Skip to main content

Cermin Cinta

Cermin.

Apa yang akan kita lakukan ketika berhadapan diri dengan cermin? Berkaca sembari memanut diri atau malah melewatkannya begitu saja?

Sudah pasti kita akan berkaca sambil memanut diri. Apakah penampilan ini sudah terlihat sempurna atau ada sedikit kekurangan dengan memperbaikinya?

Dengan sudah terlihat sempurnanya penampilan, kita akan percaya diri melangkah, bersapa, dan merasa bangga.

Dengan percaya diri, merasa bebas memilih sesuka hati. Memilih sesuatu yang di rasa sama sempurnanya seperti kualitas pribadi.

Namun sadarkah, di saat kita memilih, berharap sosok yang dinanti. Pernah berpikirkah kalau, "apakah diri ini sudah baik di mata-Nya?"

Saat ini, aku sering merenungkannya.

Kagum boleh, berlebihan jangan.

Menjadikannya sebagai motivasi boleh, memujanya jangan.

Kali ini aku akan membahas soal 'cinta' untuk yang ke sekian kalinya.

Entahlah, Sang Pembolak-balikkan Hati ini seolah terus menuntut rasa cinta yang Dia berikan. Untuk apa aku pergunakan?

Aku menyukainya. Semua berawal rasa kagum akan ilmu agamanya yang terlihat mumpuni. Serta ke-shalih-an akhlaknya yang membuatku merasa dia 'lelaki baik' menurut 'type-ku.'

Rasa ini berharap seolah ingin dia mengetahui apa yang kurasakan. Menegurku, menyapaku, walau hanya sekedar ucapkan salam pertemuan. Bahkan mengkhayal hingga ke jenjang pernikahan. Astaghfirullah. Padahal ilmu tentang pernikahanku pun masih miskin. Dan terlihat belum mampu menjalaninya.

"Ya Allah, pertemukanlah aku dengan sosok yang dapat menjadikanku lebih baik lagi. Bisa lebih mendekatkanku dengan-Mu."

Alhamdulillah, Allah senantiasa menegurku dengan banyaknya harapan palsu yang kuterima.

Walau hanya berharap, tanpa balas jasa, rasanya seperti terempaskan begitu saja.

"Wajar saja sering sakit hati, cintanya ke makhluk-Nya. Bukan ke penciptanya!"

Ya. Bagi perempuan miskin ilmu sepertiku ini pun berharap 'sosok baik' hadir di dalam hidup ini. Berharap 'sosok baik' mengubah hidup ini menjadi lebih baik.

Salahkah berharap?

Ya. Ternyata aku sedikit keliru.

Nyatanya aku salah tujuan. Bukan 'sosok baik' yang seharusnya menjadi tujuan pengharapanku.

Kembali lagi pada Sang Pencipta. Itulah tujuan utama yang seharusnya aku harapkan.

Baik, aku akan meralat doaku, begini, "Ya Allah, jadikanlah aku pribadi yang lebih baik lagi, semakin bertakwa pada-Mu. Ikhlas dalam menjalankan ibadah untuk-Mu. Agar semoga Engkau mempertemukan aku dengan 'sosok baik' pilihan-Mu."

Kenapa?

Karena kata sahabatku, "mikirin gituan hanya membuat kita malas."

Memikirkan 'sosok baik' hadir dalam hidup, tanpa sadar aku tak mengubah perilaku, tak bergerak maju untuk melangkah menjadi lebih baik.

"Wahai aku, ke mana cermin yang kugunakan untuk berkaca? Apa sudah sempurnanya diriku ini lantas berharap suatu sandingan yang sama sempurnanya?

"Wahai aku, apakah diriku ini sudah baik?"

Malu. Sungguh malu.

Maka ketika aku kagum pada 'sosok baik', aku memohon pada-Nya. "Jadikanlah ia sebagai motivasiku untuk menjadi lebih baik. Bukan untuk terjatuh atas nama cinta."

Kumohon.

Betapa sulit hati ini mengokohkan diri agar terus berpaut pada-Mu.

Jangan buat aku mudah terjatuh pada yang fana.

Kasihanilah calon suamiku nanti, berada di nomor urut berapa kuletakkan cintaku untuknya nanti?

"Wahai Sang Pembolak-balikkan Hati, tetapkanlah hatiku ini atas agama-Mu. Hati yang selalu mengingat-Mu. Hati yang selalu mencintai-Mu."

Tulisan ini kubuat dari dasar hatiku yang paling dalam. Sebuah tulisan dwilogi alasan dari dibuatnya "Penerima Harapan Palsu", dan "Jomblo Kesepian."

Maka ketika aku merasa terjatuh akan cinta pada sosok yang kuanggap 'baik', semoga aku kembali mengingat pada tujuan awal hidupku.

Bahwa hidup untuk mati.

Bercerminlah selagi mampu untuk memperbaiki diri.

Karena menyesal di dunia itu ada manfaatnya. Masih bisa perbaiki niat dan tujuan, agar kembali lagi mengingat-Nya.

Karena menyesal di akhirat sudah tak ada gunanya. Waktunya hari pembalasan itu tiba.

Jatuh cinta terlebih dahululah pada Allah.

Ketika aku merasa tentram, damai, tenang. Bahkan ketika aku jatuh cinta pada kalam-Nya. Semua akan baik-baik saja. Percayalah.

Aku sudah, sedang, dan akan selalu merasakannya.

Harapanku, semoga hati ini mampu menjaga rasa dari cinta-cinta yang sebelum waktunya tiba nanti.

Kuharap begitu.

Semoga aku semakin bertakwa.

Semoga yang membaca blog-ku pun semakin bertakwa.

Semoga kita semua istiqamah dalam kebaikan.

Salam dariku, mari bercermin.

Comments

Popular posts from this blog

Semua Serba Gantian 2

Di era gen z ini, banyak yang pada nikah. Yang belom jemput takdirnya sedikit mencemaskan diri. "Jodoh gue ada gak yaaa?"  Sebenernya topik ini sama aja kayak di part pertama. Tapi akhir-akhir ini, feel-nya tuh lagi mikirin kayak gini mulu. Selain banyak yang nikah, tentunya yang meninggal juga banyak kan. Sama kayak judulnya, 'Semua Serba Gantian'. Sadar gak sadar, tiba-tiba udah menuju 25 tahun.  Katanya, dengan menikah seseorang udah berada di tahap selanjutnya. Nyatanya. Ya kita tetep jalan di tempat. Masih sama di dunia. Bedanya cuma ngejalanin kehidupan bareng orang baru aja.  Karna kenyataannya, yang satu langkah ke depan itu orang-orang yang telah mendahului.  Dari bocil beranjak dewasa. Menikah jadi orang tua. Jadi tua dan tinggal nunggu panggilan aja. Syukur-syukur meninggalnya pas tua, coba kalo pas bocil. Ya jelas. Mereka jadi selangkah lebih maju dari kita.  Tiba-tiba punya keponakan. Banyak. Udah pada gede semua. Sepupu udah pada nikah semua. Gak s...

Tasmik Al-Qur'an di Era Kepenulisan

 Jum'at, 8 Agustus 2 025. Salat Zuhur terakhir di kamar lima. Bertepatan dengan khataman rutinan terakhir pula di kamar lima. Ya. Pagi tadi kamar lima diketuk oleh seseorang. Ustazah ternyata. Bilang kalau kamarnya suruh dirapihin. Mau dipake. seperti biasa aku nyengir, ngangguk sambil bilang iya. Rasa-rasanya sedih sekali (lebay dikit). Sejak pindah ke lantai satu tahun lalu, lorong-lorong jadi tempat persinggahan awal gue buat ngaji ataupun ngelakuin segala hal di atas meja belajar. Sampai akhirnya ngisi kamar-kamar yang kosong, dan sering juga diusir ustazah buat keluar. Gak boleh dipake. Bukan hak kita, katanya. Bukan gue namanya kalo gak nakal dikit, Ya gue gatel lah, tetep masukin kamar kosong yang beloman dikunci. Sampe akhirnya, istikamah-lah kamar lima yang emang gak dikunci kayak kamar-kamar kosong sebelumnya. Walau ujung-ujungnya tiap kali ustazah ke lantai satu pasti selalu di notice, "Mbak, keluar mbak. Gak boleh dipake kamarnya..." bla.. bla.. bla.. Pertama,...

Favorites

Tiap-tiap dari kita (terkhusus penghafal quran) pasti punya ayat favorit. Ayat kesukaan. Punya ayat andalan yang dijadiin penguat dalam kehidupan. Gue juga punya. Tapi pasti penghafal quran lainnya, punya ayat di surah tertentu, yang lafaznya mungkin panjang-panjang. Gue enggak. Mungkin dari anak kecil sampe orang tua hafal ayat favorit gue. Dari penghafal quran bahkan yang awam agama sekalipun, mereka juga hafal ayat kesukaan gue. Ayat yang senantiasa kita ulang tujuh belas kali dalam setiap kali salat wajib. Ditambah kalo ngerjain salat sunah. Ditambah kalo dibaca juga diluar waktu salat. Dua ayat surah Al-Fatihah. اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ “Tunjukilah kami ke jalan yang lurus.” Menurut gue, dua ayat ini sangat mencakup atas segala apa yang kita butuhkan. Sudah jelas, Al-Fatihah induk Al-Qur’an. Dan segala apa yang...