Skip to main content

Tips Move On!

Siapa di sini yang masih terpuruk dengan masa lalu?

Nggak bisa masuk sekolah atau kuliah di tempat yang diinginkan.

Belum bisa membahagiakan orang tua.

Belum bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Suka kepikiran mantan.

Gebetan punya pacar baru.

Ranking menurun.

Gagal berprestasi.

Dan segala jenis keterpurukan lainnya yang belum bisa membuat diri kita bangkit dari kegagalan.

Di sini, aku pengin berbagi tips-ku dalam merayakan kenangan.

Sebenarnya aku sendiri juga masih suka terpuruk dan merasa masih dihantui dengan masa lalu; yang buruk. Namun setidaknya ada banyak usaha yang aku lakukan agar aku bisa bangkit dan moving up.

Pertama, ingat tujuan dari terlahirnya aku di bumi ini. Karena siapa? Untuk siapa? Karena Allah dan untuk Allah.

Kedua, ingat Allah. Ingatlah selalu ada Allah yang nggak pernah meninggalkan aku seorang diri. Allah selalu bersama dengan orang-orang yang ingin dekat dengannya.

Kalau kita beranggapan Allah itu nggak peduli, tentu kitalah yang ternyata jauh dari Allah.

Karena Allah selalu ada dan dekat dengan hamba-Nya. Kepada siapa saja hamba-Nya yang berharap dan meminta, pasti Allah kabulkan.

Ketiga, ingat jasa kedua orang tua. Alasan aku dibesarkan disekolahkan ialah untuk kesuksesan aku sendiri. Dan aku harus membanggakan kedua orang tua. Mau menuntut ilmu di mana pun itu, kuncinya harus sabar dan bersungguh-sungguh.

Karena sabar juga menjadi salah satu kunci keberhasilan.

Keempat. Ingatlah, masih banyak orang yang sayang sama aku. Dari ratusan orang yang membenci, masih ada jutaan orang yang menyayangi. Masih banyak orang yang peduli dan menasihatiku agar kuat dalam menjalani kehidupan.

Kita bisa sukses bareng-bareng walau dengan cara yang berbeda.

Karena hidup nggak melulu tentang cinta dengan lawan jenis saja.

Dengan memiliki banyak teman dan sahabat, semua bisa lebih indah. Banyak yang merangkul dan menemani. Ingatlah, kita nggak sendirian hidup di bumi.

Kelima, buktikan dan yakin pada diri sendiri kalau aku mampu bangkit dari keterpurukan. Mampu menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Aku mampu sukses dengan caraku sendiri.

Keenam, jangan iri dengan orang-orang sekitar.

Di saat yang lain bisa bahagia ke sana kemari, jangan membuat diri kita merasa lemah nggak bisa apa-apa, nggak bisa ke mana-mana. Ingat, kita belajar saja dengan sungguh-sungguh terlebih dahulu. Gunakan usaha kita semaksimal mungkin.

Bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian. Allah senantiasa memberikan balasan dari apa yang hamba-Nya usahakan.

Ketujuh, keluar dari zona nyaman.

Pengin move on dari masa lalu, jangan terus-menerus berlarut dalam masa lalu. Pengin move on dari zamannya keburukan, jangan terus berkubang dalam ruang lingkup yang buruk. Pengin move on dari rasa malas, bangkitlah, bangun dari zona nyaman untuk tidak berlarut dalam berleha-leha saja.

Kalau kita diam saja, kapan majunya?

Kedelapan, jadikan tujuan itu sebagai priorotas.

Pengin menjadi pribadi yang lebih baik lagi, tingkatkan ibadah dan selalu mengutamakannya. Pengin menjadi penghafal Alquran mutkin, jadikan Alquran selalu menjadi pedoman dalam kehidupan. Pengin menjadi dokter, jadikan belajar sebagai prioritas dalam kehidupan sehari-hari. Pengin menjadi penulis, sering-seringlah membaca dan menulis banyak kata.

Kesembilan, berdoa.

Ikhlas, sabar, yakin; bahwa Allah Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan.

Kesepuluh, tawakkal.

Kita serahkan segala usaha dan pengharapan kita hanya karena Allah. Apa pun hasil-Nya ialah yang terbaik untuk kita.

Niatkan move on kita sebagai bukti seorang hamba yang ingin lebih dekat dengan tuhannya. Sebagai bukti bahwa kita lebih membutuhkan Allah daripada apa pun. Sebagai bukti bahwa kita hanyalah hamba yang lemah. Tiada daya dan upaya selain dari-Nya.

Hanya kepada Allah kita menangis, bersandar, mengeluh. Mengadu memohon agar kita bisa bangkit dari keterpurukan. Memohon agar kita bisa move on dari masa lalu yang buruk. Agar segala apa yang telah terjadi dalam kehidupan kita, dapat menjadi pengalaman dan pembelajaran di kemudian hari.

Semoga hidup kita menjadi lebih baik ketika move on. Semoga hidup kita menjadi lebih bermakna setelah bangkit dari kegagalan. Semoga hidup kita lebih bahagia setelah lebih mendekat kepada-Nya.

Salam bangkit dari zona nyaman,

Aku.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Semua Serba Gantian 2

Di era gen z ini, banyak yang pada nikah. Yang belom jemput takdirnya sedikit mencemaskan diri. "Jodoh gue ada gak yaaa?"  Sebenernya topik ini sama aja kayak di part pertama. Tapi akhir-akhir ini, feel-nya tuh lagi mikirin kayak gini mulu. Selain banyak yang nikah, tentunya yang meninggal juga banyak kan. Sama kayak judulnya, 'Semua Serba Gantian'. Sadar gak sadar, tiba-tiba udah menuju 25 tahun.  Katanya, dengan menikah seseorang udah berada di tahap selanjutnya. Nyatanya. Ya kita tetep jalan di tempat. Masih sama di dunia. Bedanya cuma ngejalanin kehidupan bareng orang baru aja.  Karna kenyataannya, yang satu langkah ke depan itu orang-orang yang telah mendahului.  Dari bocil beranjak dewasa. Menikah jadi orang tua. Jadi tua dan tinggal nunggu panggilan aja. Syukur-syukur meninggalnya pas tua, coba kalo pas bocil. Ya jelas. Mereka jadi selangkah lebih maju dari kita.  Tiba-tiba punya keponakan. Banyak. Udah pada gede semua. Sepupu udah pada nikah semua. Gak s...

Tasmik Al-Qur'an di Era Kepenulisan

 Jum'at, 8 Agustus 2 025. Salat Zuhur terakhir di kamar lima. Bertepatan dengan khataman rutinan terakhir pula di kamar lima. Ya. Pagi tadi kamar lima diketuk oleh seseorang. Ustazah ternyata. Bilang kalau kamarnya suruh dirapihin. Mau dipake. seperti biasa aku nyengir, ngangguk sambil bilang iya. Rasa-rasanya sedih sekali (lebay dikit). Sejak pindah ke lantai satu tahun lalu, lorong-lorong jadi tempat persinggahan awal gue buat ngaji ataupun ngelakuin segala hal di atas meja belajar. Sampai akhirnya ngisi kamar-kamar yang kosong, dan sering juga diusir ustazah buat keluar. Gak boleh dipake. Bukan hak kita, katanya. Bukan gue namanya kalo gak nakal dikit, Ya gue gatel lah, tetep masukin kamar kosong yang beloman dikunci. Sampe akhirnya, istikamah-lah kamar lima yang emang gak dikunci kayak kamar-kamar kosong sebelumnya. Walau ujung-ujungnya tiap kali ustazah ke lantai satu pasti selalu di notice, "Mbak, keluar mbak. Gak boleh dipake kamarnya..." bla.. bla.. bla.. Pertama,...

Favorites

Tiap-tiap dari kita (terkhusus penghafal quran) pasti punya ayat favorit. Ayat kesukaan. Punya ayat andalan yang dijadiin penguat dalam kehidupan. Gue juga punya. Tapi pasti penghafal quran lainnya, punya ayat di surah tertentu, yang lafaznya mungkin panjang-panjang. Gue enggak. Mungkin dari anak kecil sampe orang tua hafal ayat favorit gue. Dari penghafal quran bahkan yang awam agama sekalipun, mereka juga hafal ayat kesukaan gue. Ayat yang senantiasa kita ulang tujuh belas kali dalam setiap kali salat wajib. Ditambah kalo ngerjain salat sunah. Ditambah kalo dibaca juga diluar waktu salat. Dua ayat surah Al-Fatihah. اِÙŠَّاكَ Ù†َعْبُدُ ÙˆَاِÙŠَّاكَ Ù†َسْتَعِÙŠْÙ†ُۗ “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” اِÙ‡ْدِÙ†َا الصِّرَاطَ الْÙ…ُسْتَÙ‚ِÙŠْÙ…َۙ “Tunjukilah kami ke jalan yang lurus.” Menurut gue, dua ayat ini sangat mencakup atas segala apa yang kita butuhkan. Sudah jelas, Al-Fatihah induk Al-Qur’an. Dan segala apa yang...