Ketika hati mulai berharap.
Apa yang kita inginkan? Pinta saja pada Yang Maha Pemilik Cinta. Berharaplah sebanyak yang kita inginkan. Agar Allah mengabulkan atas apa yang selama ini kita butuhkan.
Ketika kita mengharapkannya, agar bisa memiliki hatinya. Percayalah, Allah lebih tahu apa yang tertera di masa depan kita. Apa kita pantas mendapatkan hatinya?
Di sini, aku ingin berbagi kisah. Bukan kisahku, tapi kisah temanku.
Dia menyukai seseorang. Lebih tepatnya kakak kelas. Umurnya berjarak tiga tahun lebih tua dibandingnya.
Namun yang perlu kalian ketahui. Hanya dirinya dan Allah-lah yang tahu mengenai 'rasa' yang disimpannya. Untuk kakak kelas yang ia kagumi kewibawaannya.
Ya. Ia mencintainya dalam diam. Tanpa kakak kelas itu tahu.
Kupikir, kisah itu takkan berlangsung lama. Aku menyepelekan kisahnya. "Mungkin hanya cinta monyet. Toh, perjalanan kita masih jauh. Masih banyak lelaki salih di luar sana." Kupikir begitu.
Dia pun menyetujui. Mungkin hanya sebuah rasa biasa, seperti yang ada pada anak sekolah lainnya.
Namun, setelah menjalani kegiatan sekolah seperti biasanya (tanpa kakak kelas itu lagi), perasaannya seolah tak bisa dibohongi. Hatinya terus menyimpan rasa. Berkali-kali dia cerita ke aku, kalau ia sedang berusaha melupakannya, namun tak bisa.
Hingga lima tahun lamanya.
Kalian tahu apa yang terjadi?
Suatu hari, ada seorang laki-laki yang datang melamar temanku. Saat itu temanku belum tamat kelas tiga menengah atas.
"Tau nggak, siapa yang datang mengkhitbah?"
"Siapa?" Tanyaku.
"Masih ingat, dengan orang yang sudah buat aku susah move on? Itu, dia."
Aku kaget seketika. "Serius? Yang kakak kelas itu?"
"Iya."
Bayangkan!
Kakak kelas yang ia cintai dalam diam, tiba-tiba datang ingin mengkhitbahnya.
Dia cerita ke aku. Berbagai rasa mengisi hatinya. Antara senang, sedih, terharu. Semua jadi satu. Dia juga menangis.
"Aku nangis, karena rasanya seperti semua pertahanan seketika hancur. Perjuangan menjaga hati sama satu orang itu, selama kurang lebih lima tahun itu nggak mudah, dan itu bukan jangka waktu yang pendek. Aku berusaha agar hati aku tetap ke Allah, Rasul dan orang tua, pastinya. Tapi nggak tahu kenapa, setiap aku berusaha ngelupain pasti ada saja hal-hal yang buat aku dejavu tentang dulu. Aku pun kalau doa selalu maunya buat ngelupain dia supaya hati ini selalu ke Allah tapi semuanya seolah terus teringat. Dejavu lagi dan lagi. Parahnya, nih, pernah aku habis sholat istikharah kan langsung tidur, pas tidur aku mimpi ketemu dia. Nggak lama mimpi seperti itu, dia dateng ke rumah, ngekhitbah, speechless banget."
Aku dibuat terharu oleh kisahnya yang kupikir hanya ada di dalam novel-novel fiksi. Biasanya, salah satu di antara laki-laki ataupun perempuan yang mempunyai perasaan cinta, hanya memendamnya dalam hati. Hingga Allah berkehendak yang terbaik untuk keduanya. Apakah akan jodoh ataupun tidak. Dan kini aku mendengarnya langsung dari temanku yang mengalaminya.
Sungguh di luar dugaan manusia.
"Aku pernah baca buku, 'kalau orang ingat Allah pasti segalanya selalu ia kembalikan lagi ke Allah. Apapun itu. Dan kalau kita mengenal Allah, jika kita dapat masalah, pasti larinya ke salat, Alquran, zikir, dan doa'." Kata temanku.
Ya. Begitulah rencana-Nya. Nggak pernah bisa kita duga. Namun kalau kita menginginkan sesuatu, pinta saja. Semua yang kita inginkan di dunia dan di akhirat, pintalah. Karena Allah Maha Baik. Maha Mengabulkan keinginan hamba-Nya. Hamba-Nya yang bertaqwa. Karena dengan bertaqwa, kita akan percaya dengan janji-janji Allah. Janji Allah akan memberi segala yang kita inginkan, dipersatukan dengan yang kita cintai, diberikan kenikmatan yang abadi.
"Belajar dari kisahku aja, yah. Jangan mudah jatuh cinta sama orang lain. Apalagi jatuhnya sudah dalam banget kayak aku gini, sudah simpan perasaan kurang lebih lima tahun dan Allah beri aku petunjuk dari semua doa-doa ku selama ini." Begitu kata temanku, menasihati.
Percayalah. Berbincang dalam doa ialah pengharapan yang paling indah pada makhluk-Nya. Percayalah bahwa Allah akan memberikan hasil yang terbaik untuk kita.
Jangan pernah ragukan takdir Allah. Kalau jodoh ialah takdir, maka ubahlah takdir kita menjadi baik. Memperbaiki diri agar tetap bertaqwa.
Aku percaya, Allah pasti mempersatukan cinta-cinta hamba-Nya.
"Tapi aku akui, laki-laki yang berani langsung datang ke orang tua itu yang pantas dijadikan suami bukan laki laki yang hanya datang dan bilang kalau, 'kamu mau nggak jadi pacar aku?' Walaupun laki-laki itu mau seromantis apapun nggak ada bandingannya sama laki-laki yang berani berhadapan orang tua. Untuk mengajak serius."
Right!
Aku setuju itu.
Jadi, bolehkah hati ini berharap?
Sangat boleh. Namun, harus tetap minta petunjuk sama Allah. Allah yang bimbing. Tanpa ada adegan-adegan maksiat.
Keep fighting!!!
Ketika hati mulai berharap ...
Comments
Post a Comment