Skip to main content

Mengingat Kematian

Saat hati terasa bahagia
Seolah semesta mendukung kita
Saat dunia terasa milik sendiri
Sehingga tak perlu ada orang yang peduli

Pernahkah kita mengingat hari akhir?
Hari di mana kita akan merasa sendiri
Ya. Memang hari di mana kita akan sendiri
Dalam sepi

Pernahkah kita mengingat hari akhir?
Hari di mana kita menutupkan mata
Untuk selamanya
Saat ajal tiba

Saat sepi, pernahkah kita mengingat kematian?
Karena, setiap yang bernyawa pasti akan mengalami kematian. Entah kapan pun itu. Dan pasti.

Saat sendiri, pernahkah kita mengingat dosa?
Karena setiap manusia miliki salah dan khilaf. Jadi mohon ampunlah, pada-Nya.

Saat sunyi, pernahkah kita mengingat-Nya?
Karena nanti, dikala waktunya tiba, akan ada saatnya kita bertemu dengan Yang Maha Pencipta. Sudahkah kita mempersiapkan?

Ingatlah hari akhir. Hari di mata tak ada yang bisa menolong kita. Hari terakhir kita tidur dalam kesendirian. Hari di mana kita kembali menjadi tanah, bersama tumpukan tanah. Hari di mana saat nama kita tertulis dalam batu nisan. Hari di mana kita menyesali segala perbuatan sia-sia selama di dunia. Hari di mana kita mendapatkan balasan, siksa atas kebodohan yang kita jalani dulu.

Semoga saja, Allah berikan ketenangan. Allah berikan rasa aman. Allah berikan kekuatan. Allah berikan syafaat-Nya. Allah berikan cahaya-Nya. Di hari yang penuh kegelapan di dalam kubur. Semoga kita dapat tidur dengan lelap tanpa ada yang mengganggu. Hingga yaumul hisab datang. Allah berikan kesejukan. Gambaran surga-surga yang indah, dengan keabadian.

Tak perlu takut sendiri. Jangan takut dengan kematian. Berbahagialah, kita akan bertemu Allah. Berbahagialah, sudah saatnya kita menyelesaikan tugas dari dunia, untuk menuju surga-Nya. Percayalah, akan janji-janji surga yang nyata.

Semoga kita dapat melaksanakannya. Segala perintah dan larangannya.

Semoga Allah jadikan kita meninggal dalam keadaan husnul khotimah ♥♥♥

Comments

Popular posts from this blog

Semua Serba Gantian 2

Di era gen z ini, banyak yang pada nikah. Yang belom jemput takdirnya sedikit mencemaskan diri. "Jodoh gue ada gak yaaa?"  Sebenernya topik ini sama aja kayak di part pertama. Tapi akhir-akhir ini, feel-nya tuh lagi mikirin kayak gini mulu. Selain banyak yang nikah, tentunya yang meninggal juga banyak kan. Sama kayak judulnya, 'Semua Serba Gantian'. Sadar gak sadar, tiba-tiba udah menuju 25 tahun.  Katanya, dengan menikah seseorang udah berada di tahap selanjutnya. Nyatanya. Ya kita tetep jalan di tempat. Masih sama di dunia. Bedanya cuma ngejalanin kehidupan bareng orang baru aja.  Karna kenyataannya, yang satu langkah ke depan itu orang-orang yang telah mendahului.  Dari bocil beranjak dewasa. Menikah jadi orang tua. Jadi tua dan tinggal nunggu panggilan aja. Syukur-syukur meninggalnya pas tua, coba kalo pas bocil. Ya jelas. Mereka jadi selangkah lebih maju dari kita.  Tiba-tiba punya keponakan. Banyak. Udah pada gede semua. Sepupu udah pada nikah semua. Gak s...

Tasmik Al-Qur'an di Era Kepenulisan

 Jum'at, 8 Agustus 2 025. Salat Zuhur terakhir di kamar lima. Bertepatan dengan khataman rutinan terakhir pula di kamar lima. Ya. Pagi tadi kamar lima diketuk oleh seseorang. Ustazah ternyata. Bilang kalau kamarnya suruh dirapihin. Mau dipake. seperti biasa aku nyengir, ngangguk sambil bilang iya. Rasa-rasanya sedih sekali (lebay dikit). Sejak pindah ke lantai satu tahun lalu, lorong-lorong jadi tempat persinggahan awal gue buat ngaji ataupun ngelakuin segala hal di atas meja belajar. Sampai akhirnya ngisi kamar-kamar yang kosong, dan sering juga diusir ustazah buat keluar. Gak boleh dipake. Bukan hak kita, katanya. Bukan gue namanya kalo gak nakal dikit, Ya gue gatel lah, tetep masukin kamar kosong yang beloman dikunci. Sampe akhirnya, istikamah-lah kamar lima yang emang gak dikunci kayak kamar-kamar kosong sebelumnya. Walau ujung-ujungnya tiap kali ustazah ke lantai satu pasti selalu di notice, "Mbak, keluar mbak. Gak boleh dipake kamarnya..." bla.. bla.. bla.. Pertama,...

Favorites

Tiap-tiap dari kita (terkhusus penghafal quran) pasti punya ayat favorit. Ayat kesukaan. Punya ayat andalan yang dijadiin penguat dalam kehidupan. Gue juga punya. Tapi pasti penghafal quran lainnya, punya ayat di surah tertentu, yang lafaznya mungkin panjang-panjang. Gue enggak. Mungkin dari anak kecil sampe orang tua hafal ayat favorit gue. Dari penghafal quran bahkan yang awam agama sekalipun, mereka juga hafal ayat kesukaan gue. Ayat yang senantiasa kita ulang tujuh belas kali dalam setiap kali salat wajib. Ditambah kalo ngerjain salat sunah. Ditambah kalo dibaca juga diluar waktu salat. Dua ayat surah Al-Fatihah. اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ “Tunjukilah kami ke jalan yang lurus.” Menurut gue, dua ayat ini sangat mencakup atas segala apa yang kita butuhkan. Sudah jelas, Al-Fatihah induk Al-Qur’an. Dan segala apa yang...