Skip to main content

Sudah Tahu, Kenapa Masih Belagu?

Sudah tahu, kenapa masih sombong?

Allah Subhana Wa Ta'ala telah menciptakan bumi dan seisinya, atas kuasa-Nya.

Allah telah menciptakan semua jenis makhluk hidup atas kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Allah telah ciptakan manusia untuk saling membantu, tolong-menolong, saling menasihati.

Allah telah jadikan Islam sebagai agama yang selamat.

Allah telah mentakdirkan agama Islam sebagai agama yang menempati surga-Nya nanti.

Allah pula yang menciptakan neraka bagi siapa saja yang membangkang atas perintah-Nya.

Mereka yang tidak mempercayai adanya Allah, nerakalah tempat kembalinya.

Mereka yang tidak mengimani adanya malaikat, nerakalah tempat kembalinya.

Mereka yang tidak meyakini adanya nabi dan rasul, nerakalah tempat kembalinya.

Mereka yang tidak peduli dengan kitab-kitab, nerakalah tempat kembalinya.

Mereka yang tidak yakin akan adanya hari akhir, nerakalah tempat kembalinya.

Mereka yang tidak taat pada Allah, nerakalah tempat kembalinya.

Mereka yang suka berbuat kerusakan di muka bumi, nerakalah tempat kembalinya.

Mereka yang ringan melakukan dosa, nerakalah tempat kembalinya.

Siapakah mereka itu?

Ialah mereka yang tidak mengenal Islam.

Ialah mereka yang tidak memilih untuk menjadi orang muslim.

Mereka merasa benar. Itulah jalan mereka yang dianggap sudah betul. Dengan bebas dan tanpa larangan.

Betapa sedihnya mereka.

Andai mereka tahu, akan adanya hari di mana segala amal perbuatan dipertanggung jawabkan. Hari di mana perbuatan baik dan buruk akan diperhitungkan. Hari di mana segala aktifitas di muka bumi akan dipertanyakan.

Andai mereka tahu, agama Islam-lah sebaik-baiknya agama.

Andai mereka tahu.

Ya. Mereka tak tahu itu.

Kita bisa saja dengan mudahnya memberitahu mereka. Namun, hidayah hanyalah milik Allah. Allah-lah yang memberi kepada siapa saja orang yang pantas diberi petunjuk. Kepada siapa saja orang yang pantas diberi tahu kebenaran yang haqiqi.

Andai mereka tahu, niscaya akan ada kerajinannya dalam beribadah, bahkan meninggalkan segala jenis maksiat.

Namun mereka tak tahu.

Biarlah.

"Untukmu agamamu. Untukku agamaku."

Permasalahannya, ada pada diri kita sendiri. Ada pada sang pengaku mengimani agama Islam.

Mari bercermin.

Apakah kita tahu hanya Allah-lah tuhan yang ahad?

Hanya Allah tuhan yang patut kita sembah.

Apakah kita mengimani adanya para malaikat, nabi dan rasul, kitab-kitab?

Apakah kita percaya akan adanya hari akhir?

Apakah kita tahu akan adanya hari perhitungan, hari pertanggung jawaban, hari pembalasan?

Bahkan apakah kita mengetahui adanya surga dan neraka?

Apakah kita mengetahui mana hukum yang baik dan larangan-Nya?

Ya. Kita tahu.

Lantas, mengapa kita masih bermaksiat di bumi-Nya, padahal kita mengetahuinya?

Lantas, mengapa kita lalai dalam beribadah, padahal kita mengetahuinya?

Lantas, mengapa kita seolah tak mempercayai adanya para malaikat yang mencatat segala amal baik dan buruk?

Lantas, mengapa kita seolah tak menjadikan para nabi dan rasul sebagai suri tauladan yang baik?

Lantas, mengapa kita seolah tak meyakini betapa hebatnya kemukjizatan Alquran?

Lantas, mengapa kita lebih mengejar kesibukan dunia?

Lantas, mengapa kita masih berlagak sombong dihadapan makhluk yang lain, padahal kebahagiaan dunia hanyalah sementara?

Kenapa?

Kita tahu mana yang baik dan yang buruk.

Kita tahu, kenapa masih belagu?

Bertingkah seolah mengetahui Allah Maha Pemaaf. Lantas dengan mudahnya bermaksiat dan bisa kapan saja bertaubat.

Bagaimana kalau Allah mencabut nyawa kita sebelum kita bertaubat?

Astaghfirullah ...

Padahal, beruntunglah kita yang sudah terlahir sebagai orang muslim. Beragama Islam. Meyakini adanya tuhan yang ahad, ialah Allah.

Lantas ketika sudah dewasa, sudah tahu, kenapa masih belagu?

Kepada aku yang masih lalai, kuharap Allah tak pernah bosan mendengar kata maaf dari aku yang selalu memohon ampun atas kekhilafan yang selalu aku jalani.

Kepada aku yang masih bermaksiat, kuharap Allah masih setia mendengar kata maaf dari hamba-Nya yang masih ingin bertaubat.

Kepada aku yang masih lupa, kuharap Allah tak pernah bosan intuk mengingatkan hamba-Nya untuk terus kembali ke jalan-Nya.

Semoga Allah selalu memberikan hidayah atas bimbingan-Nya.

Comments

Popular posts from this blog

Semua Serba Gantian 2

Di era gen z ini, banyak yang pada nikah. Yang belom jemput takdirnya sedikit mencemaskan diri. "Jodoh gue ada gak yaaa?"  Sebenernya topik ini sama aja kayak di part pertama. Tapi akhir-akhir ini, feel-nya tuh lagi mikirin kayak gini mulu. Selain banyak yang nikah, tentunya yang meninggal juga banyak kan. Sama kayak judulnya, 'Semua Serba Gantian'. Sadar gak sadar, tiba-tiba udah menuju 25 tahun.  Katanya, dengan menikah seseorang udah berada di tahap selanjutnya. Nyatanya. Ya kita tetep jalan di tempat. Masih sama di dunia. Bedanya cuma ngejalanin kehidupan bareng orang baru aja.  Karna kenyataannya, yang satu langkah ke depan itu orang-orang yang telah mendahului.  Dari bocil beranjak dewasa. Menikah jadi orang tua. Jadi tua dan tinggal nunggu panggilan aja. Syukur-syukur meninggalnya pas tua, coba kalo pas bocil. Ya jelas. Mereka jadi selangkah lebih maju dari kita.  Tiba-tiba punya keponakan. Banyak. Udah pada gede semua. Sepupu udah pada nikah semua. Gak s...

Tasmik Al-Qur'an di Era Kepenulisan

 Jum'at, 8 Agustus 2 025. Salat Zuhur terakhir di kamar lima. Bertepatan dengan khataman rutinan terakhir pula di kamar lima. Ya. Pagi tadi kamar lima diketuk oleh seseorang. Ustazah ternyata. Bilang kalau kamarnya suruh dirapihin. Mau dipake. seperti biasa aku nyengir, ngangguk sambil bilang iya. Rasa-rasanya sedih sekali (lebay dikit). Sejak pindah ke lantai satu tahun lalu, lorong-lorong jadi tempat persinggahan awal gue buat ngaji ataupun ngelakuin segala hal di atas meja belajar. Sampai akhirnya ngisi kamar-kamar yang kosong, dan sering juga diusir ustazah buat keluar. Gak boleh dipake. Bukan hak kita, katanya. Bukan gue namanya kalo gak nakal dikit, Ya gue gatel lah, tetep masukin kamar kosong yang beloman dikunci. Sampe akhirnya, istikamah-lah kamar lima yang emang gak dikunci kayak kamar-kamar kosong sebelumnya. Walau ujung-ujungnya tiap kali ustazah ke lantai satu pasti selalu di notice, "Mbak, keluar mbak. Gak boleh dipake kamarnya..." bla.. bla.. bla.. Pertama,...

Favorites

Tiap-tiap dari kita (terkhusus penghafal quran) pasti punya ayat favorit. Ayat kesukaan. Punya ayat andalan yang dijadiin penguat dalam kehidupan. Gue juga punya. Tapi pasti penghafal quran lainnya, punya ayat di surah tertentu, yang lafaznya mungkin panjang-panjang. Gue enggak. Mungkin dari anak kecil sampe orang tua hafal ayat favorit gue. Dari penghafal quran bahkan yang awam agama sekalipun, mereka juga hafal ayat kesukaan gue. Ayat yang senantiasa kita ulang tujuh belas kali dalam setiap kali salat wajib. Ditambah kalo ngerjain salat sunah. Ditambah kalo dibaca juga diluar waktu salat. Dua ayat surah Al-Fatihah. اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ “Tunjukilah kami ke jalan yang lurus.” Menurut gue, dua ayat ini sangat mencakup atas segala apa yang kita butuhkan. Sudah jelas, Al-Fatihah induk Al-Qur’an. Dan segala apa yang...