Skip to main content

Rindu Nabi

Assalamu'alaikum.

Allahumma sholli 'ala sayyidinaa Muhammad.

Kepada sosok yang selalu merindu.
Kepada sosok yang selalu dirindu.
Nabi Muhammad selalu merindu umatnya.
Dan semoga Nabi Muhammad selalu dirindu umatnya.

Masih pantaskah kami merindu?
Masih pantaskah kami bertemu padamu?
Masih pantaskah kami sesurga bersamamu?
Masih pantaskah kami mengagungkan namamu?

Kepada sosok yang selalu ingin dijumpa.

Pantaskah kami mencintaimu layaknya kamu mencintai umatmu?
Bahkan, kami tak pernah bertemu denganmu, namun sungguh besar cinta yang kamu berikan. Hingga akhir hayatmu, kamu menyebut nama kami.

"Ummatii... Ummatii... Ummatii..."

Pantaskah kami merindu?

Pernahkah kita merindukan Nabi Muhammad?

Sosok suri tauladan kita.

Pernahkah kita berpikir, "apa rasa cintaku pada Nabi Muhammad sudah sebesar rasa cintanya pada umatnya?"

Pernah suatu hari aku amat sangat merindukan sosok beliau. Kuingin rasanya berkunjung ke makam beliau. Mau umrah, hehe. Tapi yang bisa kulakukan saat ini hanya menangis. Menyesali betapa bodohnya aku yang telah lalai akan sunahnya. Sembari merindukan sosoknya yang sebagai kekasih Allah.

Aku ingin bertemu.

Pantaskah aku memimpikanmu?
Sudikah kamu hadir di dalam mimpiku?

Aku selalu berharap.

Sekiranya kamu merindukanku, itu lebih dari cukup.
Sekiranya di surga nanti kita bertemu, itu sungguh membuat bahagia.
Sekiranya kamu mau memandang umatmu ini, menganggapku sebagai salah satu umatmu.

Tapi, sudahkah aku menjadi umatmu yang bertaqwa?
Sudahkah aku menjadi hamba-Nya yang bertaqwa?

Pantaskah aku merindu?

Maafkan aku yang telah mengidolakan orang lain selain dirimu.
Maafkan aku yang telah mencintai orang lain lebih dari cintaku padamu.
Maafkan aku yang telah melupakan akan sunah-sunahmu.
Maafkan aku yang telah lalai akan nasihatmu.
Maafkan aku yang selalu khilaf.
Maafkan aku yang selalu mengulangi kesalahan, bahkan mengulangi maksiat.
Maafkan aku seandainya aku tak pantas menjadi umatmu.

Maafkan aku.

Pantaskah aku merindu padamu?

Izinkanlah aku bertemu denganmu di akhirat nanti.
Sudikanlah kamu memanggil namaku di akhirat nanti.
Rindukanlah aku sebagai umatmu di akhirat nanti.
Maafkanlah atas segala dosa-dosaku.
Berikanlah diriku atas syafaat kenabiaanmu.
Ajaklah aku untuk sesurga denganmu.

Jauh sebelum itu semua, mampirlah suatu hari di dalam mimpiku.

Karena aku sangat merindukanmu يَا مُحَمَّد❤️😍🤗

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Semua Serba Gantian 2

Di era gen z ini, banyak yang pada nikah. Yang belom jemput takdirnya sedikit mencemaskan diri. "Jodoh gue ada gak yaaa?"  Sebenernya topik ini sama aja kayak di part pertama. Tapi akhir-akhir ini, feel-nya tuh lagi mikirin kayak gini mulu. Selain banyak yang nikah, tentunya yang meninggal juga banyak kan. Sama kayak judulnya, 'Semua Serba Gantian'. Sadar gak sadar, tiba-tiba udah menuju 25 tahun.  Katanya, dengan menikah seseorang udah berada di tahap selanjutnya. Nyatanya. Ya kita tetep jalan di tempat. Masih sama di dunia. Bedanya cuma ngejalanin kehidupan bareng orang baru aja.  Karna kenyataannya, yang satu langkah ke depan itu orang-orang yang telah mendahului.  Dari bocil beranjak dewasa. Menikah jadi orang tua. Jadi tua dan tinggal nunggu panggilan aja. Syukur-syukur meninggalnya pas tua, coba kalo pas bocil. Ya jelas. Mereka jadi selangkah lebih maju dari kita.  Tiba-tiba punya keponakan. Banyak. Udah pada gede semua. Sepupu udah pada nikah semua. Gak s...

Tasmik Al-Qur'an di Era Kepenulisan

 Jum'at, 8 Agustus 2 025. Salat Zuhur terakhir di kamar lima. Bertepatan dengan khataman rutinan terakhir pula di kamar lima. Ya. Pagi tadi kamar lima diketuk oleh seseorang. Ustazah ternyata. Bilang kalau kamarnya suruh dirapihin. Mau dipake. seperti biasa aku nyengir, ngangguk sambil bilang iya. Rasa-rasanya sedih sekali (lebay dikit). Sejak pindah ke lantai satu tahun lalu, lorong-lorong jadi tempat persinggahan awal gue buat ngaji ataupun ngelakuin segala hal di atas meja belajar. Sampai akhirnya ngisi kamar-kamar yang kosong, dan sering juga diusir ustazah buat keluar. Gak boleh dipake. Bukan hak kita, katanya. Bukan gue namanya kalo gak nakal dikit, Ya gue gatel lah, tetep masukin kamar kosong yang beloman dikunci. Sampe akhirnya, istikamah-lah kamar lima yang emang gak dikunci kayak kamar-kamar kosong sebelumnya. Walau ujung-ujungnya tiap kali ustazah ke lantai satu pasti selalu di notice, "Mbak, keluar mbak. Gak boleh dipake kamarnya..." bla.. bla.. bla.. Pertama,...

Favorites

Tiap-tiap dari kita (terkhusus penghafal quran) pasti punya ayat favorit. Ayat kesukaan. Punya ayat andalan yang dijadiin penguat dalam kehidupan. Gue juga punya. Tapi pasti penghafal quran lainnya, punya ayat di surah tertentu, yang lafaznya mungkin panjang-panjang. Gue enggak. Mungkin dari anak kecil sampe orang tua hafal ayat favorit gue. Dari penghafal quran bahkan yang awam agama sekalipun, mereka juga hafal ayat kesukaan gue. Ayat yang senantiasa kita ulang tujuh belas kali dalam setiap kali salat wajib. Ditambah kalo ngerjain salat sunah. Ditambah kalo dibaca juga diluar waktu salat. Dua ayat surah Al-Fatihah. اِÙŠَّاكَ Ù†َعْبُدُ ÙˆَاِÙŠَّاكَ Ù†َسْتَعِÙŠْÙ†ُۗ “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” اِÙ‡ْدِÙ†َا الصِّرَاطَ الْÙ…ُسْتَÙ‚ِÙŠْÙ…َۙ “Tunjukilah kami ke jalan yang lurus.” Menurut gue, dua ayat ini sangat mencakup atas segala apa yang kita butuhkan. Sudah jelas, Al-Fatihah induk Al-Qur’an. Dan segala apa yang...