai satu tahun lalu, lorong-lorong jadi tempat persinggahan awal gue buat ngaji ataupun ngelakuin segala hal di atas meja belajar. Sampai akhirnya ngisi kamar-kamar yang kosong, dan sering juga diusir ustazah buat keluar. Gak boleh dipake. Bukan hak kita, katanya. Bukan gue namanya kalo gak nakal dikit, Ya gue gatel lah, tetep masukin kamar kosong yang beloman dikunci. Sampe akhirnya, istikamah-lah kamar lima yang emang gak dikunci kayak kamar-kamar kosong sebelumnya. Walau ujung-ujungnya tiap kali ustazah ke lantai satu pasti selalu di notice, "Mbak, keluar mbak. Gak boleh dipake kamarnya..." bla.. bla.. bla.. Pertama,...

Favorites

Tiap-tiap dari kita (terkhusus penghafal quran) pasti punya ayat favorit. Ayat kesukaan. Punya ayat andalan yang dijadiin penguat dalam kehidupan. Gue juga punya. Tapi pasti penghafal quran lainnya, punya ayat di surah tertentu, yang lafaznya mungkin panjang-panjang. Gue enggak. Mungkin dari anak kecil sampe orang tua hafal ayat favorit gue. Dari penghafal quran bahkan yang awam agama sekalipun, mereka juga hafal ayat kesukaan gue. Ayat yang senantiasa kita ulang tujuh belas kali dalam setiap kali salat wajib. Ditambah kalo ngerjain salat sunah. Ditambah kalo dibaca juga diluar waktu salat. Dua ayat surah Al-Fatihah. اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ “Tunjukilah kami ke jalan yang lurus.” Menurut gue, dua ayat ini sangat mencakup atas segala apa yang kita butuhkan. Sudah jelas, Al-Fatihah induk Al-Qur’an. Dan segala apa yang...