Salahkah kita memilih teman?
Ada yang bilang begini, "Kalau kita menemui seorang penjual minyak Wangi, walaupun kita nggak beli minyak wanginya, baunya pun akan ikut tercium pula pada diri kita. Begitupun dengan tukang besi. Tahu bau besi kan? Kalau kita dekat dengannya, walau kita hanya sekedar singgah, pasti bau besi pun juga ikut tercium pada diri kita."
Sama halnya dengan sebuah pertemanan. Di dalam Islam memang mengajarkan kalau sepatutnya kita berteman dengan orang-orang yang salih.
Menurut pengalamanku, penjelasan dari agama kita memang benar adanya.
Aku punya kisah, di mana saat aku berteman dengan orang-orang yang akhlaknya kurang baik. Mungkin tanpa aku sadari, aku ikut berlarut dalam sebuah kenakalan. Dan aku menikmatinya. Merasa bahwa hidup itu harus bebas, tanpa perlu aturan dan nasihat.
Alhamdulillah, aku merasa diberi kesempatan oleh Allah dengan yang namanya perubahan. Suatu perubahan buruk menjadi baik.
Saat di mana aku menyadari kalau apa yang selama ini aku lakukan adalah salah. Saat di mana aku menganggap hidup adalah kebebasan itu salah.
Berpikirlah, kita terlahir dari agama yang memiliki hukum. Sumber hukum yang tertulis pada Alquran dan Hadist. Begitupun dengan negara kita yang memiliki aturan hukum berdasarkan UUD dan juga Pancasila. Apa pun itu agama kita, apa pun itu negara kita, semuanya pasti memiliki aturan.
Dan setiap orang pun memiliki aturan yang berbeda-beda. Tergantung pada jenis kalangannya. Anak-anak yang memiliki aturan pada orang tua dan guru misalnya.
Coba bayangkan, bagaimana jadinya kalau kita yang hidup di dunia ini tanpa aturan? Banyak orang yang semena-mena melakukan tindakan kriminal, kekerasan, dengan alasan bahwa hidup ini adalah kebebasan. Seram, bukan?
Begitu pun dalam pergaulan. Namun jangan berasumsi bahwa, "Wah, dia bukan orang baik, nih. Jangan main sama dia." atau "Nah dia kelihatannya orang baik, nih. Mainnya sama dia saja, ah."
Namun pada dasarnya kita nggak boleh memilih-milih teman. Dengan siapa saja kita boleh bergaul. Asal tahu aturan. Bagaimana aturan bergaul dengan lawan jenis dan yang lainnya. Dalam bergaul kita ditekankan untuk tidak meniru pergaulan yang buruknya.
Kita tahu bagaimana cara berteman baik dengan orang-orang yang mungkin akhlaknya kurang baik. Kita bisa mengajaknya untuk sama-sama memperbaiki diri. Kita juga tahu bagaimana cara berteman baik dengan orang-orang yang mungkin akhlaknya sudah lebih baik daripada kita. Kita bisa ikut membiasakan hal-hal baik seperti kebiasaan yang mereka lakukan.
Tanpa adanya saling judge. Karena manusia tak luput dari kesalahan. Kalau kita menghina orang itu buruk, apa bedanya kita dengan orang yang buruk itu?
Jadi, dalam pergaulan yang ada hanyalah saling berlomba dalam kebaikan. Saling mengingatkan kesalahan dan menasihati untuk kebenaran. Jangan pernah mencari-cari keburukan orang lain.
Begitu pun saat bergaul, karena akhlak kita pun dilihat dari dengan siapa kita bergaul. Dan itu memang benar-benar sangat mempengaruhi. Di zaman sekarang ini, yang orang-orang lihat hanya sekedar dari penglihatannya saja, nggak mencari tahu dari sumbernya langsung.
Begitu pun dengan seseorang yang melihat kita berteman dengan orang baik, beranggapan bahwa, "Eh dia sudah berubah jadi orang baik, tuh." atau, "Eh dia mainnya sama anak yang nggak benar, berarti dia juga nggak benar, dong."
Jadi pada intinya, pintar-pintarlah dalam bergaul. Tahu mana yang baik, dan mana yang buruk. Tahu mana yang wajib diteladani, dan mana yang nggak perlu ditiru.
Karena yang seharusnya kita lakukan adalah, "Selalu mengingat kebaikan orang lain, tanpa perlu mengingat kebaikan kita sendiri. Dan selalu mengingat kesalahan kita sendiri, tanpa perlu mengingat kesalahan orang lain."
Wish you have a good friend!
Comments
Post a Comment