Setelah blog sebelumnya gue bahas pra-pernikahan, berdamai dengan diri sendiri, di (bukan) ilmu parenting yang kedua ini, gue mau bahas pasca menikah. Tulisan kedua ini pernah gue bahas di status Facebook. Tapi secara singkat. Nah, gue pengin bahas ulang di sini. Ya walaupun intinya ya itu itu juga wkwk.
Pentingnya
menjaga komunikasi dengan baik.
Di
facebook, gue mengawali pembahasan dengan perkembangan anak usia dini yang juga
patut diajak bicara, supaya kosa katanya banyak, melatih otak supaya paham
dengan segala apa yang dibicarakan dan banyak belajar ngomong juga. Seorang
anak juga butuh dianggep sosoknya. Bukan hanya sekadar anak kecil
yang kerjaannya cuma main-main aja.
Nah, terlepas dari menjaga komunikasi dengan anak-anak, yang dewasa juga
butuh komunikasi. Ya emang harus malahan. Karna manusia tercipta sebagai makhluk
sosial. Walau gak suka keramaian, tetep aja butuh seenggaknya satu orang buat
komunikasi.
Dalam suatu hubungan pernikahan, katanya
90% isinya komunikasi. Ketika kita menikah dengan orang yang kita cintai, namun
komunikasi gak nyambung, itu bakalan menyedihkan katanya. Karna separuh agama
yang lagi kita jalanin saat itu ya emang isinya buat saling komunikasi. Ibadah
bareng, komunikasiin bareng. Gimana kalau mau nyaman dalam keseharian tapi
kalau topik pembicaraan gak nyambung.
Sering
kali kita berantem berkepanjangan. Yang cowok ngerasa ceweknya gak jelas, yang cewek
ngerasa cowoknya gak pengertian. Sebenernya
masalahnya cuma karna kurangnya komunikasi. Karena emang bener, setiap gue nonton
konten tentang pasutri atau ilmu pasutri gitu, emang sudut pandang cowok dan
cewek itu kan beda ya. Banyak yang berantem besar. Padahal kalo dikulik,
ternyata mereka berdua sama-sama pengin dimengerti. Cowok gak ngerti gaya
bahasa cewek. Cewek gak ngerti gaya bahasa cowok. Dan kuncinya itu satu. Saling
mempelajari dan memahami gaya bahasa. Dan itu semua perlu dikomunikasiin.
Sok banget gue ngomong kayak gini. Karna
kadang suka geregetan sama orang yang maunya selalu dipahami tapi gak memahami
lawan bicaranya. Kurangnya komunikasi.
Perlahan gue pahamin gaya bahasa cowok yang
kayak gimana. Perlahan gue mempelajari gue harus ngomong hal penting dan gak
penting itu di momen yang seperti apa. Supaya gak saling ngerusak mood.
Nah, setelah sebelumnya bahas tentang
berdamai sama diri sendiri, gue juga ngerasa masih jelek komunikasinya. Masih
belum sepenuhnya paham dan ngerti gaya bahasa seseorang. Gue yang masih suka
tersinggung dan merasa baper. Masih belum bisa semudah itu buat selalu
menetralkan hati untuk selalu baik-baik aja. Karna ujung-ujungnya, gue malah
menyalahkan diri gue sendiri atas ketidakpahaman gaya bahasa lawan bicara gue.
“Hah, gue salah ngomong ya?”
Di sini, gue mau cerita drakor yang kemaren
gue tonton. Ceritanya mau fokus skripsi, tapi karna ada review dari orang
tentang mental health di film itu, akhirnya gue memutuskan nonton drakor itu,
12 episode heuheu. Judulnya Can This Love be Translated.
Gue gak mau bahas kisah percintaannya. Eh tapi
iya sih. Jelas-jelas judulnya kayak gitu, karna selama di film itu, si cewek
udah caper dan centil mulu ke cowok itu, tapi cowoknya gak ngerti, gak paham
kalo ceweknya tuh pengin dapet perhatian dari dia. Dan begitu juga cowok,
dengan angkuhnya cowok, padahal cowok udah bersikap perhatian walaupun dingin,
tapi ceweknya gak paham, dikiranya cowoknya tuh cuek. Padahal mereka berdua
sama-sama suka dan saling perhatian, walau dengan caranya masing-masing.
“Jumlah bahasa sama dengan jumlah penduduk
di dunia. Setiap orang berbicara dengan bahasanya sendiri. Makanya mereka salah
paham, salah menafsirkan dan saling menyinggung.”
Salah satu omongan pemain yang gue catet
kata-katanya. Ya. Sebanyak apa manusia di bumi, sebanyak itu pula bahasa
manusia. Dan kita gak bener-bener paham sama bahasa manusia.
Dan contohnya, gue sering banget ngalamin
ini. Momen di mana kalimat yang gue pahami apa, tapi yang dipahami temen gue
itu beda lagi.
Ngerti gak?
Misal ada orang ngomong abcd. Dan ketika
gue menyampaikan, gue sampein acd. Tapi ada temen gue yang nyampeinnya acdef. Entah
ada yang bertambah dan berkurang dalam segi penyampaian dari masing-masing pendengar.
Perspektif pendengar emang relatif. Jadi gak serempak paham dengan pemahaman
yang sama.
Dari sini gue menyadari bahwa yang mampu
berkomunikasi dan menyampaikan sesuatu dengan benar dan dapat dipercaya itu cuma
nabi aja. Hehe.
Ya. Dengan sifat nabi yang shiddiq dan
tabligh, nabi ngomong dan komunikasi dengan baik tanpa dikurangi dan
ditambahin.
Eh kok nyambungnya ke sini?
Intinya pentingnya untuk saling komunikasi segala
hal sama pasangan kita nanti. Karna itu salah satu yang menyebabkan
kelanggengan pernikahan. Dan juga setiap zaman itu kan beda ya. Pentingnya juga memahami bahasa anak kita nanti. Agar anak nyaman sama kita sebagai orang tua. Bisa saling terbuka dan saling cerita.
Anjay.
Dan ada satu trust issue yang bikin gue takut nikah. Yaitu soal pengelolaan keuangan. Pokoknya ada momen yang bikin gue jadi takut nikah. Takut dapet suami yang gak transparan soal pendapatan. Iya tau, istri gak wajib tau, tapi seenggaknya, kan udah serumah, ya saling cerita dong. Apa yang didapat, apa yang dikeluarkan, apa yang diterima. Dan segala hal, terkhusus soal keuangan. Please, gue takut banget soal ini.
Semoga kita semua bisa mendapatkan pasangan
yang baik komunikasinya, bisa saling memahami gaya bahasa pasangan dan saling
pengertian. Dan dapet pasangan yang transparan dalam segala hal. Begitu pun kita. Aamiin Yaa Raab…
Comments
Post a Comment