Apa yang kalian ketahui tentang zina?
Yang disebut zina bukan hanya dengan berhubungan intim saja. Makna berbuat zina sangatlah luas. Bahkan jauh sebelum melakukan perbuatan tercela tersebut, sudah ada banyak zina yang telah dilakukan.
”Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim)
Di blog-ku ini, aku akan membahas salah satu zina dari hadist riwayat Muslim di atas.
Zina mata.
Kenapa aku membahas zina mata? Bukankah mata hanya bertugas sebagai penglihatan sekitar saja?
Dengan telinga, kita dapat mendengar suatu hal yang buruk; yang seharusnya nggak pantas untuk kita dengar.
Dengan tangan, kita dapat meraba atau menyentuh sesuatu yang buruk dan tidak pantas. Tangan ini dapat mencuri, mencelakai seseorang, memukul, menyakiti, dan keburukan-keburukan yang lainnya yang dapat dilakukan dengan tangan.
Zina kaki. Seberapa jauh langkah kita menuju tempat yang tidak diridhai Allah? Seberapa jauh langkah kita menuju tempat yang Allah benci? Bahkan tanpa kita sadari, sejauh mana langkah kita menuju tempat-tempat yang mendatangkan kemudharatan untuk diri kita sendiri?
Begitu pula dengan hati. Hati ini pun tak luput dari zina. Hati yang penuh ambisi, angan-angan atas belum tercapainya segala hal yang ingin kita miliki. Rasa iri, dengki, dendam. Betapa kotornya hati ini.
Bahkan dengan lisan. Lidah tidak bertulang. Berapa banyak kata yang kita ucapkan yang dapat melukai hati seseorang. Hinaan, cacian, ghibah, fitnah. Betapa hinanya lisan ini.
Namun, dibalik semua zina yang telah kita lakukan, dibalik bekerjanya zina tangan, zina kaki, zina telinga, zina lisan, zina hati, ada zina mata yang menjadi sumber dari segala zina.
Kenapa aku katakan demikian?
Dengan zina mata, kita memandang suatu hal buruk yang seharusnya nggak boleh kita lihat. Lantas telinga mendengar, merespon apa yang telah mata pandang. Hati kita berkata lirih, berangan apa yang ingin kita tuju dari apa yang kita lihat. Lalu lisan berkata, akan melakukan sesuatu yang harus ia miliki. Kaki ini bergerak, tangan ini bertindak.
Berdosalah kita dari segala macam zina.
Astaghfirullah.
Dengan sering memandang segala hal yang haram, Allah menjadikan seseorang tersebut merasa bosan dengan segala hal yang halal.
Salah satunya ialah pandangan laki-laki terhadap perempuan atau sebaliknya adalah termasuk panah-panah setan.
Kalau cuma sekilas saja secara spontanitas atau tidak sengaja, maka tidak jadi masalah pandangan mata tersebut. Pandangan pertama yang tidak sengaja ialah diperbolehkan. Namun, pandangan selanjutnya adalah haram.
Ketika melihat lawan jenis, maka cepatlah kita tundukkan pandangan itu, sebelum setan memasuki atau mempengaruhi pikiran dan hati kita.
Segera mohon pertolongan kepada Allah agar kita tidak mengulangi pandangan itu.
Karena kita nggak pernah tahu, dengan cara apa lagi setan akan menghasut kita?
Zina mata online.
Ya. Aku akan bahas mengenai zina mata di media sosial.
Apakah berkutat dengan media sosial juga termasuk zina mata?
Bagiku, ya.
Sama halnya dengan kehidupan nyata, jika media sosial kita pergunakan untuk melihat sesuatu yang haram, maka itu juga termasuk zina mata.
Bukankah setelah melihatnya timbul syahwat dan rasan keinginan untuk terus melihatnya secara berulang kali?
Dan bagiku, menjaga mata bukan hanya di dunia nyata saja. Di mesia sosial juga harus kita terapkan.
Malu rasanya, saat aku menyadari dulu, kalau dikehidupan nyata aku berusaha untuk menjaga pandanganku. Nyatanya di media sosial aku sibuk mencari-cari ikhwan salih nan teduh dipandang.
Lantas, apa bedanya aku dengan seseorang yang sedang zina mata secara langsung dikehidupan nyata?
Astaghfirullah.
Salah satu temanku pernah merespon begini. "Terkadang heran juga, sih. Ada yang menjaga pandangannya. Tapi suka stalking ikhwan-ikhwan salih di media sosial. Sembari berangan-angan dapat menikah dengan ikhwan salih idamannya itu. Padahal, cukup serahkan saja masa depan pada Allah."
Aku setuju.
Sangat menampar diriku sendiri.
Bukankah jodoh cerminan diri? Lantas ketika kita berandai-andai mendapatkan pasangan yang baik dengan tanpa memperbaiki diri, apakah Allah akan mempertemukan kita dengan sosok yang baik?
Jadi, dari pada sibuk stalking ikhwan salih. Sibuk stalking akhwat salihah, lebih baik kita sibuk memperbaiki diri dalam dunia nyata.
Betapa berharganya diri kita!
Kuharap, aku, dan semua orang yang membaca blog-ku ini, kita semua sama-sama memperbaiki diri karena Allah. Urusan jodoh, rezeki, semoga Allah berikan yang terbaik. Perkuat ikhtiar, dan terus berusaha menjadi yang terbaik, Lillah.
Jadi, jangan beranggapan berkutat dengan media sosial nggak ada dosanya, ya. Kita harus pandai-pandai memilih informasi, pandai bertindak untuk menghindari apa yang seharusnya nggak kita lihat.
Apa pun jenis keburukannya, kuharap kita semua sama-sama menjaga diri dari zina mata online.
Baik untuk laki-laki maupun perempuan. Kumohon, jagalah mata ini dari memandang segala sesuatu yang haram.
Karena segalanya akan diminta pertanggung jawaban oleh-Nya.
Kita sama-sama menjaga diri karena Allah. Kita sama-sama memperbaiki diri karena Allah.
Teruntuk (calon) suamiku, jagalah mata ini dari perbuatan zina. Baik zina secara dunia nyata, maupun zina dalam dunia maya.
Semoga kita dipertemukan dalam hati yang sama-sama menjaga.
Bi idznillah ...
Comments
Post a Comment