Skip to main content

Posts

Showing posts from 2024

Aku, Al-Qur’an dan Al-Hikam

  Bismillahirrahmanirrahim. Akhirnya, yang selama ini gue pendam di dalam hati gue tuangkan juga. Ini versi singkatnya dulu, sebelum nantinya gue ketik buat dijadiin buku, Insya Allah kalo gak mager ngetik. Cerita ini gue tuang tepat di hari pertama umur gue 23. Biar apa? Entahlah, biar lebih sadar aja selama hidup di dunia udah ngapain, haha, gak nyambung. Sedari dulu, gue selalu ikut-ikut Encis, dan Diba (Sarah enggak, karna dulu SD-SMA gak sedeket Encis dan Diba). Gue dikenalin dan diajakin nonton film aksi, Iko Uwais di laptop Encis. Sering juga nontonin Malam Minggu Miko-nya Raditya Dika. Waktu SD pun gue disodorin film barbie, Hollywood, Bollywood, kartun, sama Diba. Jadi, jangan heran kalo sampe sekarang yang gue suka tonton se-random itu. Seputar itu. Tapi gak horror dan drakor. Suka nulis? Kayaknya dari mama, deh. Mama juga suka nulis waktu mudanya. Ditambah Encis yang juga suka beli buku, ke gramed bareng dan mau jadi penulis. Lagi-lagi gue ikutan juga. Suka minjem ...

Katanya Penguat(?)

Selain di tengah hiruk pikuk banyaknya pernikahan, persoalan kekerasan dalam rumah tangga pun gak kalah banyaknya. Yang pastinya, itu banyak buat kita yang belum menikah menjadi takut untuk menikah. Jujur, sering kali aku mikir buat takut nikah. Bukan karena belum siap. Untuk perkara menikah, tak perlu menunggu siap atau belum siap. Karena menurutku, kalau memang sudah jodohnya, mau gak mau kita semua harus siap. Yang awalnya gabisa, seiring berjalannya waktu, kita semua akan di dewasa kan oleh keadaan. Gabisa masak sekali pun, kalau sudah menjadi adat kebiasaan dalam berumah tangga, tentu akan bisa nantinya. Gabisa urus anak, urus keuangan keluarga. Karena keadaan yang menuntut, semua akan berjalan, berproses menjadi bisa. Baik belajar menjadi suami, atau istri. Bahkan aku sering berandai jika nantinya aku berumah tangga dalam kondisi yang tidak enak, seperti serba kekurangan, dll. Apakah aku mampu menjadi istri yang sabar, lapang dada menerima segala apa yang diberikan suami. Apakah ...

Stay Private!

Terlahir sebagai manusia tentu memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Sebagai manusia pun harus menutupi dan saling melengkapi kekurangan orang di sekitarnya. Seorang suami melengkapi kekurangan istri. Orang tua yang melengkapi kekurangan anak-anaknya. Seorang kakak yang melengkapi kekurangan adiknya. Kekurangan antar teman dan lain sebagainya. Setiap orang tentu malu kalau kekurangan menjadikan dirinya menjadi sosok yang terbatas dan dijauhi oleh orang sekitar. Peran kita sebagai sesama manusia tentu harus saling menutupi. Di sini gue pengin certain apa yang pernah jadi pengalaman hidup gue selama ini. Tentu gue juga bukan manusia yang sempurna, gue banyak salah dan kurangnya. Sebagai makhluk sosial, tentu kita pernah saling berbagi pengalaman hidup. Di sini, gue tipe orang yang Sukanya nyimak aja, ketimbang jadi orang yang aktif bicara. Gue gabakal mulai cerita kalau gak di tanya. Sering terjadi ketika di mana temen-temen gue bercerita tentang permasalahan hidupnya...

(Hikmah) Ketumpahan Bekas Makan

Assalamualaikum warahmah Dengan hormat kami mengundang seluruh: 1. Ustadz/ustadzah 2. Santri/santriwati 3. Karyawan Al-Hikam termasuk masjid 4. Keluarga zawiyah 4. Keluarga bedeng 5. Keluarga dapur 6. Keluarga market 7. Karyawan masjid Untuk hadir dalam syukuran haji pada: Hari: Senin, 1 Juli 2024 Waktu: 16.00 Tempat: Ndalem Abah Hasyim Demikian, atas waktunya kami ucapkan terima kasih. Muhammad Yusron Shidqi & Keluarga Pesan pagi tadi kembali mengingatkan gue akan perkumpulan yang juga dibahas Ning Syifa kemarin siang di ndalem . Siang menjelang sore, baru mulai UAS Kritik Tafsir Hadits usai ikut ngaji Kiai Marwazie di masjid. Pulang ujian, karena laper banget, gue, Amin, dan Nadisa beli makan. Karena inget nanti mau ngumpul, kita beli nasi satu bungkus aja makan bareng.  Selesai makan, kita dateng telat ke ndalem . Gus Yus udah mulai sambutan. Kita menyimak. Rangakaian acara usai. Makan-makan.  Selesai makan (lagi), bergantian santri keluar dari ndalem buat balik ke as...

(IN)SECURE

Teruntuk seseorang yang (selalu) tidak percaya diri. Sering kali kita merasa tidak sesempurna orang lain. Merasa diri sendiri tidak aman. Ya. Insecure namanya. Insecure adalah perasaan ragu, cemas dan kurang percaya diri yang salah satunya dapat menyebabkan seseorang menjadi tidak berkembang. Setiap orang pasti pernah merasa insecure . Bahkan aku sendiri pun sering merasa tidak layak berada di lingkungan banyak orang. Merasa tidak memenuhi standar bagi kebanyakan orang. Merasa tidak memiliki finansial yang bagus. Merasa bukan siapa-siapa. Merasa tidak berguna bagi siapa pun. Sering kali aku merasa tidak layak untuk dicintai. Sering kali pula aku merasa tidak pantas, merasa malu karena tidak ada yang bisa dibanggakan terhadap diriku. Teruntuk seseorang yang selalu tidak percaya diri. Hadirnya rasa tidak pantas ialah karena kita melihat sisi kekurangan yang ada pada diri. Sibuk membandingkan apa yang tidak kita miliki seperti kebanyakan orang. Cemas merutuk diri akan segala kekurangan ...

Eid Day Nine

Kamis, 18 April. Lebaran hari kesembilan. Rumah gue kedatengan tante gue dan anaknya (sepupu). Sebenernya hari pertama pun udah ketemu. Tapi ya gitu, kek kudu saling datengin rumah ke rumahlah intinya. Singkat cerita, sepupu gue ini kan udah punya anak ya (emang udah ibu-ibu juga). Dia baru aja berkunjung jenguk anaknya yang baru aja lulus S2 di Jepang.  Aba gue nanya-nanya keadaan di Jepang, gimana perlakuan warga Jepang ke orang Indonesia, dll. Dengan sangat semangat sepupu gue ini bercerita kalau warga Jepang itu sangat baik. Walau dulu menjadi salah satu negara yang menjajah Indonesia, tapi di zaman sekarang gak demikian. Di sana banyak memfasilitasi beasiswa untuk orang yang mau nuntut ilmu.  "Bahkan, di sana kan umat yang gak beragama ya, tapi justru sangat nerapin hukum Islam." Tuturnya. Orangnya rapih. Disiplin. Bersih. "Kalau misalnya kita makan di restoran, kalau buat nge-tag tempat nih, kita ninggalin aja hape kita. Kayak gitu udah kayak nge-tag tempat, dan It...

Eid Day Two

 Kamis, 11 April 2024 menjadi hari kedua merayakan Idul Fitri.  Seperti biasanya, hari kedua ikut keliling ke keluarga aba, yang bahkan sampe sekarang pun aku gapernah tau silsilah keluarga besar sendiri, baik dari aba maupun mama huhu parah banget. Maklum, orang Betawi kebanyakan personil, semuanya kesebut sodara. Kita pergi ke enam tempat. Lupa urutannya apa aja; Tebet, Kebun Jeruk, Cibubur, Cijantung, Condet, lupa satu lagi ke mana.  Kita mengunjungi dua rumah yang pemiliknya sedang sakit. Pertama, sempat stroke kalau gak salah. Kita kirim Fatihah dan turut sedih. Semoga Allah gugurkan segala dosanya dan diangkat penyakitnya serta diberikan kesabaran yang luas. Kedua, kita berniat tujuan akhir itu ke Condet, memang si pemilik rumah belum lama selesai masa operasi, Baru setengah perjalanan menuju Condet, WA tanteku berbunyi, notifikasi grup isinya. Mengabarkan si pemilik rumah yang ingin kita kunjungi di Condet ini telah meninggal dunia. Innalillahi wa Innaa Ilaihi Raaj...

Bintang Satu!

Bintang satu untuk: 1. Cowok perokok Katanya kalo gak ngerokok gak keren? Kata siapa sih? Padahal udah jelas-jelas iklannya sendiri bilang kalo ngerokok membunuhmu, ngerokok dapat menyebabkan penyakit ... Letak kerennya di mana?  Malahan ada artis pemain film udah bapak-bapak yang istrinya meninggal gara-gara kena penyakit apa gitu lupa, itu penyebabnya karena sering ngehirup asap rokok suaminya. Si artis itu buat pernyataan menyesal karena udah jadi sosok suami perokok buat keluarganya dan nasihatin kita yang nonton semoga gangalamin hal yang sama kayak dia. So , dari pada duitnya buat beli rokok, mending buat ditabung, persiapan buat nikah, atau buat kebutuhan istri dan anak, buat umrah, buat modal dagang atau apalah. Bisa digunain yang lebih bermanfaat dan atau bisa buat jariyah. 2. Cowok nongkrong gak jelas Emang sebagian laki-laki menjadikan nongkrong sebagai me time -nya yang katanya supaya sedikit terbebas dari permasalahan hidup. Boleh-boleh aja sih. Tapi bintang satu buat ...

Menulis = Berdoa

Mengeluh ialah sebagai bukti kalo kita gak nerima takdir yang Allah tetapkan. Merasa gak mampu atau gak suka sama apa yang telah terjadi. Tapi pernah gak sih kita mikir, kalo apa yang udah terjadi saat ini barangkali adalah harapan yang dulu selalu kita panjatkan? Temen-temen gue dari MTs dan MA pasti udah hafal banget kalo gue suka nulis. Ya, nulis diary sih lebih tepatnya. Every day and every condition , setiap momen gue tulis di buku diary. Tentu kalian semua juga pasti gak asing kan dengan nasihat-nasihat perihal berbicara yang baik-baik, atau banyak-banyak afirmasi, karena bakalan jadi doa. Bakalan terkabul.  Nah, begitu juga dengan tulisan. Makanya, di blog ini gue buat judul kalo menulis itu sama kayak berbicara dan sama dengan berdoa. Ketika kita nulis, otomatis hati kita turut berkata, merangkai kata yang pengin kita tuang ke dalam tulisan. Gue sering banget curhat curhat menceritakan segala kondisi yang lagi gue alamin saat itu. Trus, di paragraf terakhir pasti selalu gue...

Ada Yang Datang, Tanpa Diundang

Bicara tentang cinta emang gapernah ada abisnya. Apalagi kalo tentang lawan jenis. Nah, di part ini gue pengin curhat apa yang pernah gue alamin. Pasti kita semua sering denger istilah ' Love at First Sight '? Apakah kalian percaya sama jatuh cinta pada pandangan pertama? Sebagian orang bilang gapercaya, karna emang logikanya gamasuk sih. Masa iya baru ngeliat sekali, langsung cinta? Sedangkan buat nimbulin rasa aja kan kudu berhari-hari atau bahkan berbulan-bulan buat memastikan apakah kita suka sama orang itu atau enggak. Ditambah, gue pernah dapet suatu pengakuan dari orang. Dia bilang, "Cinta pada pandangan pertama itu bullshit."  Namun sebagian orang lain juga percaya. Termasuk gue. Sebenernya emang bukan cinta sih istilahnya. Menurut gue, adanya rasa 'sreg' atau 'tertarik' pada pandangan pertama yang buat kita tuh penasaran ke tahap-tahap selanjutnya. Jadilah, kita jatuh cinta. Nah, makanya disebut cinta pandang pertama.  Nah, momen ini pernah gu...

Makna 'Setara'

Sebagian dari kita pasti sudah tidak asing lagi dengan quote nasihat yang sering muncul di berbagai sosial media mengenai, "Carilah pasangan yang setara." Dalam quote yang beredar menjelaskan bahwa memilih pasangan yang setara bermaksud agar: 1. Sikap perhatian kita nggak dianggap obsesi 2. Cemburunya kita nggak dianggap berlebihan 3. Sedihnya kita nggak dianggap beban, dan masih banyak hal-hal lain yang disetarakan. Kalau dipikir-pikir, tahap-tahap yang harus dipersiapkan saat menjalani pernikahan nanti semakin banyak, bukan? Kenapa? Kini, maraknya prosentasi perceraian di Indonesia, menyebabkan seseorang harus semakin memilih calon pasangannya dengan amat sangat benar. Ketika banyaknya berita perceraian, membuat seseorang yang belum menikah menjadi takut untuk membangun rumah tangga bersama. Akhirnya, banyak orang yang men-detailkan secara khusus, harus 'setara' yang seperti apa dalam menjalani hubungan pernikahan. Seperti yang telah kita ketahui, ada empat kriteri...

Temui, Sebelum Pergi

Pertemuan ialah suatu hal yang sangat menyenangkan. Apalagi ketika menyadari sosok yang ingin kita temui adalah orang yang sangat dicintai.  Pada blog gue kali ini, gue cuma pengin cerita aja, semoga bisa diambil manfaatnya. Gue sangat suka kalau berkunjung ke rumah saudara, tante, om, dan keluarga besar lainnya. Sembari berkunjung, gue mengabadikan setiap momen, perjalanan, sekeliling yang gue lewatin dalam ingatan. Mengingat dulu waktu kecil gue pernah ke sini, pernah bermain di sini, gue mengenang semuanya. Terlebih gue yang sudah nggak tinggal di Jakarta lagi. Gue amat sangat senang ketika ada acara kumpul keluarga seperti arisan atau kumpul-kumpul biasa. Karena kebanyakan dari kita, kalau sudah dewasa, sudah malas untuk ikut kumpul bareng keluarga besar. Mereka lebih memilih kumpul bersama teman ketimbang 'say hello' dengan keluarga besar sendiri. Menurut gue, mungkin mereka malas karena biasanya banyak dari keluarga besar yang bertanya, "Sudah bisa apa?", ...