Skip to main content

Merayakan Kenangan

Kenangan.

Apa yang terlintas dipikiran kita perihal 'kenangan'?

Kenangan apa yang membuat kita berlarut dalam sebuah bayangan?

Sejatinya, kenangan adalah hal yang paling menyenangkan di dalam kehidupan.

Kenangan adalah sebuah kisah di masa lalu. Baik atau buruk, itu sudah menjadi skenario yang Dia tetapkan, menjadi pilihan bagi sang pemain kehidupan.

Biasanya, banyak orang yang mengingat kenangannya dengan baik. Karena, kebahagiaanlah yang sedang dikenang. Kebahagiaan yang tak pernah bisa dilupakan dalam hidup. Kebahagiaan yang tak pernah bisa terulang.

Kebahagiaan itu wajib untuk dikenang. Karena dengan mengenang kebahagiaan, hati seolah kembali larut dalam rasa bahagia itu. Hati seolah kembali dalam masa lalu. Semuanya seolah terputar jelas dalam ingatan. Padahal, jelas sekali kalau, "waktu tak pernah dapat terulang." Namun, dengan mengenang kebahagiaan, semua seolah terulang kembali.

Bisa berkumpul dengan keluarga, teman, sahabat, bahkan kekasih.

Kenangan itu pula yang menjadikan kita belajar arti kehidupan. Menghargai setiap waktu yang Dia berikan, untuk tetap bersama dengan orang yang dicinta. Karena manusia itu saling membutuhkan, maka buatlah kenangan kebahagiaan.

Namun nggak sedikit pula, ada orang yang berusaha melupakan kenangan. Berusaha agar bayang-bayang itu tak pernah ada dalam ingatannya.

Kenangan buruk, misalnya. Sebuah kisah yang membuatnya trauma, hingga tak berani bertemu dengan orang-orang yang berhubungan dengan masa lalunya.

Ada yang mempunyai masalah broken home, musuhan dengan teman atau sahabat, perceraian, putus dari pacar, bahkan jatuh dari sepeda ketika kecil.

Nggak sedikit orang pula berusaha untuk tidak mengingat sebuah kisah kelam itu. Melupakan setiap waktu yang terekam dalam ingatan, agar tak ada bekas yang terkenang.

Kenapa?

Apa yang membuatmu begitu terpuruk, hingga sama sekali tak berminat untuk berdamai dengan masa lalu?

Apa hatimu sudah terlalu benci dengan kenangan itu?

Sebelumnya, pengin aku sampaikan bahwa dalam hal melupakan kenangan, kita sebenarnya nggak benar-benar melupakan.

Karena Allah menciptakan sesuatu pasti memiliki tugasnya. Pensil untuk menulis, kertas untuk ditulis, kursi untuk diduduki, buku untuk dibaca. Begitu pula dengan kenangan. Allah menciptakan kenangan, gunanya untuk dikenang. Baik itu kebahagiaan atau kesedihan. Baik itu kisah lucu atau menyakitkan.

Kenangan itu untuk dikenang. Bukan untuk dilupakan.

Jadi, ketika kita berusaha untuk melupakan kenangan pahit yang ada dalam hidup kita, tanpa kita sadari, kita justru terus mengingat kenangan itu kembali.

Biarlah kenangan itu tetap ada dalam memori. Biarlah kenangan itu tetap ada. Jangan lupakan, kenanglah. Jangan dibenci, berdamailah. Jangan disesali, ikhlaskanlah.

Biarlah kenangan itu hilang dengan sendirinya. Menggantikan kenangan-kenangan baru yang lebih menyenangkan.

Karena ketika kita memiliki kenangan pahit, jadikanlah pembelajaran di masa depan. Agar kenangan pahit itu tak terulang. Sebagai bahan evaluasi, serta memperbaiki diri.

Sudahkah kita kembali mengenang?

Kalau cara pribadiku, aku biasa menghilangkan segala jenis kenangan. Menghapus kenangan dalam segala jenis bentuknya. Entah tulisan, atau barang.

Namun, aku nggak menghilangkan kisah itu dalam ingatan. Biarlah kenangan dalam ingatanlah yang tetap ada. Biarlah hanya aku yang menyimpannya dalam ingatan. Tak boleh ada seorang pun yang mengusiknya.

Kalau pun aku mengenang, tentu hanya aku yang merasakan. Tanpa perlu menoleh ke belakang, bahkan kembali mengingat benda-benda yang berhubungan dengan masa lalu. Tanpa perlu kembali bertemu dengan orang-orang yang berhubungan dengan masa lalu. Semuanya sudah cukup dalam sebuah ingatan.

Percayalah, dengan mengenang, maka kita telah berdamai dengan keadaan.

Kenanglah, tapi jangan menoleh ke belakang.
Kenanglah, tapi jangan kembali bersedih.
Kenanglah, tapi jangan flashback.
Kenanglah, tapi jangan berharap untuk kembali.

Kenanglah. Setelah itu, bangkitlah.
Kenanglah. Setelah itu, buatlah kenangan yang baru.
Kenanglah. Setelah itu, berbahagialah.
Kenanglah. Setelah itu, berterima kasihlah.

Berterima kasih pada kenangan yang telah mengajarkan arti kehidupan yang lebih baik.

Buktikan, kalau kita sudah merayakan sebuah kenangan.

SELAMAT MERAYAKAN KENANGAN!

🍃⛅🎉🎈❤️✨

Comments

Popular posts from this blog

Semua Serba Gantian 2

Di era gen z ini, banyak yang pada nikah. Yang belom jemput takdirnya sedikit mencemaskan diri. "Jodoh gue ada gak yaaa?"  Sebenernya topik ini sama aja kayak di part pertama. Tapi akhir-akhir ini, feel-nya tuh lagi mikirin kayak gini mulu. Selain banyak yang nikah, tentunya yang meninggal juga banyak kan. Sama kayak judulnya, 'Semua Serba Gantian'. Sadar gak sadar, tiba-tiba udah menuju 25 tahun.  Katanya, dengan menikah seseorang udah berada di tahap selanjutnya. Nyatanya. Ya kita tetep jalan di tempat. Masih sama di dunia. Bedanya cuma ngejalanin kehidupan bareng orang baru aja.  Karna kenyataannya, yang satu langkah ke depan itu orang-orang yang telah mendahului.  Dari bocil beranjak dewasa. Menikah jadi orang tua. Jadi tua dan tinggal nunggu panggilan aja. Syukur-syukur meninggalnya pas tua, coba kalo pas bocil. Ya jelas. Mereka jadi selangkah lebih maju dari kita.  Tiba-tiba punya keponakan. Banyak. Udah pada gede semua. Sepupu udah pada nikah semua. Gak s...

Tasmik Al-Qur'an di Era Kepenulisan

 Jum'at, 8 Agustus 2 025. Salat Zuhur terakhir di kamar lima. Bertepatan dengan khataman rutinan terakhir pula di kamar lima. Ya. Pagi tadi kamar lima diketuk oleh seseorang. Ustazah ternyata. Bilang kalau kamarnya suruh dirapihin. Mau dipake. seperti biasa aku nyengir, ngangguk sambil bilang iya. Rasa-rasanya sedih sekali (lebay dikit). Sejak pindah ke lantai satu tahun lalu, lorong-lorong jadi tempat persinggahan awal gue buat ngaji ataupun ngelakuin segala hal di atas meja belajar. Sampai akhirnya ngisi kamar-kamar yang kosong, dan sering juga diusir ustazah buat keluar. Gak boleh dipake. Bukan hak kita, katanya. Bukan gue namanya kalo gak nakal dikit, Ya gue gatel lah, tetep masukin kamar kosong yang beloman dikunci. Sampe akhirnya, istikamah-lah kamar lima yang emang gak dikunci kayak kamar-kamar kosong sebelumnya. Walau ujung-ujungnya tiap kali ustazah ke lantai satu pasti selalu di notice, "Mbak, keluar mbak. Gak boleh dipake kamarnya..." bla.. bla.. bla.. Pertama,...

Favorites

Tiap-tiap dari kita (terkhusus penghafal quran) pasti punya ayat favorit. Ayat kesukaan. Punya ayat andalan yang dijadiin penguat dalam kehidupan. Gue juga punya. Tapi pasti penghafal quran lainnya, punya ayat di surah tertentu, yang lafaznya mungkin panjang-panjang. Gue enggak. Mungkin dari anak kecil sampe orang tua hafal ayat favorit gue. Dari penghafal quran bahkan yang awam agama sekalipun, mereka juga hafal ayat kesukaan gue. Ayat yang senantiasa kita ulang tujuh belas kali dalam setiap kali salat wajib. Ditambah kalo ngerjain salat sunah. Ditambah kalo dibaca juga diluar waktu salat. Dua ayat surah Al-Fatihah. اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ “Tunjukilah kami ke jalan yang lurus.” Menurut gue, dua ayat ini sangat mencakup atas segala apa yang kita butuhkan. Sudah jelas, Al-Fatihah induk Al-Qur’an. Dan segala apa yang...